Blog

Blog

Thursday, August 12, 2010

Puasa: Panasea atau Plasebo

Oleh IRA MUSMIRAH

BERPUASA di bulan suci Ramadan sangat berperan penting bagi pembentukan kepribadian manusia yang adiluhung. Puasa memberikan sumbangsih sangat besar bagi perubahan kehidupan yang konstruktif dan dinamis.

Puasa tidak semata menjadi kewajiban agama an sich. Persoalannya adalah acapkali puasa yang dijalani tidak mampu melakukan perubahan diri kepada manusia, sebab puasa hanya dimaknai sebagai plasebo. Dengan kata lain, itu adalah ritualitas yang sangat kering makna sangat mendasar mengenai arti sebuah kepedulian sosial.
Realitas sosial menyebutkan bahwa banyak kalangan masyarakat baik di kota maupun desa, menjalani puasa sebagai tanggung jawab karena beragama Islam. Tidak ada satu keseriusan sangat tinggi bahwa puasa merupakan panggilan nurani kemanusiaan untuk ikut memikirkan kehidupan yang miskin.

Akhirnya, puasa yang dilalui sangat hampa nilai dan niat tulus bagi kehidupan bersama. Puasa hanyalah sebuah aktivitas yang dipandang sangat tanpa beban sosial. Puasa kemudian merupakan satu kegiatan yang benar-benar terhempas dalam hilangnya perwujudan kemanusiaan yang dibungkus dengan maksud teologis. Oleh karenanya, berpuasa menjadi satu ketidakjelasan dalam menentukan tujuan dari berpuasa itu sendiri. Imbasnya, puasa hanya sebatas simbolik yang tidak memiliki substansi dan esensi.

Bila puasa sejatinya diperintahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa demi membersihkan diri segala bentuk penyakit sosial, seperti congkak, sombong, angkuh, dan sejenisnya, itu pun menjadi gagal dilaksanakan secara nyata. Seolah puasa kemudian kehilangan akar keilahiannya yang kemudian membawa kepada satu aktivitas yang kosong makna perubahan menuju kebaikan keumatan. Ini secara tegas merupakan ironi. Ternyata, puasa telah mengalami pergeseran nilai dan makna yang kemudian menanggalkan tujuan-tujuan kemaslahatan.

Puasa telah mengalami pengerdilan dan penciutan maksud secara teologis dan sosial. Ketika ini menjadi satu keniscayaan tak terbantahkan, berharap sangat teguh dan kokoh agar bisa melahirkan aktivitas berpuasa yang merekonstruksi diri manusia supaya menjadi makhluk-mahkluk yang peduli dan prihatin kepada kepentingan bersama, ini ibarat menegakkan benang basah. Hal demikian tidak akan mungkin yang terjadi. Justru, yang terjadi sebaliknya adalah puasa tinggal kulit luarnya saja sedangkan isi sebagai hal paling diharapkan dalam kehidupan lebih nyata sangat jauh dari harapan ideal untuk dipraksiskan. Padahal, Allah SWT mewajibkan kepada hamba-hamba-Nya agar berpuasa di bulan Ramadan ini bukan semata demi menunaikan ibadah karena itu wajib sebab merupakan salah satu rukun Islam.

Dalam konteks ini, berpuasa bertujuan agar umat bisa melebarkan pandangan dan pikirannya, sehingga menjadi sosok-sosok yang berdedikasi demi kepentingan bersama. Berpuasa menjadi upaya diri agar setiap umat muslim yang sedang menjalaninya bisa merasakan kondisi haus dan lapar sebagaimana yang selalu dialami orang miskin.

Inilah salah satu yang dikehendaki dalam puasa. Bahkan, tujuan lainnya adalah berpuasa menghendaki agar setiap umat bisa sembuh dari patologi sosial. Dengan demikian, puasa kemudian menjadi panasea agar manusia bebas dari segala bentuk penyakit kehidupan yang membawa mereka saling membenci, saling menghina, saling merusak, saling memfitnah dan lain sejenisnya. Puasa kemudian diharapkan mampu menciptakan manusia yang unggul dan berhati mulia.

Oleh sebab itu, puasa secara lebih konkret perlu menjadi obat mujarab yang dapat mengobati segala macam sifat, sikap, dan tindakan manusia yang bermuara kepada destruktivitas. Atas kondisi tersebut, menjadi penting bila umat muslim kemudian berupaya diri semaksimal dan seoptimal mungkin segera menggelar pembalikan kebiasaan buruk tersebut menuju kebiasaan baik.

Dalam konteks ini, menjadikan puasa sebagai bentuk praksis untuk menjadi manusia yang peduli lingkungan merupakan satu keniscayaan tak terbantahkan. Berusaha menggali semangat dan komitmen sosial di balik puasa pun harus dikerjakan agar puasa yang sedang dipraksiskan bisa menumbuhkan satu etos sosial demi memperbanyak amal perbuatan yang menolong orang lain, yang sedang membutuhkan uluran tangan secara ekonomi karena terjebak dalam kemiskinan ekonomi.

Jihad Sosial


Diakui maupun tidak, puasa sejatinya perlu dikembangkan menjadi satu ajang berkompetisi secara baik dan benar demi mengejar sebanyak mungkin amalan sosial. Puasa diupayakan bisa mendorong satu gerakan memberantas kemiskinan ekonomi di tengah kehidupan orang yang sangat minus ekonomi.

Mereka yang hidup dalam kegersangan ekonomi menjadi target utama agar segera dibebaskan dari belenggu kemelaratan hidup. Lebih tepatnya, berpuasa harus menjadi alat berjihad demi mengangkat kesejahteraan ekonomi kaum miskin. Puasa menjadi jihad untuk melakukan kerja-kerja sosial yang dapat memanusiakan orang miskin agar mereka tidak selalu hidup terbelakang dan terpuruk.

Dalam kerja sosial yang lebih implimentatif, menjadikan puasa sebagai pengingat reformatif agar selalu mau terbuka dan hidup bersama dengan yang lain atau yang sedang membutuhkan pertolongan merupakan satu hal yang mesti ditunaikan secara nyata. Hidup dan menjalani kehidupan diarahkan agar bisa menjadi manusia-manusia yang berhati profetik.

Oleh karenanya, kini siapa pun yang sedang hidup di tengah kelimpahan rezeki, seperti orang kaya, para pejabat, dan lain sejenisnya perlu dan wajib membangkitkan satu kekuatan diri agar bisa melakukan satu tugas suci demi mengantarkan kehidupan orang miskin menuju satu kesejahteraan hidup. Bahkan yang lebih penting lagi, bila puasa di bulan suci Ramadan ini selama satu bulan penuh berakhir, mereka tetap dan harus menjadi manusia-manusia yang berhati baik, berjiwa filantropis, dan terus menerus bisa melakukan pemberantasan kemiskinan ekonomi di mana pun berada.
Menjadi orang baik jangan hanya di bulan Ramadan, namun harus di mana saja, tidak terjebak ruang dan waktu.

*) Penulis adalah Pekerja Sosial
Sumber: Surya, 11 Agustus 2010

No comments:

Post a Comment

Blog Archive