Blog

Blog

Friday, August 6, 2010

Mimpi ‘Mem-Bali-kan’ Bawean



Oleh SUHARTOKO

OBSESI Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Jatim) dan Kabupaten Gresik menjadikan Pulau Bawean sebagai kawasan tujuan wisata berskala internasional sudah sangat lama digagas. “Mimpi” para petingginya adalah menjadikan Bawean sebagai Balinya Jatim. Langkah serius tengah dilakukan. Infrastruktur berupa lapangan terbang (lapter) perintis kini dibangun dengan alokasi anggaran Rp 17 miliar, tidak termasuk penyediaan lahan. Sumber dananya patungan: APBN, APBD Pemprov Jatim dan Pemkab Gresik.

Keinginan membangun lapangan terbang (lapter) perintis di Bawean, sebenarnya sudah belasan tahun diwacanakan. Hanya saja, tanda-tanda realisasinya baru terlihat beberapa tahun terakhir, termasuk progres di lapangan yang juga belum berlangsung. Di atas kertas, dari 65 hektar lahan yang dibutuhkan, pembangunan lapter di Desa Tanjungori Kec. Tambak itu sepertinya tidak ada kendala berarti. Sebab, dari lahan yang diplot, sekitar 60 hektar di antaranya merupakan tanah Pemkab, sehingga secara teknis relatif tak ada kendala dalam pembebasan lahan. Sisanya, lima hektar adalah tanah milik warga yang harus dibebaskan oleh Pemkab Gresik.

Namun dalam praktik, proses pembebasan lahan tersebut ternyata tak semulus yang dibayangkan. Bahkan, beberapa pihak yang terkait dengan pembebasan lahan tersebut harus berurusan dengan aparat penegak hukum karena adanya dugaan penggelembungan (mark up) nilai pembebasan lahan. Tulisan ini tidak masuk pada ranah hukum yang kini tengah berproses, namun lebih fokus pada kajian prospek dan kalkulasi ekonomisnya dalam perspektif pengembangan pariwisata.

Bisakah obsesi menjadikan Bawean sebagai kawasan pariwisata bertaraf internasional itu direalisasikan, dan apa saja yang mesti disiapkan? Sebagai daerah yang relatif terpencil, adakah modal yang dimiliki Bawean untuk menjadikan dirinya sebagai magnet bagi wisatawan, baik domestik maupun manca negara?

Dalam perspektif pariwisata, membandingkan Bali dengan Bawean –dari aspek apa pun—sungguh tidak berimbang. Bali memiliki segala-galanya. Tak heran, ketenaran Bali di dunia internasional sampai-sampai melampaui Indonesia, meski secara fisik, Bali sebenarnya hanya sebagian kecil dari negeri ini . Dengan kata lain, Bali bisa dikatakan lebih mendunia ketimbang Indonesia. Sementara Bawean –meski memiliki beberapa objek wisata–, publik mengenalnya hanya sebagai pulau kecil di wilayah administratif Kab. Gresik yang lokasinya terpencil.

Dengan luas 640 km2, pulau ini terdiri atas dua kecamatan, yakni Sangkapura dan Tambak, dengan penduduk sekitar 700.000 jiwa. Bawean juga dijuluki sebagai pulau putri karena banyaknya warga laki-laki yang merantau ke Malaysia dan Singapura, serta beberapa kawasan lainnya. Secara umum kondisi pulau ini masih tertinggal dibandingkan dengan daerah lainnya di wilayah Gresik.

Meski bisa dibilang “tak ada apa-apanya” ketimbang Bali, obsesi menjadikan Bawean sebagai kawasan tujuan wisata berskala internasional bisa dimaknai sebagai penggugah semangat untuk menjadikan pulau berjarak 80 mil laut (sekitar 150 km) dari daratan kota Gresik ini agar memiliki nilai jual secara internasional. Diharapkan, dibangunnya lapter yang diproyeksikan bisa dilandasi pesawat jenis Cassa atau Twin Otter ini, menambah alternatif sarana transportasi Gresik (Jawa)-Bawean yang selama ini hanya dilayani kapal laut. Dengan beroperasinya lapter, sangat memungkinkan Bawean akan menjadi jujugan turis, baik domestik maupun manca negara.

Menghitung Potensi

Meski jumlahnya relatif sedikit, Pulau Bawean juga memiliki objek wisata, –yang jika dikelola secara maksimal— bisa menjadi ikon pariwisata di kawasan tersebut. Di antaranya, wisata alam Pantai Bhayangkara dan Pantai Diponggo yang berpasir putih dan berair (masih) jernih. Danau Kastoba yang tergolong “perawan” juga menjadi lokasi menawan di Bawean. Selain itu, juga terdapat wisata religi, yakni makam Waliyah Zainab, istri I Sunan Ampel dan makam panjang di Pantai Bhayangkara, juga makam Maulana Umar Mas’ud yang diyakini sebagai pembawa dan penyebar agama Islam di Bawean awal abad ke-16. Di luar itu, Bawean merupakan hamparan daratan penuh perbukitan yang menghijau.

Relatif jauhnya lokasi Bawean dari daratan Gresik bisa jadi sebagai penyebab tidak maksimalnya pemanfaatan objek-objek wisata yang ada di pulau di perairan Laut Jawa ini. Bayangkan, dengan kapal cepat saja, untuk menjangkau pulau tersebut butuh waktu tiga jam. Bahkan, ketika kapal cepat belum melayani penumpang di pelabuhan Gresik-Sangkapura, waktu yang diperlukan untuk menjangkau Bawean dengan kapal biasa lebih dari sembilan jam.
Namun, jika pembangunan lapter benar-benar bisa direalisasikan, jauhnya jarak sangat mungkin tidak lagi jadi kendala untuk menjangkau Bawean. Masalahnya, mampukah pesona keindahan Bawean menyedot arus wisatawan? Tanpa “polesan”, Bawean tentu saja belum cukup memiliki modal untuk menarik wisatawan. Karena itu, perlu konsep dan pola pengelolaan yang secara integral memadukan seluruh potensi Bawean. Salah satunya, industrialisasi mesti dikembangkan di pulau ini.

Untuk menjadikan Bawean sebagai kawasan wisata berskala internasional, tidak cukup mengandalkan keelokan alam yang ada. Namun, upaya itu mesti dikemas secara terpadu dalam paket industri pariwisata. Hotel atau penginapan yang representatif, restoran, pusat-pusat kerajinan, dan infrstruktur yang memadai harus dibangun di pulau ini.
Karena itu, perlu langkah konkret pemerintah, baik di jajaran Kab. Gresik, Pemprov Jatim, maupun pusat untuk menarik investor ke Bawean.

Berikan berbagai kemudahan dan insentif kepada investor yang mau memajukan Bawean di sektor pariwisata. Bahkan kalau perlu, sektor industri lainnya perlu digarap untuk mendukung percepatan pembangunan pariwisata Bawean. Dan, yang paling memungkinkan adalah industri yang berkaitan dengan pengolahan hasil laut. Sebab, perairan Bawean cukup banyak menyimpan hasil laut yang selama ini menghidupi para nelayan di pulau ini.

Selain mendatangkan investor, (meminjam istilah mantan Gubernur Basofi Soedirman) gerakan kembali ke desa perlu digalakkan bagi putra daerah yang sukses di perantauan. Sebagaimana diketahui, sejumlah warga Bawean tersebar di berbagai kota di Indonesia, termasuk di Malaysia dan Singapura. Mereka perlu berhimpun menyamakan persepsi untuk membangun daerahnya bangkit dari ketertinggalan.

Satu hal yang perlu diperhitungkan sebelum menjadikan Bawean sebagai kawasan tujuan wisata bertaraf internasional adalah kemungkinan benturan kultur dengan penduduk yang tinggal di pulau ini. Selama ini penduduk Bawean dikenal agamis dan memiliki kemiripan dengan kultur dengan masyarakat Madura.

Diperlukan pendekatan khusus dan sosialisasi secara intensif untuk mengondisikan masyarakat Bawean agar benar-benar siap menghadapi perubahan. Kalau tidak, penolakan sebagaimana dilakukan masyarakat Madura ketika isu industrialisasi dihembuskan di era 1990-an juga berlaku di Bawean, sehingga obsesi menjadikannya sebagai Bali-nya Jatim pun hanya tinggal mimpi. (*)

No comments:

Post a Comment

Blog Archive