Blog

Blog

Monday, July 19, 2010

Qurban vs Kelaparan Global



Oleh MIFTAH ARIEF

PADA 1974, Henry Kissinger, Menlu Amerika Serikat saat itu, dalam Konferensi Pangan Dunia pertama di Roma menyatakan bahwa dalam 10 tahun mendatang tidak akan ada lagi anak pergi ke tempat tidur dengan perut yang lapar. Pada 2009, 35 tahun kemudian, dalam konferensi dengan tema yang sama di Roma, Perserikatan Bangsa-Bangsa mengumumkan bahwa 1 miliar manusia kini pergi ke tempat tidur dengan perut yang lapar.
Gambaran ini menunjukkan bahwa dunia telah gagal mengatasi krisis pangan. Ke depan, menurut ramalan The Economist, krisis pangan itu akan makin parah. Mulai saat ini hingga 2050, jumlah penduduk akan naik 33,33 persen atau sepertiganya dibanding sekarang. Namun, kebutuhan pangan akan naik 70 persen dan kebutuhan daging naik 100 persen.
Prediksi itu, The Economist melanjutkan, berdasarkan penilaian positif dari naiknya tingkat ekonomi negara-negara berkembang yang berakibat pada naiknya konsumsi karbohidrat dan protein penduduknya. Kondisi ini jelas akan sangat mengkhawatirkan karena, pada 2050, luas tanah-tanah pertanian dan peternakan makin berkurang dan pengaruh global warming, yang menghancurkan pertanian dan peternakan, makin signifikan.
Kita masih ingat, pada 2007 dan 2008, dunia dilanda krisis pangan. Harga gandum, beras, dan jagung naik luar biasa. Di Pakistan, misalnya, orang antre makanan di dapur-dapur umum. Thailand, negeri pengekspor beras terbesar di dunia, saat itu memutuskan tidak mengekspor beras lagi. Di Eropa Timur, banyak orang kelaparan karena harga gandum naik tinggi sekali. Di Afrika, ratusan ribu bahkan jutaan orang mati karena kelaparan.
Ini sebuah pemandangan menyedihkan pada 2007 dan 2008. Meski pada 2009 pemandangan antre makanan itu hilang dari layar kaca dan surat kabar, sesungguhnya krisis pangan masih terjadi. Saat ini di Asia dan Afrika, seperti dilaporkan PBB, ratusan ribu bahkan jutaan manusia masih dilanda kelaparan.
Tapi benarkah dunia dilanda kelaparan? Menurut Muhammad Yunus, saat ini planet bumi sebetulnya masih mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduknya. Persoalannya, motivasi ekonomi dan kekuasaan negara-negara tertentulah yang menyebabkan distribusi makanan berlangsung tidak adil.
Negara-negara kaya, seperti Amerika dan Eropa Barat, misalnya, lebih suka membuang gandum dan kentangnya ke tengah laut jika harga barang-barang tersebut anjlok di pasar internasional. Mereka lebih mendahulukan stabilitas harga yang sesuai dengan yang diinginkannya (agar tidak rugi secara ekonomi) ketimbang membantu masyarakat miskin yang lapar di negara-negara berkembang.
Benar apa yang dikatakan Mahatma Gandhi bahwa bumi bisa memenuhi kebutuhan makan manusia, tapi tidak bisa memenuhi keserakahan manusia. Dan keserakahan inilah yang membuat miliaran penduduk bumi kelaparan.
Sebagai gambaran, betapa ironisnya fenomena ini ketika miliaran manusia di Asia dan Afrika pergi ke tempat tidur dalam kondisi lapar. Di bagian dunia lain, seperti di Amerika dan Eropa Barat, banyak sekali penduduk yang membuang-buang makanan. Edward, seorang profesional kelas menengah di Texas, seperti ditayangkan dalam Oprah Winfrey Show di Metro TV beberapa waktu lalu, mencoba memungut benda-benda dari tempat sampah orang-orang kaya di Amerika. Ternyata lebih dari sepertiga sampah mereka masih bernilai ekonomi.
Bukan hanya sampah barang-barang elektronik yang masih bisa dipakai, kata Edward, tapi juga makanan dan minuman dalam kaleng yang mereka buang pun masih layak untuk dikonsumsi.
Gaya hidup “bermewah-mewahan” manusia inilah yang menjadikan orang lain kelaparan dan bumi makin rusak. Gaya hidup seperti itu harus dilawan dengan gaya hidup sederhana yang hanya mencukupkan konsumsi diri sesuai dengan yang dibutuhkan tubuh. Di Amerika Serikat, misalnya, kini muncul sekelompok manusia yang menganut faham freeganism, sebagai antitesis dari gaya hidup hedonisme yang bermewah-mewahan tersebut.
Dalam situs Oprah Winfrey disebutkan, “Freegans are people who employ alternative strategies for living based on limited participation in the conventional economy and minimal consumption of resources. Freegans embrace community, generosity, social concern, freedom, cooperation, and sharing in opposition to a society based on materialism, moral apathy, competition, conformity, and greed.”
Jika menelaah bagaimana seorang freegan hidup seperti definisi di atas, barangkali kelompok ini bisa diidentikkan dengan gerakan tasawuf modern. Sementara gerakan tasawuf di dunia Islam, misalnya, muncul sebagai reaksi atas keserakahan dan gaya hidup hedonisme para elite politik dan ekonomi zaman kekhalifahan Umayyah, gerakan freeganism muncul sebagai antitesis dari gaya hidup bermewah-mewahan kelas menengah dan atas di Amerika. Misi kaum sufi dan freegan dalam beberapa hal mungkin bersinggungan: menghindari materialisme, mengembangkan kasih sayang, dan melawan keserakahan.
Di tengah miliaran manusia yang kelaparan akibat keserakahan manusia di bagian dunia yang lain itu, nilai “pengorbanan” seperti dicontohkan Ibrahim menjadi sangat kontekstual. Allah memberikan contoh kemuliaan hati Ibrahim ketika bersedia “mengorbankan putra tercintanya” sebagai tanda keimanan terhadap-Nya. Jika kita bisa membayangkan betapa Ibrahim mau mengorbankan “Ismail”, yang paling dicintanya, untuk Allah, kita pun bisa bertanya kepada diri kita: apa yang bisa kita korbankan untuk Allah? Benar, saat itu Allah mengganti Ismail dengan seekor kambing, tapi lihatlah ketulusan hati Ibrahim dalam mengikuti perintah Tuhannya tersebut.
Bagi Ibrahim, Ismail jelas lebih berharga dibanding apa pun. Berapa pun harta yang dimiliki Ibrahim, tidak ada nilainya dibanding Ismail. Dan itulah yang dikorbankan Ibrahim. Sekarang bagaimana dengan pengorbanan kita untuk membuktikan keimanan kita kepada Allah?
Dari perspektif inilah umat Islam seharusnya tidak terjebak pada simbolisme kurban dengan kambing, unta, atau sapi. Tapi lebih dari itu, simbolisme tersebut harus diwujudkan dalam pengorbanan yang lebih besar dari sekadar memotong kambing dan sapi. Di tengah miliaran manusia yang kelaparan, umat Islam dituntut untuk berkorban lebih jauh lagi: berupaya memberikan makanan dan instrumen mencari makanan (pendidikan, keahlian, dan lain-lain) untuk mereka yang lapar dan kekurangan dengan berbagai cara yang bisa dilakukannya. Setiap orang, dengan kemampuan, keahlian, dan profesinya, punya cara untuk berkorban demi mengatasi kelaparan yang menimpa miliaran manusia tersebut. Menanam satu pohon pun, bagi orang yang tak bisa berbuat lain kecuali itu, merupakan upaya pengorbanan untuk mengatasi kelaparan tersebut.
Akhirnya alangkah baiknya jika kita kembali mengenang hadits Qudsi ini. “Wahai manusia, kenapa engkau tak memberi-Ku makanan ketika Aku lapar?” kata Allah. “Bukankah Engkau tidak pernah lapar ya Allah?” Rasulullah bertanya. “Benar, Rasul-Ku. Aku tidak pernah lapar. Tapi Aku menyatu bersama mereka. Mulutnya adalah mulut-Ku. Laparnya adalah lapar-Ku!”.

Sumber: Surabaya Post, Kamis, 26 Nopember 2009
*) Miftah Arief, Peneliti Indonesia Democracy View (IDV)

No comments:

Post a Comment

Blog Archive