Blog

Blog

Sunday, July 4, 2010

Mengembalikan Muhammadiyah ke Khitah



Oleh DJOKO SUSILO

JUMAT sore (2/7), panitia muktamar dan sejumlah anggota PP Muhammadiyah menyesaki sebuah langgar kecil di kawasan Kauman, Jogjakarta. Mereka menghadiri peresmian Museum KH Ahmad Dahlan oleh Wali Kota Jogjakarta Herry Zudianto.

Peristiwa kecil itu, tampaknya, luput dari perhatian media. Barangkali langgar kecil tersebut dianggap tidak terlalu penting bagi Muhammadiyah yang kini sudah berusia seabad.

Padahal, di langgar itulah seabad lalu KH Ahmad Dahlan memulai pengajiannya dan merupakan awal gerakan berdirinya Muhammadiyah. Di langgar kecil itulah murid-murid awal KH Ahmad Dahlan, di antaranya H Syujak, H Fachruddin, dan H Badawi, mengikuti pengajian surat Al Maun. Pengajian itulah yang sesungguhnya menjadi roh gerakan Muhammadiyah.

Cerita tersebut sudah menjadi legenda di kalangan Muhammadiyah. Ketika setiap hari KH Ahmad Dahlan hanya mengulang-ulang tafsir surat Al Maun, para santri bertanya kepada beliau apakah tidak ada pelajaran tafsir lain. Mereka menganggap tidak ada kemajuan yang berarti dari pengajian tersebut. KH Ahmad Dahlan balik bertanya, "Apakah kalian sudah membantu anak yatim piatu? Apakah sudah menolong orang-orang miskin? Apakah sudah menjalankan ibadah total, termasuk membayar zakat?"

Pertanyaan itu mengagetkan santri. Konteks sosial waktu itu, umat Islam Indonesia sangat terpuruk dan mengalami kemunduran di segala bidang. Kolonialisme Belanda berabad-abad telah mengakibatkan kemerosotan di segala bidang. Pun sudah banyak umat Islam yang lalai dari ajaran-ajaran agama.

Dari pengajian di langgar kecil, yang isinya sangat menyentakkan kesadaran umat yang berpikiran terbuka, itulah lahir gerakan Muhammadiyah pada 1912. Sejak awal, Muhammadiyah menegaskan bahwa gerakannya bersifat sosial keagamaan dengan tujuan membentuk masyarakat Islam yang sejahtera di Indonesia. Jadi, sejak awal Muhammadiyah tidak bermaksud mendirikan negara Islam atau islamic state.

Ajaran tafsir atau teologi surat Al Maun dan soft power diplomacy sudah mendarah daging di kalangan Muhammadiyah. Teologi Al Maun akan selalu membayangi dan mendasari gerakan para aktivis Muhammadiyah. Namun justru karena itu, layak dipertanyakan dalam konteks sekarang aktualisasi tafsir Al Maun dengan gerak Muhammadiyah setelah berusia seabad.

Muhammadiyah Kini

Muktamar Muhammadiyah kali ini dilakukan dengan semangat "Kembali ke Jogja". Sangat disayangkan jika semangat itu hanya seruan kosong yang tidak berarti. Seruan "Kembali ke Jogja" juga akan sangat mengecewakan jika diartikan gerakan Muhammadiyah harus berpusat di Jogja. Memang faktanya, sejak lahir sampai terpilihnya Din Syamsuddin (ketua umum PP Muhammadiyah sekarang), Muhammadiyah selalu dipimpin wong Jogja atau orang yang mau pindah ke Jogja seperti KH Mas Mansur (Surabaya) atau A.R. Sutan Mansur (Padang). Belum mampunya Muhammadiyah melepaskan persaingan kubu Jakarta dan Jogja agak mengganggu perkembangan perserikatan itu. Secara tradisional, Muhammadiyah memang berakar pada kepemimpinan dari Jogja. Tetapi, itu berbahaya jika tidak ditangani dengan saksama. Selama lima tahun terakhir, diakui beberapa program sulit berjalan karena mayoritas anggota pengurus harian (PP) tinggal di Jogjakarta. Di antara 13 pengurus inti, hanya Din, Goodwil Zubir, dan Sudibyo Markus yang tinggal di Jakarta.

Menyaksikan pembukaan Muktamar Ke-46 Muhammadiyah Sabtu lalu (3/7) tidak sepadan dengan kegagahan semangat satu abad Muhammadiyah. Kerja panitia, tampaknya, kurang profesional. Beberapa anggota panitia inti yang berbicara dengan saya mengeluh, lima kali rapat, lima kali ganti keputusan. Meski Din mengklaim muktamar itu dihadiri satu juta penggembira, faktanya tidak demikian. Sikap panitia yang terlalu keras, yakni membatasi peserta yang boleh masuk ke arena muktamar, mengakibatkan acara yang dihelat di Stadion Mandala Krida itu berasa hambar. Kebesaran Muhammadiyah sama sekali tidak tecermin dalam acara pembukaan tersebut. Meski demikian, kita berharap dalam beberapa hari ke depan peserta muktamar berhasil membicarakan dan memutuskan berbagai persoalan mendasar bagi bangsa dan umat Islam. Misalnya, soal korupsi, kemiskinan, pendidikan, dan isu-isu nasional lain. Jika Muhammadiyah ingin perjuangannya tetap relevan dengan masyarakat, muktamirin harus secara serius membicarakan masalah bangsa.

Dalam konteks memilih pemimpin, tampaknya, dua tokoh akan bersaing ketat. Mereka adalah Din dan Haedar Nasir. Din mewakili kubu pragmatis, rasional, dan Jakarta yang kosmopolitan; sedangkan Haedar mewakili aliran tradisional Muhammadiyah yang berbasis di Jogja. Namun, siapa pun yang terpilih tetap harus mengakomodasi satu dengan lainnya. Sebab, kepemimpinan Muhammadiyah bersifat kolektif. Jadi, tidak ada dominasi satu kubu atas kubu lain. Muktamar di Jogja merupakan test case, apakah Muhammadiyah akan melangkah ke depan atau justru makin terpuruk dengan kejumudan yang selama ini menjadi musuh besarnya. (*)

*) Djoko Susilo, Dubes RI di Swiss yang juga mantan ketua PP Pemuda Muhammadiyah
Sumber: Jawa Pos, Senin, 5 Juli 2010

No comments:

Post a Comment

Blog Archive