Blog

Blog

Thursday, July 1, 2010

Maaf, Kupinjam Suamimu Semalam


Cerpen Dian 'M' Balqis

MALAM mulai larut, ketika terdengar deringan sesaat. Bulan melirik ke samping tempat tidurnya, mengambil telpon genggamnya. Ada pesan singkat dari Mega, temannya semasa kuliah. Seperti biasa, lontaran sejuta keluh kesah.
Dihelanya nafas panjang. Di kepalanya sendiri masalah pun rasanya sudah segudang. Namun tetap ditanggapinya, walaupun sekedar basa-basi saja.
“Perkawinanku sudah di ambang batas. Aku tahu aku salah, aku menyesal. Aku ingin mencoba memperbaikinya, tapi Bayu tak pernah mau memberi aku kesempatan,” begitu bunyi pesannya.
“Kau telpon aku saja lah.. Malas aku mengetik,” singkat, Bulan menjawab. Ia sendiri sedang sibuk mempersiapkan draft replik perceraiannya dengan Bara. Segala rasa berkecamuk dalam dirinya, namun deraan banyak hal sepertinya tak henti-hentinya berdatangan, menambah sesak.
Tak lama kemudian meluncurlah kata-kata panjang tanpa titik koma dari suara di seberang. Suara Mega. Bulan hanya bisa menyimak sepintas, mengambil intinya. Kepalanya sudah terlalu penuh untuk menyimpan berbagai keluhan. Jangankan untuk orang lain, untuk dirinya sendiri saja sebagian keluh kesah itu sudah dibuangnya ke tong sampah.
“Kau tolonglah aku.. Coba bicara pada Bayu, agar dia bisa menerima aku kembali. Posisimu kan sama dengannya, teraniaya. Mungkin dia bisa mengambil pelajaran dari apa yang terjadi denganmu, sehingga dia mau kembali padaku demi anak,” pinta Mega memelas pada Bulan.
Bulan menghela nafas panjang. Disingkirkannya problema yang ada dalam dirinya, berusaha berempati. “Ok, kapan aku harus menemuinya..??” tanya Bulan pada Mega. “Besok malam. Aku beri kau nomor telpon genggamnya. Tolong hubungi dia secepatnya. Aku percayakan urusan ini padamu,” pasrah suara Mega terdengar.
Sore itu, di sudut sebuah café bernuansa Italy. Bulan menunggu Bayu, menyeruput segelas cappuccino dingin sambil matanya sesekali menyapu ke luar jendela. Tak juga dilihatnya sosok yang ditunggunya. Mulai kesal Bulan, namun beberapa menit kemudian pesan singkat dari Bayu masuk. “Sudah dekat, ma’af tadi keluar kantor agak terlambat,” begitu katanya.
Selang seperempat jam setelah itu, mereka pun telah duduk berhadapan. Bayu memesan minuman yang sama dengan yang dipilih Bulan. Matanya memandang perempuan di depannya sambil tersenyum nakal. ”Lain kau sekarang,”katanya. Terkekeh Bulan mendengarnya. “Kenapa? Terlihat lebih kurus dan lebih cantik?” jawabnya yang diikuti dengan derai tawa lebih kencang.

Bayu ikut terbahak. Awal yang baik memulai pembicaraan, pikir Bulan. Suasana yang tadinya dikiranya akan kaku karena sudah sekian lama ia pun tak bertemu dengan lelaki ini, ternyata tak terjadi. “Akan lancar sepertinya misiku,” ujar Bulan dalam hati.
Namun perkiraannya salah. Susah betul meyakinkan laki-laki ini untuk menerima istrinya kembali. Dianggapnya semua tingkah dan penyesalan yang diperlihatkan istrinya itu hanya kepalsuan sesaat yang akan kembali lagi kala perempuan yang sudah memberinya satu anak itu kelelahan memakai topengnya. Hhh.., paham betul Bulan akan perasaan itu. Tak jauh lebih baik dari yang ia rasa. Seketika cerita kelam dari lubuk hatinya pun bagai banjir bandang, tumpah ruah diiringi tangis yang sudah tak terbendung lagi, meledak tanpa bisa diredam.
Tangan kasar lelaki itupun spontan meraih lalu menggenggam tangan Bulan yang sedikit gemetar, menahan emosi. “Sudahlah, sabar saja,” kata Bayu.
Ya.., apa lagi yang bisa Bulan lakukan selain itu..?? Menangis hanyalah pelampiasan sesaat untuk membuang beban. Menjadikan butiran-butiran air mata itu sebagai fondasi pembangun kekuatan dirinya untuk bangkit dari keterpurukan.
Terdiam keduanya dalam hening. Sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri. Lalu mata mereka pun saling beradu. Satu sama lain mengerti apa yang dimau, walau tanpa suara. Hanya bahasa tubuh yang bicara.
“Yuk,” ajak Bayu. Mereka pun keluar dari café itu, mencari sebuah tempat pelampiasan. Pelampiasan segala amarah, kekecewaan, luka, ketercampakan. Dua orang dewasa dalam satu nasib. Mengamuk rasa dalam gelora sesaat tanpa cinta. Sisakan peluh dalam dekapan dosa.

Delapan bulan kemudian.
Bulan lelah dalam kebohongan. Memang tak perlu diumbar, namun iapun tak sanggup menyimpan. Beban baginya, walau yang tahu hanya ia dan Tuhan. Dikirimnya sebuah pesan berisi pengakuan kepada Mega. Sudah siap diterimanya makian dan hujatan dengan lapang dada.
Benar saja, balasan pesan itu diterimanya hanya dalam hitungan detik, dengan huruf-huruf kapital. Singkat, namun padat makna. “DASAR PELACUR..!!”, itu yang terpampang di layar telpon genggamnya. Dari Mega.
Bulan hanya tersenyum, sadar gelar itu memang pantas untuknya. Ya, pelacur jahanam. Walau tanpa pernah ada bayaran.

Kelapa Dua, 27 Juni 2010
Sumber: www.kompas.com, Rabu, 30 Juni 2010

No comments:

Post a Comment

Blog Archive