Blog

Blog

Thursday, July 29, 2010

Jangan Biarkan Hamil Sebelum Nikah

Oleh SAIFUL ANSHOR*

BARU-BARU ini, masyarakat di Surabaya dikagetkan berita pembunuhan seorang bayi. Mayat bayi tersebut ditemukan di toilet di sebuah SMA negeri di Surabaya. Bayi naas yang baru berumur sepekan itu dibunuh dengan cara lehernya dililitkan kabel listrik. Astaghfirullah! Sang pembunuh lalu memasukkan bayi ke dalam kardus dan dibuang ke toilet. Kontan, kasus tersebut membuat geger pihak sekolah dan warga Surabaya.

Tapi, ada yang lebih menghebohkan lagi. Ternyata si pelaku pembunuhan, adalah seorang anak remaja yang masih berusia 15 tahun. Pihak kepolisian menyebut, pelaku pembunuhan tersebut seorang siswa SMA berisinial ADI. Siswa tersebut baru saja mengikuti Masa Orientasi Siswa (MOS) di sekolahnya. Anehnya, sejak menjalani MOS tak ada seorang pun pihak sekolah yang curiga.

Tak pelak, kasus tersebut seolah menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan terlebih bagi orangtua. Kejadian ini menjadi tanda betapa potret dunia pelajar kita sangat buram. Meski tidak memukul rata, tapi seolah jadi identik dengan pergaulan bebas yang berujung pada aborsi dan pembunuhan.

Kendati begitu, tidak arif jika kita memposisikan pelajar sebagai satu-satunya biang keladi kesalahan (trouble maker). Pelajar adalah satu bagian dari bagian lain yang luas; pendidikan, lingkungan, dan keluarga. Jadi, lebih arif jika kasus tersebut jadi bahan intropeksi kolektif seluruh elemen. Sebab, bisa jadi, dia sang pelaku adalah korban kelalaian sistem pendidikan dan longgarnya kontrol orangtua.

Kejadian ini tidak bisa dianggap sepele atau dilihat sebelah mata. Kasus seperti ini tidak lain, jika diibaratkan adalah fenomena gunung es. Kecil di permukaan, tapi besar di dalam. Karena itu, jika dibiarkan, bisa jadi, efek dari fenomena ini akan jauh lebih besar. Kita akan semakin miris. Apalagi jika melihat dampak tekhnologi yang telah menuai banyak korban. Seperti kasus terakhir video porno artis. Gara-gara melihat video tersebut, banyak korban pemerkosaan.

Rekor mengerikan

Bangsa Indonesia sering bangga menjadi penduduk muslim terbesar di dunia. Sayangnya, kebesaran itu berbanding lurus dengan rekor prestasi moralnya. Sejak lama, di dunia pelajar kita dikenal istilah yang nampaknya bagus tapi sesungguhnya sangat menyedihkan. Istilah ayam kampus dan ayam abu-abu (gray chicken), sebuah cap untuk wanita panggilan. Secara tidak langsung istilah itu menggambarkan fenomena memprihatinkan di balik dunia pelajar dan mahasiswa.

Tahun 2008, temuan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta menunjukkan, mahasiswa di Yogyakarta ternyata lebih suka membeli pulsa telepon genggam daripada membeli buku kuliah. Untuk membeli pulsa setiap bulannya, rata-rata mereka rela merogoh kocek Rp 90.200. Sedang untuk membeli buku pelajaran hanya Rp 39.750.

Hasil penelitian biaya hidup mahasiswa Yogyakarta tahun 2008 ini dipaparkan peneliti Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran, Ardito Bhinadi di Seven Resto Jl C. Simanjuntak Yogyakarta, Selasa (25/11/2008). Survei itu dilakukan bekerjasama dengan Bank Indonesa (BI) Yogyakarta.

Laporan terbaru oleh Norton Online Family 2010, 96% anak-anak Indonesia pernah membuka konten negatif di internet. Menyedihkannya lagi, 36% orangtua mereka tidak tahu apa yang dibuka anaknya akibat pengawasan yang minim.

Laporan Norton Online Family 2010 dibuat berdasarkan penelitian yang dilakukan pada April 2010 oleh Leading Edge, sebuah firma riset pasar independen atas nama Symanctec Corporation.

Dalam laporan tersebut, hanya satu dari tiga orangtua tahu tentang yang dilihat anak-anak mereka ketika online, padahal anak-anak mereka menghabiskan 64 jam untuk online setiap bulan.

Data yang tak kalah mengejutkan, menurut kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pusat dr. Sugiri Syarief, MPA sebanyak 54 persen remaja di Surabaya mengaku pernah melakukan hubungan seks pranikah. Bahkan, angka tersebut mengungguli angka di sejumlah kota besar lainnya. Seperti di Jabodetabek yang hanya (51 persen), Medan (52 persen), dan kota Bandung 47 persen.

Sebuah data yang fantastis. Ternyata, Surabaya, kota yang dikenal basis kiai memiliki jumlah remaja yang tingkat amoralnya cukup tinggi.

Jika melihat sebelumnya, kasus seperti ini sebenarnya kerap terjadi. Baik yang terekspos media ataupun yang tidak. Sayangnya, urusan moral ini, belum menjadi perhatian serius bagi sejumlah pihak, mulai pemerintah, lembaga pendidikan dan orangtua.

Bandingkanlah jika soal akademik (kognisi) siswa. Pendidik maupun orangtua akan allout memberikan perhatian. Tak sedikit sekolah yang ‘tertangkap’ basah memberi bocoran jawaban pada siswanya di saat Ujian Nasional (UN).

Lantas, bagaimana nasib akhlak siswa? Di sekolah sendiri, seperti diketahui, ada guru agama dan bagian Bimbingan Konseling (BK). Tapi, ruang geraknya masih sangat terbatas dan belum bisa memberikan pemahaman dan kontrol yang signifikan. Guru agama terbatas oleh jam ngajar. Tidak terintegrasi ke seluruh mata pelajaran.

Karena itu, sekolah harus membuat program edukatif bermuatan peningkatan moral. Program ini bisa bisa bekerjasama dengan ulama, tokoh masyarakat dan lain sebagainya. Itu karena kebutuhan siswa bukan hanya kognisi semata, tapi juga akhlak dan spiritual. Jangan sampai anak cerdas intelektual, tapi amoral.

Orangtua juga harus lebih intensif melakukan pendampingan pada anak. Jangan membiarkan anak berinteraksi dengan dunia luar yang cenderung “liar” tanpa ada kontrol dan pendampingan. Sebab, bisa dikatakan, pembiaran sama saja memasukkan anak ke sarang penyamun.

Umumnya para orangtua bangga memberi fasilitas HP dan hal-hal yang berkaitan dengan teknologi informasi, hanya saja, sebagian besar mereka kurang aware. Mungkin kurang peduli atau bahkan tak bisa sama sekali.

Banyak orangtua tak tahu apa yang diperbuat anak-anak mereka di luar sana. Ada orangtua yang bangga anaknya bisa internet dan bahkan sering pamit ke internet. Ada orangtua bangga anaknya bisa komputer dan melengkapi fasilitas kamarnya dengan koneksi internet. Seolah-olah, melengkapi semua itu menunjukkan anak mereka tidak lagi gagap teknologi.

Sedikit orangtua peka. Apa yang dibuka anak-anak mereka di internet. Dengan siapa mereka bicara dan SMS-an setiap hari. Dengan siapa mereka pergi dll. Namun para orangtua begitu kaget luar biasa setelah anak-anak mereka sudah tidak pulang selama dua minggu atau hampir sebulan setelah mengenal pria dari Facebook.

Di era modern sekarang, paradigma orangtua dalam mendidik anak mengalami pergeseran. Di zaman dahulu kala, selepas sekolah, anak disuruh mengaji Al-Quran di langgar atau masjid, sekarang justru disuruh kursus bimbel. Karena umumnya para orangtua khawatir anaknya tidak lulus dan tak bisa diterima masuk perguruan tinggi bergengsi. Hanya sedikit orangtua yang khawatir jika anak mereka dewasa tanpa bimbingan agama dan spiritual.

Imbas materialism ini menjadikan kebanyakan orangtua ingin menjadikan anak mereka sukses dengan ukuran; menjadi dokter, insinyur atau profesi yang menggiurkan. Namun urusan spiritualitas dianggap bukan sesuatu menggiurkan. Setidaknya bukan sebuah masa depan yang menjanjikan.

Wajar jika banyak orang cerdas intelektual dan punya jabatan tinggi, tapi bukan manfaat yang dihasilkan melainkan kerusakan semata. Jabatan tinggi dan gelar mentereng toh akhirnya mereka korupsi.

Pihak orangtua juga tidak bisa berpangku tangan mempercayakan pendidikan anak ke sekolah semata. Karena hakikatnya, anak adalah tanggungjawab bagi kedua orangtuanya. Kelak, di akhirat, tanggung jawab itu akan dipertanyakan oleh Allah SWT. Kedua orangtua lah orang yang pertama dimintai pertanggungjawaban, bukan pihak sekolah. Karenanya, orangtua tidak boleh permisif terhadap anak. Orangtua harus selektif dan memberikan rambu kepada anak. Lebih dari itu, orangtua harus memberikan nilai religiusitas sejak dini di rumah kepada anak. Nilai religiusitas itu tidak hanya menjadi asupan kognisi, tapi juga menjadi kebiasaan dan karakter. Jika hal ini telah terbentuk, anak dengan sendirinya akan memfilter inklinasi eksternal.

Bila hal ini tidak dilakukan, maka, jangan kaget jika suatu saat, tiba-tiba putri Anda datang dan bilang “Ma!, Pa!, saya hamil”.

*)SAIFUL ANSHOR,Pemerhati masalah pendidikan dan sosial, tinggal di Surabaya

No comments:

Post a Comment

Blog Archive