Blog

Blog

Friday, July 30, 2010

Presiden SBY v Nasdem

Oleh HERDI SAHRASAD

ADA ''respons keras'' Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) atas gerakan politik yang menimbulkan pesimisme. Presiden menyebut ada gerakan politik yang saat ini berkampanye keliling Indonesia menjelek-jelekkan pemerintahan. Gerakan itu menyatakan seolah-olah Indonesia akan hancur.

Presiden menyebutkan, kampanye itu mengingatkan pada gerakan politik 2006. Saat itu, banyak kampanye yang menyebut Indonesia sudah berada di jurang kehancuran. Kenyataannya, hingga kini hal itu tak terbukti.

SBY menyentil: ''Masak ada tayangan di televisi selama dua jam. Seluruh isinya tentang hal yang buruk semua. Saya pikir nggak jujur itu,'' tegasnya seraya menambahkan bahwa orang-orang yang melakukan tindakan itu adalah mereka yang pesimistis dan ingin menarik keuntungan. Dalam persepsi SBY, kampanye yang menyebut Indonesia saat ini dalam kondisi yang jelek akhirnya akan mengakibatkan tak berjalannya investasi di Indonesia.

Titik Pecah

Ada sinyal kuat bahwa respons miring SBY tersebut ditujukan ke Nasionalis Demokrat (Nasdem) karena televisi yang dimaksud dalam statemen SBY adalah Metro TV. Meski SBY dan Ketua Umum Nasional Demokrat Surya Paloh sama-sama seorang nasionalis dan demokrat, ada titik pecah di antara keduanya.

Meski Nasdem mengklaim ingin membangun solidaritas nasional melalui jalur politik maupun nonpartai politik dengan memantapkan reformasi birokrasi serta menggerakkan potensi manusia yang produktif dengan memperluas lapangan kerja, meningkatkan kewirausahaan, permodalan, dan pertanian pedesaan potensi maritim secara gotong-royong bernilai tambah, tetap saja sikap kritis Nasdem, tampaknya, membuat SBY tidak tahan atas berbagai statemen Paloh.

Ada beberapa sikap kritis Paloh yang, tampaknya, memicu SBY untuk merespons tajam. Pertama, Paloh menyatakan, sampai saat ini Kabinet Indonesia Bersatu II hanya diam terhadap stigma korupsi yang diberikan kepada Indonesia. Artinya, Indonesia menerima nasib sebagai negara terkorup di dunia tanpa perubahan tata kelola pemerintahan dari rezim yang berkuasa.

Kedua, Paloh sering mengingatkan ancaman terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara yang dipicu oleh public distrust (ketidakpercayaan masyarakat) terhadap lembaga-lembaga resmi negara. Dia sering mengartikulasikan, situasi masyarakat saat ini telah sampai pada tingkat memprihatinkan, pada potensi anarkis. Itu merupakan akibat terakumulasinya ketidakpercayaan publik terhadap institusi-institusi resmi negara. Paloh suka mengartikulasikan bahwa pihaknya tidak menginginkan Indonesia seperti Uni Soviet yang negaranya pecah hingga menjadi 15 negara.

Ketiga, Paloh sering mengingatkan, bangsa ini sedang dalam keadaan bahaya karena masyarakat tidak lagi memberikan ruang toleransi atas kemunafikan dan kebobrokan para elite negara. Dia juga suka mengingatkan, masyarakat telah jemu dengan segala hal yang bersifat artifisial. Mereka membutuhkan langkah dan tindakan konkret dari para pengambil keputusan/kebijakan.

Keempat, dia juga mengartikulasikan bahwa presiden telah dengan gamblang meminta agar skandal Century dibuka tuntas dan agar lembaga legislatif, yudikatif, serta eksekutif tidak terjebak pada kemunafikan.

Perbedan Visi

Perbedaan pendapat dan visi dalam era demokrasi merupakan hal yang lumrah. Dalam konteks kontrol demokratis, Nasdem memang berhak melancarkan kritik kepada pemerintahan SBY. Namun, SBY atau istana juga berhak meresponsnya. Dinamika demokrasi semacam itu perlu ditradisikan untuk mematangkan demokrasi tersebut. Sebab, saling kritik itu adalah wajar dan dinamis. Yang penting, respons presiden jangan ditanggapi berlebihan oleh Nasdem. Demikian pula sebaliknya, kritik Nasdem tidak usah ditanggapi berlebihan.

Sepanjang kritik tersebut merupakan kontrol yang rasional yang didasarkan fakta, tentunya pemerintah menghargai. Namun, Nasdem barangkali perlu mendengarkan kritik SBY juga karena mereka menggunakan Metro TV dan medianya sebagai alat politik. Penulis melihat, SBY tidak setuju jika Nasdem menggunakan Metro TV sebagai alat politik, sehingga SBY menyebut Nasdem menjelekkan pemerintah.

Walhasil, jika kasus SBY versus Nasdem bisa mematangkan demokrasi, itu merupakan gejala positif dan kondusif. Namun, jika justru melemahkan demokrasi, itu merupakan gejala negatif yang harus didekonstruksi agar jarum jam tidak kembali ke era otoriter lagi. Mengingat, SBY adalah alumnus Orde Baru yang otoritarian.

Gagal Capai Target

Di luar perang urat saraf SBY dan Nasdem itu, bagaimanapun, pemerintahan SBY-Boediono telah gagal mencapai target penurunan kemiskinan dalam lima tahun terakhir. Presiden lebih memilih ''mengurusi kekuasaan'' daripada memfokuskan tenaga dan pikiran untuk mengurangi jumlah orang miskin.

Berdasar laporan Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk miskin di Indonesia per Maret 2010 mencapai 31,02 juta orang atau 13,3 persen di antara total penduduk. Angka itu jauh dari target yang ditetapkan pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2004-2009 yang menurunkan persentase orang miskin menjadi 11 persen pada 2009.

Angka-angka tersebut membuktikan bahwa pemerintah boros dan gagal memakai anggaran untuk mengurangi orang miskin. Padahal, jumlah anggaran itu terus dinaikkan dari tahun ke tahun selama lima tahun terakhir. Coba perhatikan, angka pengurangan kemiskinan di pedesaan yang lebih rendah dibanding di perkotaan. Faktanya, para petani di desa tetap menderita.

Harap dicatat, lebih dari 60 persen penduduk miskin berada di pedesaan dan orang-orang di perkotaan sedikit lebih beruntung karena laju pengurangan kemiskinannya lebih cepat. Itulah salah satu kelemahan pemerintah yang tak bisa dijawab dengan ''wacana dan politik pencitraan''. Karena itu, kritik Nasdem menjadi relevan dan mungkin menggelisahkan Cikeas lantaran melihat realitas bahwa popularitas SBY merosot dan ekspektasi publik menurun tajam, seakan melawan arah jarum jam.

Pada akhirnya, rivalitas antarelite strategis antara kubu Paloh dan SBY tersebut merefleksikan kuatnya politik dissent dengan segala dissonant voices yang beredar untuk berebut public sphere (ruang publik) yang mulai pengap. (*)

*) Penulis adalah peneliti ekonomi-politik Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina


Sumber: Jawa Pos, 31 Juli 2010

Starry-Night


Oleh AFFANDI

Starry-Night




Oleh AFFANDI

Menatap Masa Depan

Hidayah Itu Muncul Setelah Membaca Ayat Al-Qur'an




Testimoni YESWA

Setelah mengetahui saya masuk Islam, saya hanya diberi dua pilihan: kembali ke Kristen atau keluar dari rumah

Hidayatullah. com--Nama saya Yeswa. Nama tersebut diberikan orang tuaku sebagai harapan saya menjadi penganut Kristen yang taat. Maklum, kedua orangtuaku adalah Kristen tulen. Lihat saja, dari keturunan keluarga dan lingkungan semuanya Kristen.

Ayah dan ibu termasuk orang berpengaruh di lingkungan gereja di daerahku, Remu Utara, Kab. Manokwari, Sorong, Papua. Saya lahir sekitar 23 tahun silam di daerah tersebut. Tak heran, jika saya dididik orang tuaku untuk menjadi pendeta hebat. Setiap hari, ayah menyuruhku belajar injil dan bibel.

Seiring waktu, saya tumbuh dewasa sebagai orang Kristen yang bukan saja taat, tapi paham Alkitab. Ayat demi ayat dalam bibel saya kuasai, bahkan banyak yang saya hafal. Karena itu bisa dibilang, ajaran Kristen sudah saya kuasai. Setidaknya begitu. Nah, dalam ajaran Kristen sendiri ada doktrin mengajak orang lain sebanyak mungkin masuk agama Kristen. Pengkristenan disebut misionari. Karena masih sekitar 15 tahun, saya termasuk misionaris muda. Saya mempunyai keberanian tak jauh beda dengan misionaris dewasa lainnya.

Ketika itu, langkah awal yang saya lakukan adalah mengkristenkan teman-temanku. Tidak melihat latar belakang status dan agamanya. Tak terkecuali juga dengan Islam. Saya memiliki kemampuan komunikasi cukup bagus. Karena itu, belum lama kemudian, saya telah berhasil mengkristenkan sekitar delapan orang. Memang, masih tergolong sedikit. Tapi, setidaknya itu prestasi yang membanggakan bagiku. Terutama untuk saya tunjukkan ke kedua orangtuaku.

Menjadi misionaris memang menggiurkan. Bayangkan, hampir setiap hari tak kurang dari tiga juta ada di kantong. Dari mana lagi, kalau bukan hadiah atas kerja kerasku. Namun, entah ada apa, suatu saat saya merasakan ada sesuatu yang berbeda. Tiba-tiba hatiku merasa ragu dan bimbang. Perasaan tersebut muncul sesaat setelah saya mulai banyak membaca literatur tentang ke-Islaman. Tadinya, saya membaca literatur tersebut sebagai bahan komparasi. Eh, ternyata justru membuat hatiku bimbang dengan kebenaran di dalam ajaran Kristen.

Pasalnya, dari literatur tersebut, banyak ayat di dalam bibel yang tidak relavan dengan logika atau irasional. Dari berbagai ayat yang menjadi pertanyaan saya adalah Bibel Matius ayat 13-26. Ayat tersebut mengatakan, “Bersyahadatlah pada Allah. Saya hanya utusan Allah. Jangan sembah saya.” Setidaknya begitu bunyinya. Padahal, sudah jelas-jelas, dalam teologi Kristen ada konsep trinitas, di mana tuhan ada tiga. “Wah kalau begini, ada yang salah konsep,” dalam benakku. Ketika itu pula, saya tanyakan kepada pendeta. Anehnya, si pendeta tak sanggup menjawab pertanyaan tersebut.

Dan, yang membuat saya tambah ragu lagi adalah banyaknya versi Alkitab dalam agama Kristen. Ada versi perjanjian lama dan perjanjian baru. Tidak hanya itu, hal yang benar-benar membuatku tak habis pikir, tidak sedikit dari isi Al-kitab yang telah diubah-ubah. Karena itu, saya yakin jika perubahan isi tersebut lantaran dipicu kepentingan politis dan agama oleh pihak-pihak tertentu. Dan ini menimbulkan isi alkitab tidak lagi orisinil keotentikannya.

Hal itu sangat berbeda dengan kitab suci umat Islam, Al-Quran. Kitab tersebut, sepengetahuanku, sejak diturunkan hingga sekarang tetap satu baik tulisan dan bacaanya. “Sebuah kitab suci yang keotentikannya terjaga sampai kiamat,” ujarku. Dan itu telah dijamin dalam ayat Al-Quran, “Sesungguhnya kami turunkan Al-Quran dan kami pula yang menjaganya.”

Untuk mengobati kegelisahan dan keraguan tersebut, sejak itu saya pun tambah giat membaca dan mempelajari buku-buku Islam. Saya lebih sering pergi ke toko buku Islam daripada baca bibel atau sekedar ke gereja untuk menemui pendeta. Di antara buku yang sering saya baca adalah tentang fikih, tasawuf, dan muamalat.

Ketika asyik membaca, tiba-tiba saya dikejutkan satu ayat dalam Al-Qur’an, “Innaddina indallahil Islam.” (tiada agama yang benar di sisi Allah, kecuali Islam). Seketika itu pula, keimanan trinitas saya runtuh. Dan saya pun percaya jika agama yang paling benar adalah Islam, bukan Kristen. Maka sekitar pertengahan 2006, di masjid Agung Papua, di bawah bimbingan seorang ustadz dan disaksikan puluhan jamaah, saya mengucapkan dua kalimat syahadat. Kalimat yang membuatku secara resmi menjadi muslim. Yeswa nama lamaku kemudian diganti menjadi Mukhlis. Orang yang ikhlas. Tak ada perasaan kecuali lega, plong, dan senang ketika itu. Serasa keluar dari kegelapan menuju cahaya terang benderang.

Saya tahu, keputusan menjadi muslim pasti akan membuat keluarga murka, terutama ayahku. Sebab, dia sangat berharap agar saya menjadi pendeta dan tokoh Kristen penerus di desa tersebut. Karena itu, setelah mengetahui saya masuk Islam, saya hanya diberi dua pilihan; kembali ke Kristen atau keluar dari rumah. Pilihan yang membuatku dilematis. Satu sisi, saya sangat sayang mereka, namun keputusan saya sudah bulat. Saya pun memilih opsi kedua, diusir dari rumah dan tidak dianggap sebagai anak. Meski menerima dengan berurai air mata, tapi tak ada penyesalan sedikit pun. Ini resiko sebuah perjuangan akidah, pasti harus ada yang dikorbankan.

Usai diusir dari rumah, saya memutuskan diri merantau ke Bandung, Jawa Barat. Di kota kembang ini untuk mendalami Islam, saya kuliah di IAIN Sunan Gunung Djati jurusan Dakwah. Meski tanpa bekal memadai tentang Islam, saya diterima pihak perguruan tinggi dengan sangat baik. Bahkan oleh pihak rektorat saya diberi tempat menginap di Asrama Mahasiswa.

Kendati termasuk telat, namun saya tetap bisa mengejar ketertinggalan saya. Pasalnya, sejak kecil saya dikaruniai Allah SWT untuk memahami sesuatu dengan cepat. Dulu, sewaktu di Sekolah Dasar (SD) saya bisa menamatkan hanya dalam tempo tiga tahun. Begitu juga ketika belajar di IAIN Sunan Gunung Djati, saya cukup mudah beradaptasi dengan pelajaran dan mulai paham banyak hal. Bahkan bisa membaca al Quran dengan lancar.

Meski sudah menjadi muslim, namun perasaan bersalah masih ada. Sebab, dulu saya pernah mengkristenkan orang muslim. Mengajak mereka masuk lubang hitam. Karena itu, untuk menebusnya, di kampus saya membuat buletin Jumat. Buletin yang diberi judul “Pendeta Ditantang Debat” itu saya kerjakan sendiri. Walhasil, banyak orang Kristen yang berdialog dengan saya. Alhamdulillah, dari usaha itu, saya pun telah meng-Islamkan sekitar 40 orang Kristen. Tak sedikit dari mereka yang pendeta. Melakukan hal itu tak begitu sulit. Sebab, saya diuntungkan dengan pemahaman Kristen dan doktrin mereka. Sehingga, saya bisa masuk lewat celah yang mereka tidak sadari.

Meski jauh dari orang tua, bukan berarti tak ada rindu. Perasaan itu, hingga kini tetap membuncah di dalam dada. Ingin rasanya pulang. Karena itu, jika telah selesai kuliah, dan tidak ada halangan, saya berjanji akan kembali ke tempat kelahiranku. Tak sekedar melepaskan rasa rindu sebagai seorang anak, tapi yang lebih penting adalah mengembalikan mereka ke jalan yang benar, Islam. Begitu juga dengan masyarakat yang mayoritas Kristen di sana . Insya Allah. Amin…(Seperti diceritakan Mukhlis kepada wartawan Hidayatullah.com)

Sumber: Hidayatullah.com, 19 Juni 2010

Civil Society Bukan Masyarakat Madani



Oleh KHOLILY HASIB*

Konsep masyarakat Madani berbeda dengan civil society. Konsep Masyarakat Madani tidak meninggalkan Al-Quran dan Sunnah



CIVIL SOCIETY atau dapat diterjemahkan dengan masyarakat sipil, menjadi perbincangan yang menarik dan didiskusikan oleh berbagai kalangan di awal tahun 90-an, mulai kaum akademisi, agamawan, dan negarawan, terutama setelah memasuki era reformasi. Pada Mei 2009 lalu, terbit sebuah buku kecil berjudul Islamisme Pluralisme, dan Civil Society. Buku ini adalah kumpulan makalah seminar "Islamisme, Pluralisme, and Civil Society" yang diadakan oleh IFID (The International Forum for Islamic Dialogue) pada April 1999.

Seminar ini mendiskusikan tawaran ancangan modernis penafsiran Islam dan menerapkan nilai-nilai Islam pada masalah pluralisme, civil society, demokrasi, HAM, peranan wanita, dan kedamaian dalam bidang politik. Di kalangan akademisi Indonesia, hampir civil society ini lepas dari kritik. Bahkan ada yang memahami bahwa civil society sepadan dengan masyarakat Madani.

Meski demikian, konsep civil society tidak dapat dilepaskan dari kesatuan organiknya dengan konsep-konsep Barat lainnya, seperti demokrasi, liberalisme, kapitalisme, rasionalisme, sekularisme, dan individualisme.

Masyarakat sipil adalah terjemahan dari istilah Inggris civil society, mengambil dari bahasa Latin civilas societas. Konsep civil society ini lahir pada abad ke-17, sezaman dengan lahirnya liberalisme politik dan agama di Eropa. Oleh karena itu, civil society ini tidak bisa terlepas dari pergolakan ideologi Barat pada era renaissance (zaman pencerahan Eropa) – yang menggagas kebebasan berideologi. Sebagai sebuah konsep, harus diakui bahwa civil society memiliki akar dalam sejarah pemikiran sekuler Barat.

Secara historis, akar perkembangan civil society bisa dilacak mulai dari Cicero, bahkan menurut Manfred Ridel, ia bisa dirunut lebih ke belakang lagi sampai Aristoteles. Namun yang jelas, Cicerolah yang memulai menggunakan istilah societes civilis dalam filsafat politiknya. Dalam tradisi Eropa, hingga abad ke-18, pengertian civil society dianggap sama dengan negara (the state), yakni suatu kelompok atau kekuatan yang mendominasi seluruh kelompok masyarakat lain. Terminologi ini baru bergeser maknanya pada paruh kedua abad ke-18. Pada saat itu, negara dan civil society baru dipahami sebagai dua entitas yang berbeda. Para pemikir yang mempelopori pembedaan ini adalah para filsuf pencerahan Skotlandia yang dimotori oleh Adam Ferguson dan beberapa pemikir Eropa, seperti Johann Forster, Tom Hodgkins, Emmanuel Sieyes, dan Tom Paine.

Adam Ferguson, sosiolog abad pertengahan, menggagas sebuah konsep civil society – yang diharapkan menjadi impian masyarakat Barat. Gagasan waktu itu dihadap-hadapkan dengan ide konsep masyarakat model Marxisme. Ide Ferguson ini kemudian dipopulerkan dan dikembangkan oleh Yohanes Lock dan JJ. Reusseu.

Ide civil society tumbuh dan berkembang pada era renaissance ketika timbul gerakan melepaskan diri dari dominasi agamawan dan para raja yang berkuasa atas dasar legitimasi agama. Abad pencerahan adalah kebangkitan Eropa, liberalisme, dan sekulerisme menjadi paham baru yang menentukan masa depan Barat.

Menurut A. Holl, civil society menekankan pada adanya ruang publik yang bebas (the free public sphere), di mana individu dan kelompok dalam masyarakat dapat saling berinteraksi dengan semangat toleransi. Masyarakat sipil menampilkan dirinya sebagai wilayah yang mengedepankan kepentingan individual, pemenuhan hak-hak individu secara bebas, tanpa ikatan agama, bahkan negara sekalipun. Dengan demikian dalam konsep civil society terdapat unsur liberalisme, sekularisme, dan pluralisme.

Liberalisme dan sekularisme menuntut suatu masyarakat yang toleran, mengakui kemajemukan budaya dan bebas menjalankan kehidupan tanpa kekangan gereja yang otoriter. Seiring meletusnya Revolusi Prancis pada tahun 1789, tumbuh sistem pemerintahan demokratik dan ekonomi kapitalistik – menggantikan sistem monarki yang didominasi agamawan dan gereja –, lahirlah ide masyarakat demokratis, bebas, pluralistik, dan toleran. Sistem sosial ini dikenal dengan civil society. Tokoh-tokohnya antara lain Adam Seligman, Tocquiville, Thomas Paine, Adam Ferguson, Yohanes Locke, dan JJ. Rousseau. Dapat disimpulkan, konsep civil society tidak dapat dilepaskan dari kesatuan organiknya dengan konsep-konsep Barat lainnya, seperti demokrasi, liberalisme, kapitalisme, rasionalisme, sekularisme dan individualisme.

Meniru Barat

Di Indonesia, istilah civil society oleh Nurcholis Madjid dipadankan dengan istilah masyarakat Madani. Meskipun mirip, namun keduanya secara prinsipil memiliki perbedaan. Civil society berakar dari Barat, sedangkan masyarakat Madani adalah hasil pemikiran yang mengacu pada piagam Madinah, yang dibangun di atas prinsip-prinsip Islam. Civil society dibentuk dengan ideologi demokratis. Meski menggunakan istilah masyarakat madani, Cak Nur rupanya secara konsepsi meniru civil society yang lahir di Barat. Sehingga masyarakat Madani yang dimaksud Nurcholis sebenarnya adalah civil society itu sendiri.

Menurut Nurcholis Madjid, masyarakat madani sebagai masyarakat yang berkeadaban memiliki ciri-ciri, antara lain egalitarianisme, menghargai prestasi, keterbukaan, penegakan hukum dan keadilan, toleransi dan pluralisme, serta musyawarah. Nilai-niali pluralisme ditegakkan dalam konsep masyarakat sipil, dan tentunya truth claim agama mesti dienyahkan karena dianggap akan menghalangi tegaknya demokratisasi dan toleransi beragama. Dengan demikian Cak Nur merekonstruksi konsep masyarakat Madani, yang bersenyawa konsep civil society.

Untuk membangun masyarakat sipil, Syamsul Arifin dalam buku Merambah Jalan Baru dalam Beragama menukil pendapat Chandoke bahwa ada empat kriteria yang harus dipenuhi; pertama, nilai-nilai masyarakat Madani, kedua, institusi masyarakat Madani, ketiga, perlindungan terhadap masyarakat, keempat, warga masyarakat Madani. Akan tetapi, Syamsul menaruh perhatian yang lebih pada poin pertama sebagai faktor terpenting untuk membangun civil society.

Nilai-nilai masyarakat Madani yang dimaksud adalah etika pluralisme. Dengan etika pluralisme pengakuan terhadap kemajemukan terbentuk dan terpola dalam masyarakat. Menurut Nurcholis, kesadaran tersebut bukan sekedar pengakuan yang bersifat pasif terhadap kemajemukan, akan tetapi juga pengakuan secara kreatif dengan menyesuaikan diri dengan kehidupan yang demokratis dan pluralis.

Dari sini tampak sekali, konsep masyarakat sipil yang akan dibangun adalah mengandung nilai-nilai pluralisme dan sekulerisme. Jika itu yang dikehendaki, maka agama bukan lagi memiliki otoritas penuh. Sebaliknya, nilai-nilai religius disesuaikan dengan kesepakatan sosial dan kondisi kemajemukan masyarakat. Itulah sebabnya barangkali aktivis JIL seperti Zuhari Misrawi yang menulis buku Al-Quran Kitab Toleransi dan Moqsith Gozali dengan bukunya Argumen Pluralisme Agama, mendekonstruksi ayat-ayat Al-Quran dalam rangka membentuk masyarakat sipil dengan nafas pluralisme.

Agama, bagi Islam Liberal tidak sepenuhnya dienyahkan, akan tetapi ditafsir ulang dan didistorsi agar sesuai dengan etika pluralisme atau nilai-nilai agama diletakkan dalam ruang privat yang sempit. Sebab, jika agama diberikan otoritas penuh dengan kecenderungan tafsir literal, maka bagi mereka, agama menjadi bencana – seperti yang pernah dikatakan Charles Kimballs dalam buku Is Religion Killing Us?: "Agama telah menampilkan gambaran perilaku destruktif".

Jadi konsep masyarakat Madani yang diingini Cak Nur pada hakikatnya adalam konsep civil society. Masyarakat yang dibangun oleh Rasulullah SAW di kota Madinah tidaklah seperti konsep civil society. Masyarakat yang dibangun oleh Rasulullah SAW sesungguhnya adalah masyarakat beradab, yang tidak meninggalkan prinsip-prinsip Islam. Al-Quran dan as-Sunnah menjadi landasannya.

Masyarakat beradab menurut Prof. Naquib al-Attas dalam buku Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam adalah masyarakat yang menyadari sepenuhnya tanggung jawab dirinya kepada Tuhan Yang Haq; yang memahami dan menunaikan keadilan terhadap dirinya sendiri dan orang lain dalam masyarakatnya; yang terus berupaya meningkatkan setiap aspek dalam dirinya menuju kesempurnaan. Intinya masyarakat beradab adalah masyarakat yang taat pada aturan Allah, bukan masyarakat sekuler dan demokratis sebagaimana dalam konsep civil society.

*)Penulis adalah peserta Program Kaderisasi Ulama (PKU) Institut Studi Islam Darussalam Gontor

Sumber: Hidayatullah.com,13 April 2010

Misi Kristen dan Budaya Jawa



Oleh Dr. ADRIAN HUSAINI

Kaum misionaris Kristen pun berusaha memisahkan antara keislaman dan keindonesiaan.


DISKUSI Sabtuan INSISTS, Sabtu, 24 Juli 2010 lalu membahas tema “Kristenisasasi dan Budaya Jawa”. Berbicara dalam acara itu adalah Susiyanto, peserta Program Kaderisasi Ulama Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia di Program Magister Pemikiran Islam—Universitas Muhammadiyah Surakarta. Dalam diskusi, ia sekaligus meluncurkan buku terbarunya yang berjudul Strategi Misi Kristen Memisahkan Islam dan Jawa (2010).

Dalam CAP ke-275 lalu, saat membahas tentang Perayaan Natal Bersama, kita sudah menyinggung tentang strategi budaya dalam penyabaran misi Kristen di Indonesia. Strategi budaya ini tampaknya digunakan untuk menggusur citra yang melekat pada bangsa Indonesia bahwa Kristen adalah agama penjajah. Kaum misionaris Kristen pun berusaha memisahkan antara keislaman dan keindonesiaan. Salah satu contoh adalah upaya mereka untuk mencegah penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan Indonesia.

J.D. Wolterbeek dalam bukunya, Babad Zending di Pulau Jawa, mengatakan: “Bahasa Melayu yang erat hubungannya dengan Islam merupakan suatu bahaya besar untuk orang Kristen Jawa yang mencintai Tuhannya dan juga bangsanya.”

Senada dengan ini, tokoh Yesuit Frans van Lith (m. 1926) menyatakan: “Dua bahasa di sekolah-sekolah dasar (yaitu bahasa Jawa dan Belanda) adalah batasannya. Bahasa ketiga hanya mungkin bila kedua bahasa yang lain dianggap tidak memadai. Melayu tidak pernah bisa menjadi bahasa dasar untuk budaya Jawa di sekolah-sekolah, tetapi hanya berfungsi sebagai parasit. Bahasa Jawa harus menjadi bahasa pertama di Tanah Jawa dan dengan sendirinya ia akan menjadi bahasa pertama di Nusantara. (Seperti dikutip oleh Karel A. Steenbrink, dalam bukunya, Orang-Orang Katolik di Indonesia).

Para pandakwah Islam yang datang ke wilayah Nusantara telah melakukan suatu proses Islamisasi bahasa dan budaya Nusantara. Bahasa Melayu telah di-Islamkan. Banyak kosa kata Melayu yang diubah konsepnya dan diisi oleh kosa kata yang berasal dari Islamic basic vocabulary (kamus dasar Islam). Istilah-istilah baru seperti “ilmu, adil, adab, hikmah, rakyat, musyawarah, daulah, wujud, dan sebagainya dimasukkan menjadi kosa kata Melayu. Dengan itu, bisa dipahami, jika belajar bahasa Melayu menjadi identik dengan belajar Islam. Bahkan, hingga kini, istilah Melayu di Malaysia, identik dengan Islam. seorang disebut sebagai “Melayu” jika dia beragama Islam.

Para pendakwah Islam juga berhasil melakukan proses akulturasi budaya Islam dengan budaya Jawa. Mayoritas orang Jawa kemudian memeluk agama Islam dan mereka sulit dipisahkan dengan keislaman. Karena itulah, tidak mudah mengubah agama orang Jawa menjadi Kristen. Sulitnya orang Jawa ditembus misi Kristen digambarkan oleh tokoh misi Katolik, Pater van den Elzen, dalam sebuah suratnya bertanggal 19 Desember 1863:

“Orang Jawa menganggap diri mereka sebagai Muslim meskipun mereka tidak mempraktekkannya. Mereka tidak bertindak sebagai Muslim seperti dituntut oleh ajaran “Buku Suci” mereka. Saya tidak dapat mempercayai bahwa tidak ada satu pun orang Jawa menjadi Katolik semenjak didirikannya missi pada tahun 1808. Dulunya Jawa ini sedikit lebih maju daripada sekarang ini. Sejak tahun 1382, ketika Islam masuk, Jawa terus mengalami kemunduran. Saya dapat mengerti sekarang, mengapa Santo Fransiskus Xaverius tidak pernah menginjakkan kakinya di Jawa. Tentulah ia mendapat informasi yang amat akurat tentang penduduk di wilayah ini, termasuk Jawa. Dan Portugis yang telah berhasil menduduki beberapa tempat disini menganjurkan agar ia pergi ke Maluku, Jepang, dan Cina, karena tahu tak ada apa-apa yang bisa dibuat di Jawa. Akan tetapi, dalam pandanganku di pedalaman toh ada sesuatu yang dapat dilakukan.”

Melihat fenomena itu, kaum misionaris Kristen kemudian membuat satu strategi budaya. Banyak misionaris menampilkan diri sebagai tokoh-tokoh budaya Jawa dan membuat berbagai upaya agar orang Jawa bisa berpandangan bahwa Kejawaan lebih identik dengan Kekristenan, ketimbang dengan Keislaman. Ringkasnya, orang Jawa lebih cocok menjadi Kristen ketimbang menjadi Islam. Sebab, Islam adalah agama Arab yang hanya cocok untuk orang Arab, bukan untuk orang Jawa. Sedangkan Kristen sudah mengalami proses akulturasi dengan budaya Jawa, sehingga lebih cocok untuk orang Jawa.

Dalam kaitan inilah, buku Susiyanto tersebut membedah liku-liku kiat misionaris yang didukung oleh orientalis Belanda untuk menjauhkan orang Jawa dari Islam. Sebagai contoh, dibuat kesan pada anak didik di sekolah-sekolah melalaui pelajaran sejarah, dengan cara mengangkat kebudayaan Hindu dan Budha sebagai warisan agung leluhur bangsa. Seolah-olah Indonesia besar dan jaya di masa Kerajaan Hindu dan Budha. Kedatangan Islam kemudian menghancurkan kejayaan Indonesia tersebut.

Berbagai peninggalan fisik di masa Hindhu Budha – seperti candi-candi dan sejenisnya -- diangkat sedemikian rupa, sehingga menggambarkan kejayaan Indonesia di masa lalu, di zaman pra-Islam. Candi diangkat sebagai simbol “kebesaran” bangsa Indonesia di masa lalu. Padahal, ungkap Susiyanto dalam diskusi tersebut, kebudayaan candi pada masa dibangunnya, sebenarnya tidak pernah menjadi bagian dari “jiwa” masyarakat Jawa. Candi-candi tersebut dibuat untuk mengokohkan kewibawaan kasta Brahmana dan Ksatriya. Sementara rakyat jelata, yang umumnya berasal dari kasta Sudra, seringkali dilibatkan dalam proses kerja paksa saat pembangunannya. Jadi proses pembangunan candi sebenarnya merupakan simbol ketertindasan kalangan rakyat jelata oleh kekuasaan yang berada di atasnya. Akan tetapi penderitaan rakyat yang bersifat demikian ini jarang ditampilkan dalam buku-buku sejarah maupun pewacanaan kebudayaan yang saat ini beredar.

Susiyanto juga mengingatkan bahwa usaha-usaha membangkitkan kebudayaan lama sebagai warisan bangsa yang dianggap luhur ini di negeri-negeri Islam, memiliki kepentingan strategis yang lebih besar. Tujuannya tak lain untuk mendistorsi ajaran Islam dan melepaskan pengaruh Islam di masyarakat. Sebagai contoh seorang orientalis Barat bernama Ceyler T. Young mengakui hal tersebut sebagai berikut: “Di setiap negara yang kami masuki, kami gali tanahnya untuk membongkar peradaban-peradaban sebelum Islam. Tujuan kami bukanlah untuk mengembalikan umat Islam kepada akidah-akidah sebelum Islam tapi cukuplah bagi kami membuat mereka terombang-ambing antara memilih Islam atau peradaban-peradaban lama tersebut”.

Usaha-usaha orientalis dan misionaris di era penjajahan, ternyata masih dilanjutkan pada era kini. Sejumlah buku yang hadir dari kalangan misionaris masih melanjutkan agenda untuk memarginalkan peran Islam. Bambang Noorsena misalnya, seorang tokoh Kristen Orthodoks Syria, dalam karyanya yang berjudul ”Menyongsong Sang Ratu Adil: Perjumpaan Iman Kristen dan Kejawen” berusaha membuktikan bahwa Kristen merupakan ajaran agama yang secara theologis mampu berinteraksi dengan ajaran Kejawen. Bambang Noorsena juga berusaha membuktikan bahwa sejumlah karya sastra Jawa memiliki kecenderungan menerima Kristen dan anti terhadap Islam.

Dalam kajian yang berlangsung di sekretariat INSISTS tersebut, Susiyanto telah membuktikan bahwa argumentasi yang digunakan oleh Bambang Noorsena untuk mempertahankan gagasannya adalah lemah dan tidak berdasar. Bambang Noorsena juga melakukan sejumlah manipulasi terhadap buku-buku yang digunakan sebagai referensi. Contoh yang jelas adalah manipulasinya terhadap karya B.M. Schuurman berjudul ”Pambijake Kekeraning Ngaurip”.

Dalam buku tersebut, Schuurman menemukan, Serat Dewa Ruci tidak mengandung nilia-nilai Kristiani, karena tidak mengakui dosa asal. Sebaliknya, Bambang Noorsena memanipulasi karya Schuurman, dan menyimpulkan bahwa Serat Dewa Ruci bisa dipertemukan dengan nilai-nilai Kristen. Serat Dewa Ruci itu sendiri merupakan cerita populer di Jawa yang tidak jelas benar penulisnya. Ada yang menyebut, cerita itu ditulis oleh Sunan Kalijaga. Tetapi, tidak dapat dipastikan. Serat ini menceritakan pertemuan Bima dan Dewa Ruci di dasar Samudera yang bertubuh mungil, tetapi mampu dimasuki oleh tubuh Bima yang jauh lebih besar.

Dalam kajian-kajian tentang sejumlah karya sastra Jawa, Bambang Noorsena mencoba memanipulasi karakter Nabi Isa yang berasal dari konsepsi Islam dengan mendistorsinya sebagai karakter Kristus yang berasal dari konsepsi Kristen. Karya orientalis dan misionaris semisal Philip van Akkeren sering digunakan oleh Bambang Noorsena untuk menguatkan argumentasinya. Padahal, karya-karya itu sendiri sudah mengandung manipulasi.

Contohnya adalah karya Philip van Akkeren yang berjudul “Sri and Christ: A Study of the Indigenous Church in East Java”. Dalam buku ini, van Akkeren berupaya mengkaji kisah Aji Saka dalam Serat Paramayoga karya R. Ng. Ranggawarsita. Hasilnya, Van Akkeren menyimpulkan bahwa Ranggawarsita, pujangga Jawa, memiliki “ketertarikan” terhadap agama Kristen. Alasannya, karya tersebut memuat cerita tentang Nabi Isa. Van Akkeren menyebutkan bahwa sebelum datang ke Jawa, Aji Saka telah masuk ke dalam agama Kristen di Yerusalem.(Akkeren, 1970: 46)

Konklusi Philips van Akkeren ini kemudian diikuti oleh Bambang Noorsena yang sering menampilkan dirinya sebagai tokoh dialog lintas agama. Dalam bukunya, “Menyongsong Sang Ratu Adil : Perjumpaan Iman Kristen dan Kejawen” Bambang Noorsena menggambarkan Aji Saka telah mengalami persentuhan dengan iman Kristen dengan menyembah Tuhan yang Maha Esa melalui Nabi Isa. Selanjutnya Noorsena mengutip pendapat Philip van Akkeren bahwa: ”dalam kisah Ranggawarsita ternyata simpati besar disisihkan bagi Kristus”. (Noorsena, 2007:209-210)

Sebenarnya, isi Paramayoga sendiri banyak mengambil inspirasi dari cerita pewayangan dan kisah para nabi mulai dari Adam hingga Muhammad. Awalnya, Aji Saka berguru kepada Dewa Wisnu di India. Setelah semua ilmu mampu diserap, Dewa Hindhu itu menasihati agar mencari kesejatian hidup dengan melanjutkan berguru kepada seorang imam yang lebih mumpuni bernama Ngusman Ngaji. Pada era itu diceritakan bahwa Nabi Isa sedang mengemban risalah di kalangan Bani Israil. Aji Saka meminta ijin kepada gurunya untuk menjadi sahabat (murid) Nabi Isa. Ngusman Ngaji tidak mengijinkan, sebab ia mengetahui takdir bahwa Aji Saka akan menjadi pengikut setia Nabi Muhammad dan menghuni Pulau Jawa.

Statemen sang guru dalam Paramayoga diuraikan sebagai berikut:

”Hal ini tidak kuijinkan, sebab engkau kelak harus mengabdikan dirimu sepenuhnya kepada Tuhan, tetapi itu bukan pekerjaanmu. Takdir menghendaki engkau menempuh karir panjang. Telah ditentukan, engkau akan menghuni Pulau Jawa yang panjang, di tenggara India. Jangan lupakan nubuatan ini. Dikemudian hari akan ada nabi lain dari Allah, yang terakhir, yang tidak ada bandingannya, bernama Muhammad, utusan Allah, yang telah memberi cahaya bagi dunia dan dilahirkan di Makkah. Engkau akan menjadi sahabat dekatnya”.(Akkeren, 1970:46).

Paramayoga memang menggambarkan bahwa tokoh Aji Saka yang ditakdirkan berumur panjang sempat bergaul dengan Nabi Isa.

Namun sebagaimana pesan gurunya, bukan ”panggilan” melainkan sekedar mengisi ”kekosongan” dalam penantian yang panjang kedatangan Nabi Muhammad. Jika dicermati, kisah Nabi dalam Paramayoga yang dimulai sejak era Adam hingga Nabi Muhammad lebih menunjukkan bahwa karya ini berusaha menampilkan kisah yang berasal dari konsepsi Islam, termasuk kisah tentang Nabi Isa. Sama sekali tidak terdapat cerita bahwa Aji Saka menganut Agama Kristen atau terkait Kristus yang berasal dari konsepsi Kristen.

Dengan demikian klaim, Van Akkeren dan Bambang Noorsena bahwa kisah Aji Saka merupakan titik perjumpaan antara Kristen dan Kejawen boleh dikatakan sekedar manipulasi belaka.

Upaya lain yang tersohor untuk memisahkan antara Islam dan Jawa dilakukan melalui penerbitan Serat Darmogandul. Kitab yang hingga kini tak jelas penulisnya itu memiliki ciri yang kental dengan semangat anti-Islam, pro-Kristen, dan pro-penjajah Belanda. Sikap anti-Islam ditujukkan misalnya, kitab Arab (Al Quran) harus ditinggalkan dan diganti Kitab Nabi Isa (Injil). Sedang sikap pro-Kristen terungkap dengan diangkatnya cerita Dawud-Absalom, Dawud-Uria, pohon pengetahuan, dan sejenisnya yang bersumber dari Perjanjian Lama serta mendukung misi Injil di Jawa.

Dukungannya terhadap penjajah ditunjukkan dengan pujian bahwa Belanda yang beragama Kristen adalah penyembah Tuhan yang benar dan lurus pengetahuannya.

Dalam bukunya, Susiyanto banyak memuat kutipan-kutipan isi Serat Darmagandul dalam bahasa aslinya (Jawa) yang menunjukkan bagaimana kitab ini seperti sengaja ditulis untuk menanamkan kebencian orang Jawa pada Islam dan para wali penyebar agama Islam di tanah Jawa. Isi kitab ini masih terus disebarkan ke tengah masyarakat Jawa, sampai sekarang. Koran Solo Pos, misalnya, menurunkan serial Darmagandul dalam sejumlah edisi penerbitannya. Serat ini juga banyak dijadikan rujukan dalam penulisan buku-buku sejarah nasional Indonesia.

Ironisnya, banyak orang tua Muslim yang tidak peduli, bahwa anak-anaknya di sekolah sekarang sedang dicekoki cerita-cerita sejarah yang justru mengecilkan peran Islam dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Inilah salah satu arti penting kehadiran buku Susiyanto ini: meluruskan sejarah Islam Indonesia yang selama ini banyak dimanipulasi oleh pihak lain.

Sumber: Hidayatullah.com, 30 Juli 2010

Thursday, July 29, 2010

Membangun Peradaban Bersama Al-Ghazali



Oleh ASMU'I*

Al-Ghazali telah mencontohkan, 'bagaimana pengembangan ilmu itu berkait erat dengan perkembangan Peradaban Islam'



PERADABAN Islam terbangun dan tegak berbasiskan ilmu pengetahuan. Ini sejalan dengan peran ilmu itu sendiri, yaitu sebagai prasyarat untuk menguasai dunia akhirat sekaligus. Karena nilai penting ini, selain kata-kata derivatifnya, dalam al-Qur'an terdapat 91 ayat yang mengandung kata-kata 'ilm, 67 ayat diwahyukan di Makkah, sisanya (24 ayat) di Madinah. Maka, jika saat ini umat Islam mundur, tentu karena terjadi krisis ilmu. Sehingga, tepat jika usaha membangun kembali peradaban Islam yang sudah nyaris lumpuh ini adalah dengan menegakkan kembali bangunan ilmu pengetahuan Islam.

Imam al-Ghazali telah dengan baik mencontohkan kepada kita 'bagaimana pengembangan ilmu itu berkait erat dengan perkembangan Peradaban Islam'. Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad ath Thusi Abu Hamid al-Ghazali. Beliau biasa dipanggil Abu Hamid. Sedangkan gelarnya adalah Hujjatul Islam dan Zianuddin. Bahkan, Ibn 'Asakir melihat beliau sebagai mujaddid (pembaharu) Islam abad ke-5 Hijriah (baca: Ta'rif al-Ahya' bi Fada'il al-Ihya', Hamisy Ihya' 'Ulum al-Din, jilid 1). Beliau dilahirkan di Thabrani, sebuah Desa di Thusi Khurasan (450-505 H/1058-1111M).

Imam al-Ghazali dan Perang Salib

Imam al-Ghazali adalah seorang tokoh pemikir muslim yang hidup pada bagian akhir dari zaman keemasan Islam di bawah khilafah Abbasiah yang berpusat di Baghdad. Kala itu, situasi politik dan ilmiah sedang mengalami krisis, baik karena motivasi ideologis maupun etnis dan ambisi duniawi. Di sisi lain, kekuatan Kristen Eropa merupakan ancaman serius, yang pada akhirnya terjadi perang Salib pertama, yaitu pada tahun 1095 (baca: Kitab al-'Ibar wa Daiwan al-Mubtada' wa al-Khabar). Pada 50 tahun pertama, pasukan Salib mendominasi peperangan. Sebagian jantung negeri Islam, seperti Syiria dan Palestina ditaklukkan.

Selama perang Salib tersebut, banyak kalangan yang mempertanyakan peran al-Ghazali. Namun, seiring dengan terbitnya kitab al-Jihad karya Ali al-Sulami, imam di masjid Ummayyad, Damaskus, dan tokoh perumus dan penggerak jihad melawan tentara Salib, peran al-Ghazali mulai terkuak. Bahkan, sebagaimana yang akan penulis jelaskan di bawah, peran beliau begitu penting dan menentukan dalam kemenangan yang dicapai oleh kaum muslimin setelah itu.

Upaya mendasar Al-Ghazali

Pada babak pertama perang Salib yang dimenangkan pihak musuh (tentara Salib), kondisi moral umat Islam begitu parah. Hal itu terjadi karena gaya hidup mewah pada kalangan elit, fanatisme mazhab (ashabiyah) yang parah, dan kerusakan pemikiran (baca: Ibn Katsir dalam Hakazha Zhahara Jaylu Shalahuddin wa Hakazha 'Adat al-Quds). Maka tidak heran jika pada saat itu, seruan ulama kepada umat muslim untuk berjihad tidak mendapat tanggapan positif.

Kondisi yang demikian menjadi perhatian serius al-Ghazali. Kajian terhadap kitab Ihya' Ulumuddin mengantarkan al-Kilani pada satu keyakinan bahwa kitab tersebut sengaja dipersiapkan al-Ghazali untuk menata kembali moral dan intelektual umat Islam kala itu. Jadi, yang al-Ghazali fikirkan tidak sekedar masalah perang Salib belaka, tapi masalah mendasar umat (moral dan keilmuan). Seruan ulama saat itu yang tidak diindahkan oleh umat Islam cukuplah menjadi bukti apa yang al-Sulami sampaikan dalam kitab al-Jihad benar adanya, yaitu bahwa memerangi pasukan Salib akan hampa jika tidak didahului dengan jihad melawan hawa nafsu.

Yang mendasar dan utama yang dilakukan para ulama seperti Al-Ghazali dalam menyembuhkan penyakit umat adalah dengan mengajarkan keilmuan yang benar. Ilmu yang benar akan mengantarkan pemiliknya kepada keyakinan, kecintaan pada ibadah, zuhud, dan jihad. Ilmu yang rusak akan menghasilkan ilmuwan dan manusia yang rusak, yang cinta dunia dan pasti enggan berjihad di jalan Allah. Ini masalah penting, karena itu, beliau mengawali pembahasan Kitab Ihya' Ulumiddin dengan bab tentang ilmu (Kitabul Ilmi).

Ini menarik. Sebab, al-Ghazali ternyata memulai penanganan krisis yang terjadi di kalangan umat Islam pada saat itu 'langsung kepada sumbernya', yaitu hati/aqal. Hal ini sangat sesuai dengan pesan baginda Rasulullah saw, "Sesungguhnya di dalam tubuh terdapat mudghah. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Itulah al-qalb." (HR. Muslim).

Mengenali Ulama

Ada dua perkara yang ditinggalkan Nabi saw untuk umatnya, yaitu al-Qur'an dan al-Sunnah. Siapa yang berpegang teguh kepadanya, maka tidak akan tersesat selamanya. Namun kenyataannya, tidak semua orang bisa memahami dua hal ini dengan baik. Karena itu, di samping keduanya, Rasulullah saw juga mewariskan para ulama, sebagaimana sabda beliau, "Sesungguhnya ulama adalah ahli waris Nabi, para Nabi tidaklah mewariskan emas dan perak, yang mereka wariskan adalah ilmu. Barang siapa mengambil warisannya maka ia mendapat keuntungan yang sempurna." (HR. Ibu Majah dalam Ibn Hajar al-Qalany, Fath al-Bary, juz 1). Peran penting ulama juga terungkap dari Hadits Nabi saw: “Bandingannya para ulama di bumi ini samalah seperti bintang-bintang di langit. Ia dijadikan pedoman dalam kegelapan di laut dan di darat. Kalau bintang-bintang itu pudar, mereka yang berpandukannya nyaris sesat” (Riwayat Imam Ahmad).

Hadits-hadits ini secara tegas menggambarkan hubungan erat antara peran ulama dengan ilmu. Para ulama inilah yang akan meneruskan misi kenabian, yakni amar ma'ruf nahi munkar. Bagi al-Ghazali, aktivitas amar ma'ruf nahi munkar ini adalah kutub terbesar dalam urusan agama. Karena itu, ia sangat penting. Jika ia tidak ada, maka syiar kenabian hilang, agama menjadi rusak, masyarakat bodoh, kesesatan tersebar, bahkan satu negeri akan binasa. Ini telah Allah swt nyatakan secara jelas dalam QS. Al-Maidah: 78-79. Bahkan, tidak adanya amar ma'ruf nahi munkar dapat menyebabkan binasanya seluruh kaum, sebagaimana sabda Rasulullah saw: "Tidaklah dari satu kaum berbuat maksiat, dan di antara mereka ada orang yang mampu untuk melawannya, tetapi dia tidak berbuat itu, melainkan hampir-hampir Allah meratakan mereka dengan azab dari sisi-Nya." (HR. Abu Dawud, at-Turmudzi, dan Ibnu Majah).

Melihat penjelasan ini, kita tidak bisa serta merta melabel seseorang yang karena telah melalui jenjang pendidikan tertentu sebagai seorang 'alim (ulama). Untuk bisa memetakan hal ini, alangkah baiknya melihat apa yang disampaikan oleh Al-Khalil bin Ahmad: "Arrijaalu arba'ah: Rajulun yadrii wa yadrii an-nahu yadrii fadzalika 'alimun fas-aluhu, wa ra julun yadrii wa laa yadrii an-nahu yadrii fadzalika naasin fa dzakkiruhu, wa rajulun laa yadrii wa yadrii an-nahuu laa-yaddri fa dzalika mustarsyidun fa-arsyiduhu, wa rajulun la yadrii wa laa yadriii an-nahuu laa yadrii fa dzalika jaahilun farfudhuhu." (Baca: Imam al-Mawardi dalam Adab ad-Dunya wa ad-Diin: 86).

Demikianlah, orang alim itu adalah orang yang tahu dan ia tahu bahwa dirinya tahu. Orang ini paham apa yang harus dilakukan dan apa yang harus ditinggalkan. Tidak sekedar itu, ia juga tahu hak-hak ilmu, kemudian menunaikannya. Artinya, walaupun seseorang itu sudah menempuh jenjang pendidikan tertentu, namun ia belum dikatakan sebagai seorang 'alim kecuali setelah mengamalkan ilmunya. Hal ini telah diungkapkan juga oleh Ali ibn Abi Thalib, "innamal alim man amila bima alima." Ini karena tujuan utama ilmu adalah untuk diamalkan. Dan amal itu sendiri harus dilandasi oleh ilmu. Atau dengan kata lain, orang alim itu hanya mengamalkan apa yang diilmuinya.

Berikutnya, orang alim itu tidak akan merasa puas dengan ilmu yang diketahuinya. Justru ia akan merasa perlu untuk belajar dan terus belajar. Dalam hal ini, Abdullah bin Mubarak berkata, "seseorang tetap dikatakan alim selagi ia terus menuntut ilmu. Jika ia menyangka ilmunya telah cukup, maka sesungguhnya dia masih bodoh."

Dan dalam sejarah, kita tahu, Imam Ahmad yang telah hafal satu juta Hadits (menurut ar-Razi), tidak pernah lepas dari pena dan tinta. Saat beliau ditanya oleh seseorang, "sampai kapankah Anda membawa tinta?" Beliau menjawab, "membawa tinta sampai ke kubur". Di sini, sungguh beliau bertekad mencari ilmu hingga ajal menjemput. Sebuah proses pendidikan yang tuula az-zaman.

Di masa hidupnya, al-Ghazali menunjukkan kepeduliannya kepada terbentuknya generasi ulama ini. Lebih dari itu, beliau bahkan memberikan keteladanan hidup. Ilmu yang tinggi dan peluang mendapatkan hidup mewah tidak menjadikannya lupa. Beliau justru memilih mendirikan pesantren di Thus, kampungnya sendiri. Tempatnya mengabdikan diri membina dan mempersiapkan kader-kader umat (ulama). Dari upaya ulama kala itu, seperti yang al-Ghazali lakukan inilah lahir satu generasi hebat, generasi Shalahuddin al-Ayyubi. Jadi, bukan seorang Shalahuddin saja, namun satu generasi Shalahuddin, yang pada 1187 berhasil memimpin pembebasan Kota Suci Jerusalem dari cengkeraman Pasukan Salib.

Hari ini, seiring dengan masuknya ide-ide/nilai-nilai Barat Modern dan Postmodern telah menyebabkan terjadinya pencampuran konsep-konsep Barat dengan konsep-konsep Islam atau masuknya konsep-konsep Barat ke dalam pemikiran Islam. Sehingga, usaha menegakkan bangunan ilmu lebih dimaksudkan pada mengarahkan kembali pemikiran atau pola pikir manusianya, agar sejalan dengan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dalam Islam.

Atau dengan kata lain, sejatinya, membangun peradaban Islam bukanlah membangun sarana prasarana fisik yang diberi label Islam, tapi mereorientasikan framework pemikiran umat Islam. Ini juga yang telah al-Ghazali contohkan. Dimana beliau dengan gigih dan cerdas telah meluruskan cara berfikir para filosof kala itu dalam bukunya 'Tahafut Falsafah'.

Melihat uraian di atas, jika hari ini banyak pihak yang mengeluhkan kualitas para akademisi muslim, harusnya kita berkaca pada diri sendiri, apakah selama ini kita telah punya perhatian khusus menyiapkan kader-kader umat yang unggul. Silakan diteliti, apakah ada satu perguruan tinggi Islam yang bisa diharapkan untuk menyiapkan kader umat semacam itu? Jika belum ada, harusnya kita mulai dari sekarang untuk menyiapkannya.

Penulis adalah alumni ke-II Program Kaderisasi Ulama (PKU) Gontor Ponorogo '09. Sedang menyelesaikan Program Pascasarjana di Universitas Darussalam Gontor Ponorogo, Fakultas Ushuluddin, Jurusan Pemikiran Islam.


Sumber: Hidayatullah.com, 16 April 2010

Hidupku Kujual untuk Dakwah



Cerpen ANSHOR

Kemanapun tugas baru, ia sudah mewakafkan seluruh hidupnya untuk jalan dakwah

Hidayatullah.com--Suatu pagi di awal Juni lalu, jarum jam di masjid Quba, kompleks Asrama Haji Sudiang, Makassar menunjukkan pukul 7.30. Sepi. Namun, di shaf paling depan dekat mimbar, ada seorang tengah khusu’ shalat. Khusu’ sekali. Sampai-sampai, berdiri, rukuk dan sujudnya hampir sama lamanya. Sekitar 10 menit ia menyelesaikan shalat dua raka’at. Mungkin saja, ia sedang melakukan shalat dhuha.

Ia memakai jubah putih dengan sorban merah dililitkan di kepalanya. Janggutnya yang mulai memutih. Di jidatnya terdapat dua titik hitam yang sebagian tertutup sorban. Orang sering memanggilnya Abdullah.

Pria berusia 62 tahun, berperawakaln kecil. Tingginya kira-kira 140 cm. Sepintas, orang yang melihatnya sebagai sosok orang lugu, jika tak mengenalnya secara dekat, orang akan keliru.

Usai shalat, Abdullah sempat berbincang-bincang kepada hidayatullah.com tentang masa lalunya.

“Diriku telah kujual di jalan dakwah untuk mensyiarkan Islam” tuturnya menjelaskan tentang jalan hidupnya yang kini sedang ia pilih.

Abdullah memulai ceritanya. Kala itu, sekitar tahun 1997, ia masih sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), tepatnya sebagai guru agama di sekolah negeri. Secara ekonomi, kebutuhan hidupnya memang telah terpenuhi. Tapi entah, ia mengaku, hidupnya senantiasa merasa resah.

“Waktu itu, saya merasa, Islam saya masih belum sempurna. Banyak hal yang belum saya terapkan,” ujarnya.

Dari waktu ke waktu, keresahan itu terus membuncah. Masih di tahun 1997, atas izin Allah, Abdullah diperkenalkan dengan sebuah lembaga Islam dari seorang juru dakwahnya. Sang da’i dianggap Abdullah sosok beda dengan da’i-da’i biasanya. Abdullah merasa baru kali itu, di tempatnya, ia melihat da’i yang semangat hidup dan membanggakan syariat-nya dengan tinggi.

Entahlah, Abdullah merasa seolah ada magnet yang mengajaknya untuk ikut bersama sang dai. Biidznillah, Ia akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan si dai. Jabatan sebagai guru agama dan PNS dengan gaji cukup luamaya ia tinggalkan.

“Tak ada yang lebih berharga dari dakwah,” ucapnya saat memutuskan bergabung menjadi juru dakwah.

Saat bergabung pertama, ia ditugaskan ke sebuah pesantren di Kalimantan, sebuah tempat yang baru baginya. Di tempat itu, ia mendapat tugas menjadi seorang guru. Dunia yang tak asing baginya.

Kendati demikian, Abdullah merasa tetap nampak bodoh. Kehidupan yang ada di lembaga ini menurutnya, tak banyak menerapkan teori, justru banyak mengamalkan agama secara langsung. Itulah yang dirasakan beda dengan ubudiyah Islam yang selama ini ia kenal dan ia terapkan semenjak kecil. Ia benar-benar merasakan Islam tak hanya teori yang dihapal, sebagaimana ia ketahui selama ini. Benar-benar dipraktekkan.

Tak pelak, Abdullah sangat menikmati hidup barunya. Tak ada kata penyesalan. Justru syukur yang tak terhingga yang dirasakannya.

“Sebuah nikmat yang jarang saya dapat,” katanya semringah.

Belum lama jadi guru di tempat itu, ia telah dipanggil untuk tugas dakwah. Ia ditugaskan merintis dakwah di daerah Kenangan, Grogot. Daerah yang akan dirintisya, dekat dengan kompleks perusahaan PT. Instruments Timber Corporation Indonesia (ITCI).

Karena mendapat respon bagus, dakwah di tempat baru tersebut berjalan mulus. Sambutan pun luar biasa. Praktis, Abdullah tidak mendapat halangan dalam dakwahnya. Tapi, baru sekitar tiga tahu tahun, ia dipanggil lagi oleh sang pimpinan dan dipindahkan untuk tugas baru membantu salah satu da’i merintis dakwah di Tarakan, Kaltim. Di Tarakan, ia hanya diberi waktu setahun.

Belum sempat peluh kering, bahkan istri dan anak-anaknya baru saja mengenal tetangga secara baik, ia dipindakan lagi merintis dakwah ke Bontang.

Namanya saja membuka lahan dakwah masih baru, pratis bermula dari nol. Abdullah terasa terjun bebas. Ia harus bekerja sekuat tenaga mengambil bagian yang bisa dikerjakan. Terkadang ngajar, gali pondasi, cari donatur, silaturahmi pada tokoh tak henti-hentinya ia lakukan.

Belum lama di Bontang, ia dipindahkan lagi menuju Manado. Di tempat ini, ia dapat amanah merintis cabang baru. Meski hal itu bukan seperti membalikkan kedua telapak tangan, tapi, yang namanya tugas harus siap. “Sebagai kader, saya harus sami’na wa ‘atona,” katanya.

Merintis lahan dakwah baru, bagi Abdullah adalah aset pahala. Meski bukan ia yang menikmati, tapi ia merasa pahala usaha dakwahnya akan mengalir. Karena itu, Abdullah tidak pernah berfikir jerih payahnya selama merintis. Ia serahkan semuanya pada Allah.

Meski sudah memeras keringat dan banting tulang, andai akhirnya ia disuruh pindah, detik itu juga ia harus siap, layaknya pasukan militer yang menerima tugas dari komandan.

Memang benar, di Manado, ia tak bertugas lama. Sebab ia dipindahkan lagi menuju Tarakan kembali. Di Tarakan, ia juga dikembalikan menuju Kenangan, Grogot lagi.

Dan, setelah beberapa kali pindah, akhirnya Abdullah sekeluarga ditarik lagi ke awal, menuju Kalimantan.

Sekitar sembilan kali Abdullah dipindah-tugaskan; sebagian ada yang mengawali lahan dakwah baru, sebagian ada yang hanya meneruskan. Banyak kenangan manis selama menjalani dakwah. Menurutnya, merintis dakwah adalah saat-saat romantis berdekat-dekatan dengan Allah. Pasalnya, dalam kondisi tak menentu dan tak memili apa-apa, ia justru harus meraih pertolonganNya.

Banyak pertolongan Allah yang telah dirasakannya. Pernah, suatu ketika sedang mencari lahan untuk membuka pesantren, tiba-tiba datang orang tak dikenal sedang mewakafkan tanahnya. Ibaratnya, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Padahal, hal itu tidak disangka-sangka sebelumnya.

Memang ia akhirnya memiliki lahan untuk membangun pondok pesantren, sayang, dana tak sepeserpun ia miliki untuk membangun yang harus membutuhkan bahan-bahan material.

Meski demikian, keyakinan yang tinggi akan bantuan Allah, terus ia tanamkan kuat-kuat dalah lubuk hatinya. Dengan doa tak henti-henti, ia juga terus berusaha mengelola lahan sebaik-baiknya. Ia masih ingat petuah pimpinan ketika ia pertama kali ditugaskan menuju medan dakwah.

“Cangkul saja tanahnya, jangan menunggu uang, insyaAllah uang akan datang sendiri,” begitu kenangnya.

Ketika sedang mencangkul lahan untuk memulai membangun pesantren, tiba-tiba datang seorang dermawan memberikan batuan. Mereka datang dari tempat-tempat jauh, yang dikenal selama ini. Ada yang dari Jakarta, Surabaya dan kota jauh lainnya.

“Min haitsu la yahtasib,” ujar Abdullah menyitir ayat Al-Qur’an.

Meski usianya semakin senja, tapi, tidak ada kata putus untuk berdakwah. Termasuk andai, jika disuruh merintis lahan baru untuk berdakwah. Baginya, kemanapun tugas baru, ia sudah mewakafkan seluruh hidupnya untuk jalan dakwah.

“Insya Allah saya siap,” tuturnya sambil memasukkan mushaf kecil ke dalam sakunya.

Sumber:Hidayatullah.com, 27 Juni 2010

Jangan Biarkan Hamil Sebelum Nikah

Oleh SAIFUL ANSHOR*

BARU-BARU ini, masyarakat di Surabaya dikagetkan berita pembunuhan seorang bayi. Mayat bayi tersebut ditemukan di toilet di sebuah SMA negeri di Surabaya. Bayi naas yang baru berumur sepekan itu dibunuh dengan cara lehernya dililitkan kabel listrik. Astaghfirullah! Sang pembunuh lalu memasukkan bayi ke dalam kardus dan dibuang ke toilet. Kontan, kasus tersebut membuat geger pihak sekolah dan warga Surabaya.

Tapi, ada yang lebih menghebohkan lagi. Ternyata si pelaku pembunuhan, adalah seorang anak remaja yang masih berusia 15 tahun. Pihak kepolisian menyebut, pelaku pembunuhan tersebut seorang siswa SMA berisinial ADI. Siswa tersebut baru saja mengikuti Masa Orientasi Siswa (MOS) di sekolahnya. Anehnya, sejak menjalani MOS tak ada seorang pun pihak sekolah yang curiga.

Tak pelak, kasus tersebut seolah menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan terlebih bagi orangtua. Kejadian ini menjadi tanda betapa potret dunia pelajar kita sangat buram. Meski tidak memukul rata, tapi seolah jadi identik dengan pergaulan bebas yang berujung pada aborsi dan pembunuhan.

Kendati begitu, tidak arif jika kita memposisikan pelajar sebagai satu-satunya biang keladi kesalahan (trouble maker). Pelajar adalah satu bagian dari bagian lain yang luas; pendidikan, lingkungan, dan keluarga. Jadi, lebih arif jika kasus tersebut jadi bahan intropeksi kolektif seluruh elemen. Sebab, bisa jadi, dia sang pelaku adalah korban kelalaian sistem pendidikan dan longgarnya kontrol orangtua.

Kejadian ini tidak bisa dianggap sepele atau dilihat sebelah mata. Kasus seperti ini tidak lain, jika diibaratkan adalah fenomena gunung es. Kecil di permukaan, tapi besar di dalam. Karena itu, jika dibiarkan, bisa jadi, efek dari fenomena ini akan jauh lebih besar. Kita akan semakin miris. Apalagi jika melihat dampak tekhnologi yang telah menuai banyak korban. Seperti kasus terakhir video porno artis. Gara-gara melihat video tersebut, banyak korban pemerkosaan.

Rekor mengerikan

Bangsa Indonesia sering bangga menjadi penduduk muslim terbesar di dunia. Sayangnya, kebesaran itu berbanding lurus dengan rekor prestasi moralnya. Sejak lama, di dunia pelajar kita dikenal istilah yang nampaknya bagus tapi sesungguhnya sangat menyedihkan. Istilah ayam kampus dan ayam abu-abu (gray chicken), sebuah cap untuk wanita panggilan. Secara tidak langsung istilah itu menggambarkan fenomena memprihatinkan di balik dunia pelajar dan mahasiswa.

Tahun 2008, temuan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta menunjukkan, mahasiswa di Yogyakarta ternyata lebih suka membeli pulsa telepon genggam daripada membeli buku kuliah. Untuk membeli pulsa setiap bulannya, rata-rata mereka rela merogoh kocek Rp 90.200. Sedang untuk membeli buku pelajaran hanya Rp 39.750.

Hasil penelitian biaya hidup mahasiswa Yogyakarta tahun 2008 ini dipaparkan peneliti Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran, Ardito Bhinadi di Seven Resto Jl C. Simanjuntak Yogyakarta, Selasa (25/11/2008). Survei itu dilakukan bekerjasama dengan Bank Indonesa (BI) Yogyakarta.

Laporan terbaru oleh Norton Online Family 2010, 96% anak-anak Indonesia pernah membuka konten negatif di internet. Menyedihkannya lagi, 36% orangtua mereka tidak tahu apa yang dibuka anaknya akibat pengawasan yang minim.

Laporan Norton Online Family 2010 dibuat berdasarkan penelitian yang dilakukan pada April 2010 oleh Leading Edge, sebuah firma riset pasar independen atas nama Symanctec Corporation.

Dalam laporan tersebut, hanya satu dari tiga orangtua tahu tentang yang dilihat anak-anak mereka ketika online, padahal anak-anak mereka menghabiskan 64 jam untuk online setiap bulan.

Data yang tak kalah mengejutkan, menurut kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pusat dr. Sugiri Syarief, MPA sebanyak 54 persen remaja di Surabaya mengaku pernah melakukan hubungan seks pranikah. Bahkan, angka tersebut mengungguli angka di sejumlah kota besar lainnya. Seperti di Jabodetabek yang hanya (51 persen), Medan (52 persen), dan kota Bandung 47 persen.

Sebuah data yang fantastis. Ternyata, Surabaya, kota yang dikenal basis kiai memiliki jumlah remaja yang tingkat amoralnya cukup tinggi.

Jika melihat sebelumnya, kasus seperti ini sebenarnya kerap terjadi. Baik yang terekspos media ataupun yang tidak. Sayangnya, urusan moral ini, belum menjadi perhatian serius bagi sejumlah pihak, mulai pemerintah, lembaga pendidikan dan orangtua.

Bandingkanlah jika soal akademik (kognisi) siswa. Pendidik maupun orangtua akan allout memberikan perhatian. Tak sedikit sekolah yang ‘tertangkap’ basah memberi bocoran jawaban pada siswanya di saat Ujian Nasional (UN).

Lantas, bagaimana nasib akhlak siswa? Di sekolah sendiri, seperti diketahui, ada guru agama dan bagian Bimbingan Konseling (BK). Tapi, ruang geraknya masih sangat terbatas dan belum bisa memberikan pemahaman dan kontrol yang signifikan. Guru agama terbatas oleh jam ngajar. Tidak terintegrasi ke seluruh mata pelajaran.

Karena itu, sekolah harus membuat program edukatif bermuatan peningkatan moral. Program ini bisa bisa bekerjasama dengan ulama, tokoh masyarakat dan lain sebagainya. Itu karena kebutuhan siswa bukan hanya kognisi semata, tapi juga akhlak dan spiritual. Jangan sampai anak cerdas intelektual, tapi amoral.

Orangtua juga harus lebih intensif melakukan pendampingan pada anak. Jangan membiarkan anak berinteraksi dengan dunia luar yang cenderung “liar” tanpa ada kontrol dan pendampingan. Sebab, bisa dikatakan, pembiaran sama saja memasukkan anak ke sarang penyamun.

Umumnya para orangtua bangga memberi fasilitas HP dan hal-hal yang berkaitan dengan teknologi informasi, hanya saja, sebagian besar mereka kurang aware. Mungkin kurang peduli atau bahkan tak bisa sama sekali.

Banyak orangtua tak tahu apa yang diperbuat anak-anak mereka di luar sana. Ada orangtua yang bangga anaknya bisa internet dan bahkan sering pamit ke internet. Ada orangtua bangga anaknya bisa komputer dan melengkapi fasilitas kamarnya dengan koneksi internet. Seolah-olah, melengkapi semua itu menunjukkan anak mereka tidak lagi gagap teknologi.

Sedikit orangtua peka. Apa yang dibuka anak-anak mereka di internet. Dengan siapa mereka bicara dan SMS-an setiap hari. Dengan siapa mereka pergi dll. Namun para orangtua begitu kaget luar biasa setelah anak-anak mereka sudah tidak pulang selama dua minggu atau hampir sebulan setelah mengenal pria dari Facebook.

Di era modern sekarang, paradigma orangtua dalam mendidik anak mengalami pergeseran. Di zaman dahulu kala, selepas sekolah, anak disuruh mengaji Al-Quran di langgar atau masjid, sekarang justru disuruh kursus bimbel. Karena umumnya para orangtua khawatir anaknya tidak lulus dan tak bisa diterima masuk perguruan tinggi bergengsi. Hanya sedikit orangtua yang khawatir jika anak mereka dewasa tanpa bimbingan agama dan spiritual.

Imbas materialism ini menjadikan kebanyakan orangtua ingin menjadikan anak mereka sukses dengan ukuran; menjadi dokter, insinyur atau profesi yang menggiurkan. Namun urusan spiritualitas dianggap bukan sesuatu menggiurkan. Setidaknya bukan sebuah masa depan yang menjanjikan.

Wajar jika banyak orang cerdas intelektual dan punya jabatan tinggi, tapi bukan manfaat yang dihasilkan melainkan kerusakan semata. Jabatan tinggi dan gelar mentereng toh akhirnya mereka korupsi.

Pihak orangtua juga tidak bisa berpangku tangan mempercayakan pendidikan anak ke sekolah semata. Karena hakikatnya, anak adalah tanggungjawab bagi kedua orangtuanya. Kelak, di akhirat, tanggung jawab itu akan dipertanyakan oleh Allah SWT. Kedua orangtua lah orang yang pertama dimintai pertanggungjawaban, bukan pihak sekolah. Karenanya, orangtua tidak boleh permisif terhadap anak. Orangtua harus selektif dan memberikan rambu kepada anak. Lebih dari itu, orangtua harus memberikan nilai religiusitas sejak dini di rumah kepada anak. Nilai religiusitas itu tidak hanya menjadi asupan kognisi, tapi juga menjadi kebiasaan dan karakter. Jika hal ini telah terbentuk, anak dengan sendirinya akan memfilter inklinasi eksternal.

Bila hal ini tidak dilakukan, maka, jangan kaget jika suatu saat, tiba-tiba putri Anda datang dan bilang “Ma!, Pa!, saya hamil”.

*)SAIFUL ANSHOR,Pemerhati masalah pendidikan dan sosial, tinggal di Surabaya

Nikah Siri dan Perlindungan Negara




Oleh ABU ROKHMAD

MEMBACA berita Jawa Pos (27/7) yang berjudul Eks Istri Siri Moerdiono Gugat UU Perkawinan menggelitik untuk diulas lebih dalam. Berita itu menyebutkan, Machica Mochtar (seorang artis penyanyi yang populer pada masanya) yang telah menikah siri dengan Moerdiono (seorang menteri pada era pemerintahan Soeharto) menggugat UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan ke Mahkamah Konstitusi.

Materi yang dimohonkan mencakup pasal 2 (2) yang mengatur pencatatan nikah dan pasal 43 tentang anak di luar perkawinan yang hanya memiliki hubungan dengan ibunya. Dua pasal yang digugat dianggap merugikan dirinya dan bertentangan dengan UUD.

Pertanyaan yang segera muncul adalah bukankah Machica dan ribuan perempuan pelaku nikah siri sudah mengerti dan memahami risiko nikah di bawah tangan? Lalu, bukankah hukum sudah mengatur bahwa pernikahan harus dicatatkan dan anak hasil nikah siri tidak memiliki hak-hak sebagaimana anak pada umumnya, mengapa UU-nya yang digugat bukan pelanggar hukum (pelaku nikah siri) yang dipenjara? Apakah negara berkewajiban melindungi hak-hak pelaku nikah siri yang notabene adalah pelanggar hukum?

Catatan Nikah

Hukum perkawinan di Indonesia masih menimbulkan problem yang pelik. Salah satu di antaranya adalah dualisme payung hukum perkawinan (hukum Islam dan hukum nasional). Sebagai bangsa dengan penduduk mayoritas memeluk Islam, positivisasi hukum perkawinan Islam tidak tuntas karena masih muncul pertentangan hukum di antara keduanya.

Soal pencatatan nikah, misalnya, masih menjadi pro-kontra di masyarakat. Sering masalah nikah siri dipandang sebagai masalah fiqh biasa. Begitu banyak ulama yang membolehkan atau bahkan menikahkan pasangan nikah siri. Padahal, hukum perkawinan sudah sangat gamblang menjelaskan risiko yang bakal dihadapi. Berlindung di balik hukum perkawinan Islam yang membolehkan nikah siri adalah argumentasi yang lemah, cupet, dan tidak kontekstual.

Tidak mungkin Islam membiarkan pemeluknya berada dalam suatu ikatan yang rapuh, mudah patah, dan berisiko terjadi ketidakadilan. Dalam masalah utang saja (perdata), Alquran menyuruh umatnya untuk mencatat semua transaksi yang pernah dilakukan. Tujuannya, debitor maupun kreditor tidak lupa dan kalau terjadi sengketa gampang dibuktikan dengan alat bukti yang otentik.

Masalah perkawinan yang berimplikasi panjang itu tidakkah cukup meyakinkan untuk dicatatkan kepada pihak yang berwenang. Dengan melihat implikasi dan risiko yang mungkin dihadapi, bukankah perkawinan justru lebih kuat illat (ratio legis)-nya untuk diadministrasikan secara baik (qiyas aulawi). Selama ini pelaku sering menganggap enteng risiko nikah siri. Mereka seolah lupa bahwa anak hasil perkawinan siri akan menanggung aib seumur hidup akibat kelakuan bapak-ibunya. Belum lagi masalah akta kelahiran, hak waris, wali nikah, dan seterusnya.

Pendeknya, dari perkawinan siri akan lahir generasi yang terputus rantai silsilahnya dan beresiko menjadi masalah sosial di kemudian hari.

Selain nikah siri, faktor-faktor pemicu seseorang nikah siri harus segera dihentikan. Nikah siri umumnya muncul karena poligami yang tidak jantan dari pelakunya. Pelaku poligami tidak perlu lagi membawa-bawa kitab suci untuk bertindak tidak adil kepada istri-istrinya. Ada mekanisme hukum untuk memohon dispensasi poligami. Jangan berpoligami dengan cara sembunyi. Sebab, cara itu hanya akan melahirkan generasi yang minder sejak lahir. Apalagi, suatu saat nanti anak hasil perkawinan poligami dan nikah siri akan membutuhkan kehadiran ayahnya secara fisik.

Perlindungan Negara

Apakah pencatatan nikah bertentangan dengan hak asasi seseorang (HAM) sehingga harus dihapuskan dari UU perkawinan? Hemat saya, tidaklah demikian. Pemenuhan dan perlindungan HAM seseorang harus tunduk kepada hukum yang berlaku. Sebab, HAM tanpa hukum akan mengacaukan tatanan kehidupan. Anarkisme dan perilaku semau gue bakal menciptakan hukum rimba di masyarakat. Negara berkewajiban mengatur kehidupan masyarakat agar menjadi tertib.

Negara pula yang menetapkan aturan bahwa siapa pun yang melanggar hukum harus menerima sanksi. Sebab, hakikat pelanggaran adalah penyelewengan dan pengingkaran terhadap suatu tertib hukum yang telah disepakati. Oleh karena itu, sudah sewajarnya bila negara membedakan perlakuan kepada seseorang yang taat hukum (baca: nikah resmi) dengan pelanggar hukum (baca: nika siri). Bila yang patuh hukum dan melanggar hukum disamakan, itu berarti negara telah bertindak tidak adil kepada warganya.

Betul, negara memang wajib melindungi setiap warga negara, termasuk mereka yang nikah siri dan anak-anak yang dilahirkannya. Bukahkah negara juga sudah memberikan hak-hak hidup bagi para narapidana yang telah terbukti kesalahannya. Memberikan hukuman bagi setiap orang yang melanggar adalah bagian dari tugas negara untuk melindungi warga negara lainnya. Perlindungan negara diberikan kepada setiap warganya sebatas dibolehkan UU.

Kasus Machica Mochtar bisa menjadi cermin bagi kita bahwa nikah siri biresiko besar bagi anak-anak yang tidak berdosa. Mereka terancam tidak diakui sebagai keturunan ayahnya, tidak menerima warisan, tidak memiliki wali saat menikah, dan seterusnya.

Negara sudah mengatur, perkawinan harus dicatatkan. Kalau ayah dan ibu tidak mau mencatatkan perkawinannya, itu berarti kesalahan dan dosa terbesar berada di pundak mereka.

Perkawinan bukan sekadar kontrak sosial biasa. Perkawinan merupakan mitsaqan gholidan (perjanjian yang suci dan kukuh) antara seorang laki-laki dan perempuan untuk membina bahtera rumah tangga. Setiap terjadi akad nikah, sejatinya Tuhanlah saksinya. Acara resepsi perkawinan sesungguhnya merupakan persaksian dari masyarakat bahwa seseorang telah sah menjadi pasangan suami istri.

Seseorang yang menikah hanya untuk main-main atau motif nikmat sesaat sama sekali tidak bisa dibenarkan oleh nalar apa pun. Sebab, dasar pernikahan adalah kejujuran. Rumah tangga tidak akan sakinah, mawaddah, dan rahmah bila salah satu pasangan telah berbohong.

Saya kira, nikah siri adalah bagian dari ketidakseriusan pasangan untuk menjalani dunia perkawinan secara lahir dan batin. Siapa pun yang menikah, tapi tidak mau dicatatkan kepada pihak berwenang, berarti sedang mempermainkan ikatan suci perkawinan. Seharusnya, tidak ada kasus Machica bila setiap orang paham hakikat perkawinan. (*)

Dr Abu Rokhmad MA, dosen IAIN Walisongo, Semarang


Sumber: Jawa Pos,Kamis,29 Juli 2010

Wednesday, July 28, 2010

District Six, Duka Saudara Kita



DISTRICT Six atau Distrik Enam (Indonesia) atau Distrik Ses (Afrika) bukan sembarang distrik. Ini wilayah bersejarah yang menumbuhkan komunitas warga coloured (berwarna) yang di dalamnya banyak keturunan Indonesia, begitu juga budaya indahnya. Namun, pemerintah apartheid mengusir mereka hingga menghancurkan perasaan, kemapanan, juga keutuhan mereka.
Areal ini terletak di Cape Town, Afrika Selatan. Di tempat itu orang-orang coloured yang sebagian besar mantan budak ditempatkan. Maklum, semasa apartheid, ada pemisahan permukiman berdasarkan ras dan warna kulit.
Nama District Six diberikan pemerintahan kulit putih pada 1867. Distrik ini dibatasi Sir Lowry Road di utara, Tennant Road di barat, De Waal Drive di selatan, dan Cambridge Street di timur.
Menjelang akhir abad ke-19, distrik ini sudah menjadi daerah yang amat ramai dan berkembang. Jumlah penduduknya sepersepuluh dari populasi di Cape Town. Penduduk yang dominan adalah Cape Malay atau coloured people. Dan, di antara warga Cape Malay itu, keturunan bekas budak dan tahanan politik Indonesia sangat dominan. Selain itu, penduduknya ada sedikit kulit hitam keturunan suku Xhosa, kulit putih, dan India.
Setelah Perang Dunia II, District Six sudah menjadi kosmopolitan. Lalu, tiba-tiba pada 11 Februari 1966, pemerintah mendeklarasikan District Six sebagai daerah khusus orang kulit putih lewat dekrit Group Areas Act. Penduduknya yang Cape Malay atau coloured dan hitam harus pindah. Ini membuat seluruh warga geram.
Sutradara David Kramer dan Taliep Petersen menggambarkan keresahan warga District Six dengan baik dalam opera mereka berjudul District Six. Opera ini mengambil setting pada 1967 ketika awal perpindahan diumumkan dan penduduk mulai didata pemerintah kulit putih.
Perpindahan kemudian dimulai pada 1968. Menjelang 1982, sudah ada 60.000 orang yang dipindah paksa ke Cape Flats, sejauh 25 kilometer dari District Six.
Alasan pemerintah waktu itu, District Six sudah berkembang menjadi daerah kriminal. Banyak perjudian, peredaran obat terlarang, dan kumuh. Namun, warga yakin bahwa alasan sebenarnya karena kulit putih ingin menempati District Six yang letaknya strategis dan sudah menjadi kota yang berkembang.
Banyak cerita duka dan nestapa pada periode pemindahan. Pemerintah aparheid tak peduli dengan protes warga. Mereka membuldozer rumah-rumah warga hingga rata. Hanya ada beberapa bangunan yang dipertahankan.
Ini duka yang terus diingat warga coloured atau Cape Malay. Dan, sebagian dari mereka punya darah Indonesia.
"Anda orang Indonesia harus tahu District Six. Ini tanah kebanggaan kami yang pernah direnggut dan menggoreskan banyak luka," kata Chris Mullins (54), warga coloured asal Cape Town yang mengalami perpindahan itu.
"District Six adalah rumah kami, tetapi pemerintah apartheid kemudian mengusir kami ke daerah terpencil," lanjutnya.
Setelah tumbangnya apartheid pada 1994, partai berkuasa African National Congress mengembalikan District Six kepada pemiliknya. Warga Cape Malay pun sebagian menemukan lagi tempatnya. Menjelang tahun 2003, pembangunan perumahan dimulai. Sebanyak 24 rumah akan menjadi milik orang yang berumur 80 tahun ke atas. Nelson Mandela, Presiden Afsel saat itu, menyerahkan sendiri kunci rumah secara simbolis kepada Ebrahim Murat (87) dan Dan Ndzabela (82). Tahun berikutnya, sekitar 1.600 keluarga dijadwalkan kembali ke District Six.
District Six menjadi bagian dari kisah pilu korban apartheid. Luka itu begitu dalam, hingga kisahnya masih diingat warga coloured atau Cape Malay. Bahkan, sebagian kisah itu terabadikan di dalam Museum District Six.
"Saya tak pernah melupakan kisah District Six. Anak saya pun tahu meski dia tak mengalaminya. Maka, saya selalu menyimpan semua lagu dan video yang bercerita atau berhubungan dengan District Six," tutur Chris Mullins yang dengan baik hati memberi kopi semua koleksinya tentang District Six kepada Kompas.com.
Karim lain lagi. Bapak berumur 35 tahun ini masih kecil ketika terjadi perpindahan warga District Six. Namun, dia ikut merasakan luka yang dalam setelah tahu cerita dari orangtua atau tetangganya.
"Ceritakan kisah District Six ini kepada teman-teman Anda jika sudah pulang ke Indonesia," kata Karim kepada Kompas.com dalam suatu percakapan tanggal 7 Juli 2010 lalu.

Sumber: Kompas.com, 28 Juli 2010

Ketika Suara Tuhan Tak Lagi Didengar

Oleh NI’MATUS SHOLIHAH

Ketika manusia melewati titik material oriented
kehancuran bukan sesuatu yang nisbi
Sebuah penyesalan akan menjadi keniscayaan
Tuhan tak serendah materi
Tuhan tak serendah waktu yang harus dikejar dengan mengabaikan sisi ruhaniah
Tuhan punya beribu alasan untuk membalikkan rencana besar manusia dalam seketika
Tuhan punya alasan menggagalkan semua usaha manusia dalam sekejap

Sebabnya...
Tuhan telah diduakan-Nya dengan materi
Tuhan telah duakan-Nya dengan waktu
Kadang, manusia merasa heroik
Padahal, Tuhan punya otoritas penuh terhadap semua yang diupayakan manusia
hingga titik darah penghabisan sekalipun

Keelokan manusia dalam menggenggam waktu
tecermin dalam setiap langkah dan aktivitas hidupnya
Manusia akan menjadi "juragan" waktu
Dengan begitu, manusia bisa mengatur waktu
bukan waktu yang mengatur manusia
Semua usaha manusia yang terangkum akan berbuah manis
dalam iringan-Nya. Insya Allah

Inspirationed by PakDhe Har (Yup, preff Dhuha- 270710)

Monday, July 26, 2010

Anak Harus Paham, Ada Agama Selain Islam




Oleh MOHAMMAD FAUZIL ADHIM


Jika anak tak memahami proses terjadinya penyimpangan agama-agama di dunia, mereka akan mengalami kebingungan, mengapa hanya Islam diridhai Allah?



ADA seorang kepala sekolah, kepada murid-muridnya selalu menunjukkan, bahwa di dunia ini hanya ada satu agama. Hal yang sama juga dilakukan kepada anaknya sendiri. Setiap kali ada hari libur keagamaan non-Islam, sekolah tetap masuk dan guru tidak boleh menginformasikan yang sesungguhnya. Guru hanya boleh menginformasikan kepada murid dengan satu ungkapan: "hari libur nasional". Apa pun liburnya! Sungguh, sebuah usaha yang serius!

Hasilnya, anak-anak tidak mengenal perbedaan semenjak awal. Dan inilah awal persoalan itu. Suatu ketika anaknya bertemu dengan anak rekannya yang non- Muslim. Begitu tahu anak itu bukan Muslim, anaknya segera bertindak agresif. Anaknya menyerang dengan kata-kata yang tidak patut, sehingga anak rekannya menangis. Peristiwa ini menyebabkan ia merasa risau, apa betul sikap anaknya yang seperti itu.

Tetapi, ini belum seberapa. Ada peristiwa lain yang lebih memilukan. Suatu hari salah seorang muridnya mengalami peristiwa "mencengangkan". Ia berjumpa seorang non-Muslim, yang akhlaknya sangat baik. Sesuatu yang tak pernah terduga sebelumnya, sehingga menimbulkan kesan mendalam bahwa ada agama selain Islam dan agama itu baik karena orangnya sangat baik.

Apa yang bisa kita petik dari kejadian ini? Semangat saja tidak cukup. Mendidik tanpa semangat memang membuat ucapan-ucapan kita kering tanpa makna. Tetapi keinginan besar menjaga akidah anak tanpa memahami bagaimana seharusnya melakukan tarbiyah, justru bisa membahayakan. Alih-alih menumbuhkan kecintaan pada agama, justru membuat anak terperangah ketika mendapati pengalaman yang berbeda. Beruntung kalau anak mengkomunikasikan, kita bisa meluruskan segera. Kalau tidak? Kekeliruan berpikir itu bisa terbawa ke masa-masa berikutnya, hingga ia dewasa. Na'udzubillahi min dzaalik.

Hanya Islam yang Allah Ridhai
Apa yang harus kita lakukan agar anak-anak bangga dengan agamanya, sehingga ia akan belajar meyakini dengan sungguh-sungguh? Tunjukkan kepadanya kesempurnaan agama ini. Yakinkan kepada mereka bahwa inilah agama yang paling benar melalui pembuktian yang cerdas. Sesudah melakukan pembuktian, kita ajarkan kepada mereka untuk percaya pada yang ghaib dan menggerakkan jiwa mereka untuk berbuat baik. Hanya dengan meyakini bahwa agamanya yang benar, mereka akan belajar bertoleransi secara tepat terhadap pemeluk agama lain.
Dalam urusan akidah, ajarkan dengan penuh percaya diri firman Allah Ta'ala: "... Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu. " (Al-Maa'idah [5]: 3).

Melalui penjelasan yang terang dan mantap, anak mengetahui, bahwa agama di dunia ini banyak jumlahnya, tapi hanya satu yang Allah Ta'ala ridhai. Baik orangtua maupun guru perlu menunjukkan kepada anak sejarah agama-agama, sehingga anak bisa memahami mengapa hanya Islam yang layak diyakini dan tidak ada keraguan di dalamnya. Jika anak tidak memahami proses terjadinya penyimpangan agama-agama di dunia, mereka dapat mengalami kebingungan mengapa hanya Islam yang Allah ridhai.

Pada gilirannya, ini bisa menggiring anak-anak secara perlahan menganggap semua agama benar. Apalagi jika orangtua atau guru salah menerjemahkan. Beberapa kali saya mendengar penjelasan yang mengatakan Islam sebagai agama yang paling diridhai Allah. Maksudnya baik, ingin menunjukkan bahwa Islam yang paling sempurna, tetapi berbahaya bagi persepsi dan pemahaman anak. Jika Islam yang paling diridhai Allah, maka ada agama lain yang diridhai dengan tingkat keridhaan yang berbeda-beda. Ini efek yang bisa muncul pada persepsi anak.

Kita perlu memperlihatkan pluralitas pada anak, bahwa memang banyak agama di dunia ini, sehingga kita bisa menunjukkan betapa sempurnanya Islam. Mereka menerima pluralitas (kemajemukan) agama dan bersikap secara tepat, sebagaimana tuntunan Rasulullah. Tetapi bukan pluralisme yang memandang semua agama sama.

Berislam dengan Bangga
Setelah anak meyakini bahwa Islam agama yang sempurna dan satu-satunya yang diridhai Allah 'Azza wa Jalla, kita perlu menguatkan mereka dengan beberapa hal.

Pertama, kita bangkitkan kebanggaan menjadi Muslim di dada mereka. Sejak awal kita tumbuhkan kepercayaan diri yang kuat dan harga diri sebagai seorang Muslim, sehingga mereka memiliki kebanggaan yang besar terhadap agamanya. Mereka berani menunjukkan identitasnya sebagai seorang Muslim dengan penuh percaya diri, "Isyhadu bi anna muslimun.” Saksikanlah bahwa aku seorang Muslim!

Kedua, kita biasakan mereka untuk memperlihatkan identitasnya sebagai Muslim, baik yang bersifat fisik, mental dan cara berpikir. Inilah yang sekarang ini rasanya perlu kita gali lebih jauh dari khazanah Islam; bukan untuk menemukan sesuatu yang baru, tetapi untuk menemukan apa yang sudah ada pada generasi terdahulu yang berasal dari didikan Rasulullah SAW dan sekarang nyaris tak kita temukan pada sosok kaum Muslimin di zaman ini.

Ketiga, kita bangkitkan pada diri mereka al wala' wal bara' sehingga memperkuat percaya diri mereka. Apabila mereka berjalan, ajarkanlah untuk tidak menepi dan menyingkir karena grogi hanya karena berpapasan dengan orang-orang kafir yang sedang berjalan dari arah lain. Bukan berarti arogan. Kita hanya menunjukkan percaya diri kita, sehingga tidak menyingkir karena gemetar. Sikap ini sangat perlu kita tumbuhkan agar kelak mereka sanggup bersikap tegas terhadap orang-orang kafir dan lembut terhadap orang-orang yang beriman, sebagaimana firman Allah Ta'ala pada Surat Al-Maa'idah ayat 54. "... bersikap lemah lembut terhadap orang yang Mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.”

Berislam dengan Ihsan

Jika percaya diri sudah tumbuh, kita ajarkan kepada mereka sikap ihsan. Kita tunjukkan kepada anak-anak itu bagaimana seorang Mukmin dapat dilihat dari kemuliaan akhlak dan lembutnya sikap. Ada saat untuk tegas, ada saat untuk menyejukkan. Bukan untuk menyenangkan hati orang-orang kafir karena hati yang lemah dan diri yang tak berdaya, tetapi karena memuliakan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Bukankah Rasulullah berdiri menghormat ketika jenazah orang kafir diantar ke tanah pekuburan? Bukankah Shalahuddin Al-Ayyubi, salah seorang panglima yang disegani dalam sejarah Islam, memperlakukan musuh-musuhnya dengan baik dan penuh kasih sayang ketika musuh sudah tidak berdaya?

Dorongan untuk Berdakwah
Agar anak-anak itu memiliki percaya diri yang lebih kuat sebagai seorang Muslim, kita perlu tanamkan dorongan untuk menyampaikan kebenaran serta mengajak orang lain pada kebenaran. Ini sangat penting untuk menjaga anak dari kebingungan terhadap masalah keimanan dan syariat. Tidak jarang anak mempertanyakan, bahkan mengenai sesama Muslim yang tidak melaksanakan sebagai syariat Islam. Misalnya mengapa ada yang tidak pakai jilbab.

Melalui dorongan agar mereka menjadi penyampai kebenaran, insya Allah kebingungan itu hilang dan berubah menjadi kemantapan serta percaya diri yang tinggi. Pada diri mereka ada semacam perasaan bahwa ada tugas untuk mengingatkan dan menyelamatkan. Ini sangat berpengaruh terhadap citra dirinya kelak, dan pada gilirannya mempengaruhi konsep diri, penerimaan diri, percaya diri dan orientasi hidup. *Wallahu a'lam bish-shawab.

Sumber: hidayatullah.com

Saturday, July 24, 2010

Joke-joke Sirikit Syah

(1) Wasiat Terakhir Suami
Hadi hampir meninggal... Di sebelahnya Imah, isterinya sedang menemani Hadi...
Hadi : "Imah.. sebelum aku mati nanti.. aku ingin berpesan padamu.."
Isteri : "Iya, bang.. apa pesan abang.."
Hadi : "Aku mau kau kawin dengan Harun... "
Isteri: "Uugh.. abang nie.. kan Harun tu musuh berat abang selama ini?! Apa abang rela menyerahkan saya kepadanya..? "
Hadi: "Aku ingin dia menderita seperti yang aku alami 30 tahun bersamamu.."

(2) Nggak Tega
Cowok : "Gua suka nggak tega ngeliat ada cewek berdiri kalau lagi naik bus, apalagi pas gua dapet duduk..."
Cewek : (kagum) "Terus, apa yang Mas lakukan?"
Cowok : "Gua langsung pura-pura tidur..."

(3) Dokter dan Pasien
Ini merupakan percakapan antara dokter dengan seorang pasien yg terkena muntaber.
Dokter : Sakit apa?
Pasien : Anu dok, mual-mual dan muntah-muntah. ..
Dokter : Buang air besarnya bagaimana?
Pasien : Seperti biasa Dok, jongkok...

Menghindarkan Bahaya Media


(Menyongsong Hari Tanpa Televisi, 25 Juli 2010)

Oleh ANGELA KEARNEY

INFORMASI, pengalaman, dan pemahaman mendorong perkembangan dan peradaban sejak kehidupan manusia dimulai. Pada saat yang sama, cara kita mendapatkan ilmu pengetahuan itu selalu menjadi perdebatan publik di berbagai kalangan. Informasi yang sangat banyak tersedia di ranah publik tersebut kini semakin mudah diakses melalui media massa dan media baru. Para orang tua dan politisi pun berdebat mengenai cara terbaik bagi anak-anak memperoleh informasi itu. Debat tersebut bahkan mendominasi media massa kita akhir-akhir ini.

Anak-anak Indonesia memang termasuk kelompok yang paling sering terekspos media. Bahkan, hasil studi terbaru oleh Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) menyatakan, pemerintah yang didukung UNICEF menemukan bahwa rata-rata anak-anak Indonesia menonton hingga 45 jam acara TV per minggu.

Anak-anak secara mudah mengakses internet melalui telepon genggam dengan teknologi WAP dan warung internet dengan harga yang relatif terjangkau. Telepon genggam dan internet merupakan sarana yang memudahkan anak-anak dalam mendapatkan informasi tentang pelajaran sekolah dan mengisi keingintahuan mereka akan budaya bangsa lain di luar batas negara Indonesia.

Namun, pada saat yang sama, akses yang lebih besar itu juga meningkatkan risiko anak-anak terancam bahaya dan terkena dampak negatif. Walaupun, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) harus diakui telah berupaya menekan risiko dampak negatif, khususnya dari televisi.

Riset YPMA menemukan, setidaknya seperempat dari acara televisi di Indonesia dianggap "tidak aman" bagi anak-anak yang ingin menontonnya tanpa bimbingan orang tua. Hampir 40 persen responden menyatakan bahwa keluarga mereka tidak membatasi akses internet anak-anak. Bermain video game yang mengandung banyak unsur kekerasan pun dilakukan tanpa pengawasan orang tua.

***

Keprihatinan publik akan konsumsi anak yang berlebihan terhadap media bukanlah barang baru. Sepuluh tahun lalu, The American Academy of Paediatrics merangkum lebih dari seribu penelitian yang memaparkan dampak konsumsi itu pada sisi psikologis anak setelah sekian hari menonton program TV yang penuh dengan tampilan kekerasan. Kesimpulan mereka, kebiasaan tersebut meningkatkan kemungkinan ditirunya perilaku kekerasan itu oleh anak. Selain itu, tampilan tersebut bisa mengakibatkan trauma pada anak.

Semakin sering menonton TV, menurut para ahli, semakin besar potensi mereka mengalami obesitas dan tidak berprestasi di sekolah. Badan tersebut merekomendasikan dialog yang rutin di antara anak dan orang tua tentang kebiasaan konsumsi media.

Jika hendak melindungi anak-anak dari bahaya negatif media, kita harus menyadari siapa yang menjadi pengemban tanggung jawab tersebut. Anak-anak tidak dapat disalahkan. Media pun seharusnya tidak dikekang dalam melaksanakan fungsi mendidik, menghibur, dan menginspirasi.

Badan-badan pengawas, lembaga penyiaran, dan penyedia konten harus memastikan bahwa peraturan yang bisa melindungi anak dari konten yang tidak aman, yang telah disepakati bersama, benar-benar akan dituruti bersama.

Anak-anak dan remaja sepatutnya mempelajari dan meresapi nilai-nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat melalui sistem pendidikan. Sistem itu pun harus mengajarkan bahwa media sangat berpotensi memengaruhi perkembangan anak dan harus diakses secara bertanggung jawab.

Yang terpenting, pengasuh utama anak-anak dalam keluarga harus senantiasa bertanya, "Apa saja yang ditonton anak-anak kami? Apa saja yang mereka lihat di internet? Apa saja permainan yang mereka mainkan? Dengan siapa mereka berinteraksi?"

***

Besok, 25 Juli, beberapa organisasi yang peduli terhadap hak anak mengajak semua anggota keluarga beranjak dari hadapan televisi dan media lain pada acara tahunan Hari tanpa TV. Tujuan hari itu adalah mengajak para keluarga melakukan aktivitas bersama. Itu adalah cara yang paling jitu untuk memulai diskusi dalam keluarga soal mengatur interaksi anak-anak dengan media.

Perlindungan anak-anak yang paling ampuh berasal dari keluarga masing-masing. Jika kita menutup arus ilmu pengetahuan yang bisa diperoleh melalui media, anak-anak tidak diuntungkan. Yang lebih efektif adalah memberikan penjelasan rasional tentang alasan kita harus menghindari konten yang bisa memberikan dampak negatif kepada anak-anak. Tanggung jawab itulah yang diemban keluarga dan siapa saja yang peduli tentang anak-anak kita.

Bagi anak-anak, media menyediakan kesempatan berkreasi dan belajar. Kita seharusnya tidak mengekang anak-anak. Dengan begitu, mereka bisa mengambil kesempatan tersebut sepenuhnya.

Konvensi Hak Anak yang telah diratifikasi Indonesia secara jelas menyatakan bahwa anak-anak berhak mengusahakan, menerima, serta memberikan segala macam informasi dan gagasan, terlepas dari perbatasan wilayah baik secara lisan maupun tertulis atau dalam cetakan, dalam bentuk karya seni atau media lain yang dipilih anak. Pengunaan hak itu bisa bergantung pada pembatasan-pembatasan tertentu, sebagaimana dinyatakan oleh undang-undang untuk melindungi keamanan nasional, ketertiban umum, kesehatan, dan moral.

Konvensi tersebut juga mengatur agar anak-anak mempunyai akses akan informasi dan bahan-bahan dari beraneka sumber nasional maupun internasional yang beragam sembari mendorong pengembangan garis-garis pedoman yang tepat untuk melindungi anak dari kemungkinan pengaruh buruk sumber-sumber tesebut.

Pendek kata, konvensi itu menjunjung tinggi keseimbangan antara mendorong dan memberdayakan anak-anak untuk bisa mempunyai akses terhadap informasi, ilmu pengetahuan, dan ide-ide. Konvensi tersebut juga melindungi mereka dari ancaman bahaya. Itu adalah standar yang harus diraih semua pihak.

Anak-anak dan remaja tidak perlu takut, apalagi ditakuti media. Mereka harus merasa terlindungi saat menjelajahi dunia. Ilmuwan Einstein menuturkan bahwa daya imajinasi lebih penting daripada ilmu pengetahuan. Jika menghalangi anak-anak dari kesempatan melatih imajinasi itu, kita mengekang mereka. Yang terpenting adalah pengawasan orang tua yang lebih cermat, bagaimana kita bersama-sama menuntun perjalanan mereka secara terbuka dan jujur serta menghormati hak-hak mereka. (*)

*) Angela Kearney, perwakilan UNICEF di Indonesia
Sumber: Jawa Pos, Sabtu, 24 Juli 2010

Wednesday, July 21, 2010

Peribahasa Gaul

Oleh DILLA KIRANA

1. ariel teriak tanda tak dalam
2. sekali merengkuh luna, cut tari aura kasih, dll terlampaui
3. bagai ariel merindukan luna (=bulan, prancis)
4. air susu luna,dibalas ariel tuba
5. (jawa) luna luna angger kelakon
6. tak ada luna, tari pun jadi
7. ariel tenang menghanyutkan
8. ariel luna dalam perahu, cut tari tak tahu
9. ariel cucuran atap, jatuhnya ke pelimbahannya luna juga
10. bagai luna di ujung tanduk ariel
11. lain luna lain tari, lain orang lain mainnya
12. bagai luna dibelah ariel
13. luna tak selebar daun kelor

Monday, July 19, 2010

Qurban vs Kelaparan Global



Oleh MIFTAH ARIEF

PADA 1974, Henry Kissinger, Menlu Amerika Serikat saat itu, dalam Konferensi Pangan Dunia pertama di Roma menyatakan bahwa dalam 10 tahun mendatang tidak akan ada lagi anak pergi ke tempat tidur dengan perut yang lapar. Pada 2009, 35 tahun kemudian, dalam konferensi dengan tema yang sama di Roma, Perserikatan Bangsa-Bangsa mengumumkan bahwa 1 miliar manusia kini pergi ke tempat tidur dengan perut yang lapar.
Gambaran ini menunjukkan bahwa dunia telah gagal mengatasi krisis pangan. Ke depan, menurut ramalan The Economist, krisis pangan itu akan makin parah. Mulai saat ini hingga 2050, jumlah penduduk akan naik 33,33 persen atau sepertiganya dibanding sekarang. Namun, kebutuhan pangan akan naik 70 persen dan kebutuhan daging naik 100 persen.
Prediksi itu, The Economist melanjutkan, berdasarkan penilaian positif dari naiknya tingkat ekonomi negara-negara berkembang yang berakibat pada naiknya konsumsi karbohidrat dan protein penduduknya. Kondisi ini jelas akan sangat mengkhawatirkan karena, pada 2050, luas tanah-tanah pertanian dan peternakan makin berkurang dan pengaruh global warming, yang menghancurkan pertanian dan peternakan, makin signifikan.
Kita masih ingat, pada 2007 dan 2008, dunia dilanda krisis pangan. Harga gandum, beras, dan jagung naik luar biasa. Di Pakistan, misalnya, orang antre makanan di dapur-dapur umum. Thailand, negeri pengekspor beras terbesar di dunia, saat itu memutuskan tidak mengekspor beras lagi. Di Eropa Timur, banyak orang kelaparan karena harga gandum naik tinggi sekali. Di Afrika, ratusan ribu bahkan jutaan orang mati karena kelaparan.
Ini sebuah pemandangan menyedihkan pada 2007 dan 2008. Meski pada 2009 pemandangan antre makanan itu hilang dari layar kaca dan surat kabar, sesungguhnya krisis pangan masih terjadi. Saat ini di Asia dan Afrika, seperti dilaporkan PBB, ratusan ribu bahkan jutaan manusia masih dilanda kelaparan.
Tapi benarkah dunia dilanda kelaparan? Menurut Muhammad Yunus, saat ini planet bumi sebetulnya masih mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduknya. Persoalannya, motivasi ekonomi dan kekuasaan negara-negara tertentulah yang menyebabkan distribusi makanan berlangsung tidak adil.
Negara-negara kaya, seperti Amerika dan Eropa Barat, misalnya, lebih suka membuang gandum dan kentangnya ke tengah laut jika harga barang-barang tersebut anjlok di pasar internasional. Mereka lebih mendahulukan stabilitas harga yang sesuai dengan yang diinginkannya (agar tidak rugi secara ekonomi) ketimbang membantu masyarakat miskin yang lapar di negara-negara berkembang.
Benar apa yang dikatakan Mahatma Gandhi bahwa bumi bisa memenuhi kebutuhan makan manusia, tapi tidak bisa memenuhi keserakahan manusia. Dan keserakahan inilah yang membuat miliaran penduduk bumi kelaparan.
Sebagai gambaran, betapa ironisnya fenomena ini ketika miliaran manusia di Asia dan Afrika pergi ke tempat tidur dalam kondisi lapar. Di bagian dunia lain, seperti di Amerika dan Eropa Barat, banyak sekali penduduk yang membuang-buang makanan. Edward, seorang profesional kelas menengah di Texas, seperti ditayangkan dalam Oprah Winfrey Show di Metro TV beberapa waktu lalu, mencoba memungut benda-benda dari tempat sampah orang-orang kaya di Amerika. Ternyata lebih dari sepertiga sampah mereka masih bernilai ekonomi.
Bukan hanya sampah barang-barang elektronik yang masih bisa dipakai, kata Edward, tapi juga makanan dan minuman dalam kaleng yang mereka buang pun masih layak untuk dikonsumsi.
Gaya hidup “bermewah-mewahan” manusia inilah yang menjadikan orang lain kelaparan dan bumi makin rusak. Gaya hidup seperti itu harus dilawan dengan gaya hidup sederhana yang hanya mencukupkan konsumsi diri sesuai dengan yang dibutuhkan tubuh. Di Amerika Serikat, misalnya, kini muncul sekelompok manusia yang menganut faham freeganism, sebagai antitesis dari gaya hidup hedonisme yang bermewah-mewahan tersebut.
Dalam situs Oprah Winfrey disebutkan, “Freegans are people who employ alternative strategies for living based on limited participation in the conventional economy and minimal consumption of resources. Freegans embrace community, generosity, social concern, freedom, cooperation, and sharing in opposition to a society based on materialism, moral apathy, competition, conformity, and greed.”
Jika menelaah bagaimana seorang freegan hidup seperti definisi di atas, barangkali kelompok ini bisa diidentikkan dengan gerakan tasawuf modern. Sementara gerakan tasawuf di dunia Islam, misalnya, muncul sebagai reaksi atas keserakahan dan gaya hidup hedonisme para elite politik dan ekonomi zaman kekhalifahan Umayyah, gerakan freeganism muncul sebagai antitesis dari gaya hidup bermewah-mewahan kelas menengah dan atas di Amerika. Misi kaum sufi dan freegan dalam beberapa hal mungkin bersinggungan: menghindari materialisme, mengembangkan kasih sayang, dan melawan keserakahan.
Di tengah miliaran manusia yang kelaparan akibat keserakahan manusia di bagian dunia yang lain itu, nilai “pengorbanan” seperti dicontohkan Ibrahim menjadi sangat kontekstual. Allah memberikan contoh kemuliaan hati Ibrahim ketika bersedia “mengorbankan putra tercintanya” sebagai tanda keimanan terhadap-Nya. Jika kita bisa membayangkan betapa Ibrahim mau mengorbankan “Ismail”, yang paling dicintanya, untuk Allah, kita pun bisa bertanya kepada diri kita: apa yang bisa kita korbankan untuk Allah? Benar, saat itu Allah mengganti Ismail dengan seekor kambing, tapi lihatlah ketulusan hati Ibrahim dalam mengikuti perintah Tuhannya tersebut.
Bagi Ibrahim, Ismail jelas lebih berharga dibanding apa pun. Berapa pun harta yang dimiliki Ibrahim, tidak ada nilainya dibanding Ismail. Dan itulah yang dikorbankan Ibrahim. Sekarang bagaimana dengan pengorbanan kita untuk membuktikan keimanan kita kepada Allah?
Dari perspektif inilah umat Islam seharusnya tidak terjebak pada simbolisme kurban dengan kambing, unta, atau sapi. Tapi lebih dari itu, simbolisme tersebut harus diwujudkan dalam pengorbanan yang lebih besar dari sekadar memotong kambing dan sapi. Di tengah miliaran manusia yang kelaparan, umat Islam dituntut untuk berkorban lebih jauh lagi: berupaya memberikan makanan dan instrumen mencari makanan (pendidikan, keahlian, dan lain-lain) untuk mereka yang lapar dan kekurangan dengan berbagai cara yang bisa dilakukannya. Setiap orang, dengan kemampuan, keahlian, dan profesinya, punya cara untuk berkorban demi mengatasi kelaparan yang menimpa miliaran manusia tersebut. Menanam satu pohon pun, bagi orang yang tak bisa berbuat lain kecuali itu, merupakan upaya pengorbanan untuk mengatasi kelaparan tersebut.
Akhirnya alangkah baiknya jika kita kembali mengenang hadits Qudsi ini. “Wahai manusia, kenapa engkau tak memberi-Ku makanan ketika Aku lapar?” kata Allah. “Bukankah Engkau tidak pernah lapar ya Allah?” Rasulullah bertanya. “Benar, Rasul-Ku. Aku tidak pernah lapar. Tapi Aku menyatu bersama mereka. Mulutnya adalah mulut-Ku. Laparnya adalah lapar-Ku!”.

Sumber: Surabaya Post, Kamis, 26 Nopember 2009
*) Miftah Arief, Peneliti Indonesia Democracy View (IDV)

Blog Archive