Blog

Blog

Thursday, December 30, 2010

"Perahu Nabi Nuh" di Lampulo, Banda Aceh


BANDA ACEH - Pagi itu, becak motor yang membawa dua penumpang melaju santai di ruas jalan menuju tempat pendaratan ikan Lampulo, Kota Banda Aceh, Nanggroe Aveh Darussalam. Di sisi kiri jalan, puluhan unit kapal ikan bersandar di dermaga kayu pinggir Sungai (Krueng) Aceh yang airnya bewarna kecoklat-coklatan.

Beberapa nelayan yang bertelanjang dada asyik merajut jaring di atas kapal. Tidak ada aktivitas kapal berlayar di Krueng Aceh pada Ahad, 26 Desember 2010.
"Pak, kenapa tidak ada boat berlayar pagi ini, lazimnya aktivitas nelayan yang pulang atau pergi melaut untuk menangkap ikan pada pagi hari seperti di daerah lain," tanya penumpang becak motor yang mengaku dari Jakarta dan tengah mengisi liburan akhir tahun di Banda Aceh.

"Hari ini, para nelayan seluruh Aceh tidak melaut untuk mengenang kembali peristiwa tsunami enam tahun silam," kata Usman, pengemudi becak motor itu.

Mata wisatawan itu tertuju pada sebuah rumah yang di atasnya terdapat seunit perahu tidak beda dengan boat-boat yang bersandar di TPI Lampulo tersebut. "Kapal nelayan yang ada di atas rumah warga itu merupakan salah satu bukti tsunami dan orang-orang menyebutnya sebagai `perahu Nabi Nuh` yang terhempas gelombang laut enam tahun silam," kata Usman.

Saksi enam tahun lalu menyebutkan, 59 warga di atas kapal ikan nelayan yang terhempas ke daratan terselamatkan saat tsunami, 26 Desember 2004. Dan kisah para korban tsunami itu tertuang dalam sebuah buku saku yang ditulis oleh 10 dari 59 orang yang menjadi penumpang perahu nelayan tersebut, enam tahun silam. Buku saku itu berjudul Mereka Bersaksi.

Abasiah, salah seorang korban selamat, mengisahkan, saat tsunami menjangkau permukimannya di Lampulo dengan ketinggian lebih dari satu meter, tiba-tiba perahu nelayan itu muncul di hadapannya. "Waktu itu, kami sekeluarga yang masih berada di dalam rumah langsung ke luar, dan tanpa pikir panjang memanjat kapal yang sudah berada di hadapan kami," katanya.

Karena air laut yang mencapai daratan terus meninggi, sebagian warga keluar melalui atas rumah untuk mencapai kapal nelayan itu. "Itu kapal bersejarah dan telah banyak warga terselamatkan dari tsunami," kata Abasiah.

Abasiah, warga Lampulo yang rumahnya berdekatan dengan TPI itu menceritakan awal "perahu Nabi Nuh" tersebut bertengger di atas atap rumah permanen miliknya. "Awalnya, saya mengira perahu itu sengaja didatangkan untuk menyelamatkan orang-orang dari amukan air laut menerjang permukiman penduduk," katanya.

Di dalam rumah permanen yang kini masih bersemayam "perahu Nabi Nuh" itu, Abasiah tidak sendiri ketika tsunami sebab ada anak-anaknya yaitu Agin, Ghazi, Thoriq, Zalfa, dan seorang putri angkatnya, Yanti.

"Dari jendela lantai atas, saya melihat banyak boat ikan yang hanyut di depan rumah dengan kecepatan tinggi, seperti mobil-mobilan yang ditarik mundur lalu dilepaskan," ujar Abasiah.

Abasiah mengisahkan, saat itu mereka yang berada di lantai dua bangunan rumahnya, terus berdoa dan berzikir seraya saling meminta maaf karena "akan berakhirnya sebuah kehidupan". "Waktu itu tidak ada tangis, tapi wajah-wajah ketakutan sambil terus berdoa dan berzikir berharap hanya ada pertolongan dari Allah, jika memang kami masih diberi kesempatan untuk hidup," katanya.

Setelah semuanya berada di atas "perahu Nabi Nuh" itu, Abasiah dan orang-orang lainnya terus mengaji, berdoa, berzikir kepada Allah, selain menyaksikan kehancuran akibat diamuk tsunami, 26 Desember 2004. "Kami melihat kapal cepat yang membawa penumpang Pulau Sabang-Banda Aceh tidak bisa berlabuh dan helikopter terbang di atas," katanya.

Saksi peristiwa tsunami lain, Samsuddin Mahmud, mengaku bahwa ia dan beberapa orang tetangga merupakan rombongan pertama yang naik ke atas "perahu Nabi Nuh" itu. "Awalnya kami mengira bahwa perahu ini sengaja didatangkan oleh `malaikat` untuk menyelamatkan orang-orang," kisahnya.

Sebelum menaiki perahu itu, Samsuddin yang sudah berada di lantai dua rumah tetangganya mengaku ketinggian di lantai tersebut lebih satu meter dan bewarna hitam pekat. "Ketika saya sudah berada di lantai dua rumah milik tetangga, air sudah sebahu. Kemudian, tiba-tiba terlihat perahu itu dan kami langsung berebut menaikinya," katanya.

Kisah korban selamat lainnya, Erlina Mariana Rosada Sari, mengisahkan bahwa sewaktu dalam boat tersebut, sempat gelombang laut silih berganti menerjang daratan dan dalam waktu bersamaan guncangan gempa masih terasa. "Orang-orang di dalam perahu ini terus mengumandangkan azan dan berdoa. Hanya doa dan zikir yang bisa kami lakukan saat tsunami itu," katanya.

Erlina menyatakan, dari atas perahu itu menyaksikan rumahnya luluh-lantak dan daratan tanpa bekas karena sudah dipenuhi air keruh. Ibarat hamparan lautan yang luas.

"Perahu Nabi Nuh" yang tidak lagi berlayar dan tetap tegak bersandar di atas atap rumah Abasiah di gampong Lampulo. Bahkan, tidak bertuan. Kini, tempat itu dijadikan sebagai salah satu aset wisata peninggalan tsunami.

"Perahu itu menjadi salah satu objek wisata yang memiliki makna sebagai peringatan Allah, karena dengan melihat ini orang bisa berpikir tentang kekuasaan Sang Maha Pencipta yang tiada tara," kata Wakil Walikota Banda Aceh Illiza Sa`aduddin Djamal.

"Rumah boat" atau "Perahu Nabi Nuh" yang berjarak sekitar dua kilometer dari pusat Kota Banda Aceh itu saat ini menjadi objek wisata yang menarik bagi wisatawan. Tidak hanya warga nusantara, tapi juga turis asing.

Selain menyaksikan bukti fisik, para wisatawan juga bisa mendengarkan kisah-kisah unik dan ajaib dari peristiwa tsunami enam tahun silam dari korban selamat di "Rumoh Boat" atau "Perahu Nabi Nuh" itu.

Keusyik (Kades) Gampong Lampulo Alta Zaini mengatakan, warganya sudah siap menerima wisatawan yang akan berkunjung ke situs tsunami tersebut. "Perahu Nabi Nuh" yang kini bersemayam di lantai dua rumah Abasiah itu memiliki sekitar 18 meter, berkonstruksi kayu, dan kini telah dibangun tangga untuk mencapai bagian dalam boat tersebut.(ant/sha)

Sumber: liputan6.com, Kamis, 30 Desember 2010

Perekonomian Masih Berpihak Neolib


Mantan Menteri Perekonomian Rizal Ramli menilai sistem ekonomi sekarang pada kenyataannya tidaklah berpihak pada masyarakat kecil. Sebaliknya, Rizal menganggap bahwa ekonomi konstitusi justru bisa lebih berpihak kepada rakyat daripada neoliberalisme.

"Ekonomi konstitusi adalah ekonomi yang mensejahterakan masyarakat, bukannya menguntungkan sepihak," ujar Rizal dalam diskusi bertajuk 'Konsekuensi Menegakkan Konstitusi' yang diadakan sekaligus dalam rangka mengenang setahun wafatnya Abdurrahman Wahid (Gus Dur), di Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Rabu, 29 Desember 2010.

Namun, menurut Rizal, kenyataannya adalah betapa banyak ahli ekonomi di Indonesia yang menuntut ilmu sampai ke luar negeri, namun kemudian malah terpengaruh dengan ajaran luar. "Banyak ekonom yang belajar di luar, dan lebih mengedepankan neoliberalisme yang bertentangan dengan konstitusi," ungkapnya.

Menurut Rizal, neoliberalisme banyak menimbulkan dampak yang jelas tidak berpihak pada rakyat kecil, alias hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu. Untuk itu katanya, peranan negara di dalam konstitusi tidak boleh dogmatis, tetapi haruslah dinamis. "Kalau negara terlalu dominan dan dogmatis, birokrasi akan berkuasa, dan tidak memihak pada masyarakat," tandasnya.(kyd/jpnn)

Sumber: jpnn.com, Rabu, 29 Desember 2010

Wednesday, December 29, 2010

MUI Siapkan Fiqih Bencana


Majelis Ulama Indonesia (MUI) segera menyusun peraturan hukum Islam yang khusus mengatur berbagai persoalan terkait bencana. Aturan yang disebut 'Fiqih Bencana' ini sangat perlu dan mendesak karena wilayah Indonesia memiliki potensi bencana.

"Dalam keadaan darurat seperti bencana harusnya ada hukum fiqih yang mengatur secara tersendiri," kata Ketua MUI Jawa tengah, Ahmad Darodji di penutupan rapat kerja MUI se-Jawa dan Lampung di Semarang, Senin 13 Desember 2010.

Penyusunan Fiqih Bencana menjadi salah satu rekomendasi rapat kerja yang digelar di Hotel Semesta Semarang sejak Sabtu 11 Desember 2010 lalu. Namun Darodji belum bisa memastikan kapan penyusunan Fiqih Bencana itu akan dilakukan.

"Secepatnya," kata dia. Soal siapa yang menyusun, menurut dia akan dilakukan bersama-sama berdasarkan kajian dan referensi-referensi Al-Qur'an dan Hadist serta aturan-aturan hukum Islam lainnya.

Fiqih Bencana itu akan mengatur hal-hal, contohnya perlu tidaknya seorang yang tewas akibat terkena awan panas Gunung Merapi untuk dimandikan, dikafani dan disholati. Dalam kondisi normal seseorang yang meninggal wajib dimandikan, dikafani dan disholati.

Namun, kata Darodji, bisa saja dalam keadaan seorang yang tewas terkena awan panas gunung, kewajiban-kewajiban tersebut tidak dilaksanakan. Contoh lain adalah status penerima zakat bagi warga sekitar Gunung Merapi yang mengungsi dalam waktu lama.

Dalam kondisi normal karena mereka ada yang sudah kaya maka tidak masuk dalam kategori penerima zakat. Namun, bisa saja Fiqih Bencana memasukan warga korban Merapi sebagai orang yang berhak menerima zakat. Sebab, mereka sudah terlantar dalam pengungsian dalam waktu lama sehingga tak punya penghasilan lagi.

Fiqih Bencana juga akan mengatur berbagai persoalan hukum mulai dari pra bencana, bencana, masa tanggap darurat, hingga masa rehabilitasi dan rekontruksi.(MUI Online/Dwi)

Tuesday, December 28, 2010

Pembobotan Unas - UAS Dipastikan 60:40


JAKARTA - Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Nasional (Balitbang Kemdiknas) Mansyur Ramli memastikan, pembobotan nilai ujian nasional (Unas) dan ujian akhir sekolah (UAS) untuk kelulusan siswa tahun ajaran 2010/2011 akhirnya disepakati 60:40. Maksudnya, 60 persen untuk Unas dan 40 persen untuk UAS.

Keputusan ini didapat dari kesepakatan antara Balitbang Kemdiknas dan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). "Draf Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) mengenai pembobotan kelulusan siswa ini hanya menunggu ditandatangani Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) saja," ungkap Mansyur di sela acara Sosialisasi Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Tahun 2011 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Selasa (28/12) malam.

Menurut Mansyur, ada beberapa alasan ditetapkannya pembobotan dengan komposisi 60:40 tersebut. Salah satunya, proses penilaian Unas bisa dikatakan lebih terstandar dan sudah ditentukan. Sementara untuk nilai UAS yang ditentukan oleh sekolah, sifatnya lebih beragam sehingga pembobotannya juga berbeda. Selain itu, nilai UAS tersebut nantinya juga akan ditambahkan dengan nilai rapor yang sebagian besar menunjukan sudah di atas Ketuntasan Kompetensi Minimal (KKM).

“Kita semua tentunya mengetahui bahwa nilai rapor yang diberikan oleh sekolah pastinya tinggi-tinggi. Oleh karena itu, untuk menetralisasinya yakni nilai Unas harus dengan bobot tinggi. Jika memang ditemukan ada kecurangan, maka kita akan bina sekolahnya dan diharapkan lebih jujur,” ujarnya.

Mansyur menjelaskan, berdasarkan hasil survey yang telah dilakukan oleh Balitbang, sekolah yang berakreditasi C sebagian besar selalu memberikan nilai rata-rata yang lebih tinggi kepada siswanya, yakni antara 7-8. Dengan kondisi demikian, Kemdiknas memandang tidak ada keobjektivan nilai siswa, terutama pada nilai rapor.

Secara terpisah, Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) M. Nuh kepada juga menyebutkan, dirinya sepakat jika pembobotan nilai Unas dan UAS adalah 60:40. "Mengapa 60:40, karena setelah kita hitung-hitung, rata-rata setiap sekolah yang berakreditasi A, B dan C kerap memberikan nilai yang hampir sama, yakni berkisar di antara angka 7 dan 8. Dengan kondisi demikian, maka menurut kami pas jika pembobotannya 60:40," jelasnya. (Cha/jpnn)

Sumber: JPNN.com, Selasa, 28 Desember 2010

Bisa Jaga Inflasi, Ekonomi Bakal Tumbuh Tinggi


Proyeksi 2011, Pemerintah-BI Janji Sinkronkan Kebijakan


JAKARTA - Bank Indonesia (BI) optimistis pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini akan mencapai 6 persen atau sesuai dengan target yang dicanangkan pemerintah. Tahun depan bank sentral bersama pemerintah berjanji akan lebih melakukan sinkronisasi kebijakan dalam rangka mempertahankan momentum pertumbuhan tersebut.

Hal itu diungkapkan Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution setelah rapat terbatas bidang perekonomian di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (27/12). Rapat tersebut secara khusus mendengarkan paparan dewan gubernur BI mengenai evaluasi perekonomian tahun ini dan proyeksi tahun depan.

Menurut Darmin, kerja sama kebijakan antara otoritas fiskal dan moneter terutama dilakukan dalam rangka menjaga tingkat inflasi yang tahun ini melebihi ambang batas yang ditargetkan. "Pemerintah dan BI punya tim pengendalian inflasi," kata Darmin.

Meski tahun depan pertumbuhan diperkirakan masih tinggi, perekonomian Indonesia tahun ini dibayangi oleh kekhawatiran terhadap imbas dari tingginya inflasi. Tahun ini inflasi dipastikan akan menembus 6 persen atau melebihi target pemerintah sebesar 5,3 persen.

Menko Perekonomian Hatta Rajasa menuturkan, tahun depan ekonomi akan masih tumbuh pesat. Syaratnya, pemerintah dan bank sentral harus bisa menjaga inflasi. "(Pengendalian inflasi) Ini yang menjadi pembicaraan kami," terang Hatta.

Di sisi lain, cadangan devisa hingga akhir tahun ini akan mencapai USD 95 miliar. Cadangan devisa itu masih didominasi oleh aliran modal jangka pendek atau hot money. Pemerintah dan bank sentral terus mencari siasat kebijakan agar aliran modal jangka pendek tersebut bisa beralih menjadi modal jangka menengah dan panjang.

Darmin mengungkapkan, ada tiga langkah yang akan ditempuh pemerintah dan BI. Yang pertama, mengurangi kecepatan aliran modal agar tidak mudah keluar. Kedua, berusaha mengalihkan aliran modal jangka pendek ke investasi langsung. Ketiga, menyiapkan kebijakan antisipasi apabila ada sudden reversal atau penarikan modal secara tiba-tiba. "Salah satunya adalah (menjaga) cadangan devisa yang aman," ujar Darmin.

Menkeu Agus Martowardojo menambahkan, saat ini pemerintah tengah berusaha memperbanyak aliran modal jangka panjang melalui investasi langsung. "Salah satunya adalah dengan memberikan tax allowance," kata Agus. (sof/dwi)

Sumber: JPNN.com, 28 Desember 2010

Monday, December 27, 2010

Gerakan New Age: Bahaya Agama Gado-gado


Oleh DWI HARDIANTO


Mereka hanya mengasembling dan mencampuradukan sebagian ajaran agama atau spiritual sesuai kebutuhan. Mereka juga disebut tourist of religion dan berujung pada paham pluralisme agama (menyamakan semua agama).

Seorang warga Amerika Serikat (AS) yang berumur 26 tahun, ketika ditanya tentang agamanya tanpa ragu menyebut sebagai Methodist, Taoist Native, American Quaker, Russian Orthodox, Buddhist, and Jew. Ia menjelaskan, sejak kecil dibesarkan dalam lingkungan Methodist dan pergi ke gereja hampir tiap hari Ahad.

Ia mengikuti acara keagamaan di Synagogue dengan temannya secara teratur. Ia juga mengikuti pertemuan Quaker di College, dibaptis oleh gereja Orthodox saat berkunjung ke Rusia. Tak ketinggalan, ia juga melakukan meditasi agama Budha dan berpartisipasi tiap bulan dalam upacara sweat lodge orang Indian.

Itulah hasil studi tentang spiritualitas orang Amerika yang dikutip Robert Wuthnow dalam artikel berjudul “A Reasonable Role for Religion? Moral Practices, Civic Participation, and Market Behavior” (1998). Pada kutub lain, ada juga masyarakat AS yang tidak percaya lagi pada institusi agama formal (a growing distrust of organized religion), yang sebenarnya ditujukan pada Kristen. Ekstremnya, seperti dislogankan futurolog John Naisbitt dan istrinya, Patricia Aburdene, dalam Megatrend 2000: “Spirituality Yes, Organized Religion No.”

Jadi, ada arus penolakan terhadap agama formal sambil mencari spiritual baru lintas agama tanpa harus terikat dengan aturan, tata cara, dogma, ajaran, atau syariah agama tertentu. Menurut pengamat sosial keagamaan Abdul M. Naharong dalam artikelnya “Agama dan Spiritualitas Gado-Gado”, gejala ini muncul sejak pemerintah AS menghapus kuota imigran Asia pada 1965, sehingga guru-guru spiritual dari Asia banyak berimigrasi ke negeri itu.

Akibatnya, berpengaruh besar pada perkembangan agama, sekte, cult, dan aliran spiritual di AS yang berbasis lintas agama. Apalagi, penerjemahan kitab suci, teks esoteric, ajaran spiritualitas dari berbagai macam agama dan kepercayaan ke dalam bahasa Inggris juga marak. Dengan berkembangnya mentalitas konsumtif (consumer mentality) dan do it yourself culture masyarakat Amerika, mereka pun memelajari sendiri sekaligus mempraktikkan satu, atau beberapa agama, atau ajaran spiritual secara bersamaan.

Empat tahun lalu (2006) ketika pemerintah AS mengadakan sensus penduduk secara resmi, Amerika sudah memiliki 2.100 agama, sekte, aliran kepercayaan, kelompok spiritualitas, dan cult. Diprediksi, jumlah ini sekarang makin bertambah.

Edward Shils dalam “Tradition” (1981) menulis, pada sebagian masyarakat Amerika, agama dan spiritualitas merupakan komoditas yang perlu dicoba. Satu atau beberapa agama atau beberapa latihan spiritual bisa tetap dipakai, “if it works,” tulis Edward. Jika tidak, orang seperti ini akan mencari kepercayaan, praktik-praktik keagamaan, atau spiritual lain yang diharapkan bisa memenuhi kebutuhannya.

Pendekatan instrumental seperti ini, lanjut Edward, membuat fungsi latent (terpendam) agama, seperti ketenangan batin dan kebahagian, menjadi fungsi manifest (nyata). Karena itu, semua aktivitas keagamaan dan spiritual harus dinilai dari bisa atau tidaknya memenuhi fungsi menenangkan batin dan menciptakan kebahagiaan “instant” yang langsung dirasakan oleh pelakunya.

Sikap seperti ini melahirkan trend baru dalam beragama, yakni “membuat" atau "mengasembling" agama atau spiritual sendiri sesuai dengan kebutuhan. Caranya, dengan mencampur aduk atau menggabungkan berbagai macam ajaran, ritual, kepercayaan, praktik, ritus, dan latihan spiritual dari berbagai sumber (agama, sekte, atau cult), tanpa bergabung pada salah satu sumber tersebut.

Bahkan, ada yang menjadi pengikut dua atau lebih agama, sekte, atau cult yang berbeda pada waktu yang sama, karena mereka meyakini paham pluralisme agama (menyamakan semua agama). Inilah yang oleh Abdul M. Naharong disebut “agama gado-gado, "patiche spirituality", "pick and mix spirituality", alias "spiritualitas gado-gado". Model religiusitas ini umumnya gandrung dan tergabung pada spiritualitas New Age, ada juga yang menyebut New Age Movement (Gerakan Era Baru), atau New Agers.

Ciri-ciri Ajaran

Rais Syuriyah PBNU KH Saifuddin Amsir, Peneliti Aliran Sesat dari LPPI Ustad Hartono Ahmad Jaiz, dan Peneliti INSIS Nirwan Safrin, di tempat berbeda menyatakan, ajaran atau kepercayaan New Age dicomot dari berbagai macam sumber (agama, sekte, kepercayaan, atau cult), diramu dan diracik sesuka mereka sesuai dengan kebutuhannya.

Bahkan, Abdul M. Naharong menyebutkan, ajaran ketuhanan mereka ada yang bercorak pantheisme, yaitu Tuhan itu immanent (tetap ada) di dalam setiap atom dari alam semesta. Ada juga yang mirip aliran kebatinan Manunggaling Kawula Gusti, yaitu aku adalah Tuhan, Tuhan adalah aku. New Age juga mengambil ajaran karma dan reinkarnasi sebagai ajaran yang paling disenanginya. Ini karena, karma dan reinkarnasi menafikan atau mengingkari doktrin neraka dan surga serta kekekalan di dalamnya.

Karena itu, dalam usaha mereka memeroleh pengalaman transformasi, yang bersifat mistik maupun non-mistik, misalnya penyembuhan, New Age menggunakan berbagai teknik atau pelatihan, seperti meditasi dalam agama Budha, Yoga dalam agama Hindu, latihan pernapasan dalam kelompok tarikat Naqshabandi, dan lainnya. Teknik ini sering dipakai secara bersamaan. Jika salah satunya dianggap it doesn't work karena tidak bisa memberikan hasil yang sesuai dengan keinginan mereka, teknik tersebut ditinggalkan dan beralih pada teknik lain.

Dalam pandangan Nirwan Safrin, ini menunjukkan bahwa mereka selalu mengalami kegelisahan yang tak berujung. Padahal, kebahagiaan dan ketenangan bisa diraih jika orang sampai pada keyakinan. Jika orang tidak yakin ia tidak akan bahagia dan tenang, ia akan selalu ragu, terus mencari tanpa henti, seperti penganut New Age ini. Mereka terus mencari metode untuk mencapai spiritualitas yang mereka dambakan. Jika tidak cocok dengan sebuah metode, akan mereka tinggalkan dan berganti dengan metode lain, begitu seterusnya.

”Berarti mereka tidak pernah tenang dan bahagia. Sehingga, apa yang mereka klaim sebagai tingkat dan ketinggian spiritualitas itu tidak benar. Berbeda dengan Islam yang sudah jelas syariahnya dalam menggapai tingkat spiritualitas, tinggal kita mau menjalankannya atau tidak. Keyakinan berdasarkan syariah inilah yang membuat orang bahagia dan tenang. Inilah yang disebut keimanan. Contoh, orang beriman dan yakin bahwa Allah akan memberi rezeki, ia tidak akan gundah gulana jika rezeki yang diharapkan tak kunjung datang, karena Allah mempunyai berbagai cara dan dalam memberikan rezeki pada umatnya,” papar lulusan S3 Pemikiran Islam Arab ISTAC, Malaysia ini.

Ciri lain dari agama dan spiritualitas New Age adalah sifatnya yang eksperimental dan tidak dogmatis. Penganut agama dan spiritualitas gado-gado ini hanya menekankan aspek pengalaman dari berbagai ritus keagamaan dan latihan spiritual, dan tidak peduli pada dogma, aturan, tata cara, atau syariah yang terdapat di dalam berbagai agama.

Akibatnya, agama dan spiritualitas jenis ini hampir-hampir tidak mempunyai aturan, tata cara, atau pedoman baku seperti yang dikenal dalam agama formal (organized religion). Karenanya, dalam lingkungan seperti ini, tak jarang agama dan spiritualitas menjadi terapi, yang hanya berfungsi untuk membuat orang merasa senang apa pun yang mereka lakukan. New Age tidak menuntun orang berbuat berdasarkan kaidah-kaidah moral yang diformalkan dalam bentuk ”syariah”.

Karenanya, penganut agama dan spiritualitas gado-gado tergolong ke dalam "tourist of religion", meminjam istilah Wade Roof, dalam Spiritual Marketplace: Baby Boomers and the Remaking of American Religion (1999). Mereka percaya bahwa semua agama sama benar dan baiknya, karenanya mengambil dan mencampur berbagai (ajaran) agama dan pelatihan spiritual (eklektisisme dan sinkretisme) adalah hal wajar. Inilah ujung dari ajaran ini, meyakini paham pluralisme agama (menyamakan semua agama).

Agama Baru

Rais Syuriah PBNU KH Saifuddin Amsir, menegaskan, New Age hanyalah pengulangan alias lagu lama yang sudah kesekian kalinya didengungkan. Mereka menyebut sebagai agama baru, religiusitas, atau spiritualitas, tanpa nabi, tanpa kitab suci, dan tanpa Tuhan, tapi mencampuradukan semua agama. Ini adalah agama yang dibuat oleh para filosof dengan membuat komunitas sendiri. Para filosof itu mengatakan, inilah agama baru dengan semboyannya God With Out God (Tuhan Tanpa Tuhan).

Persoalannya, lanjut Guru Besar UIN Syarif Hidyatullah ini, kita tidak memiliki lembaga khusus yang meneliti dan menangani masalah ini, padahal sudah beberapa kali mereka muncul. Kemunculan mereka, didasari oleh sikap mereka yang menganggap paling super di dunia bagaikan “Superman”. Dalam filsafatnya Red Neck disebutkan, adanya pemisahan antara moral budak dan moral iman. Selanjutnya, Neck menulis, jika ingin menjadi Tuhan maka harus membunuh Tuhan. ”Inilah salah satu dasar kesesatan agama yang sekarang berganti nama menjadi New Age ini,” tambahnya.

Soal penyebutan New Age sebagai agama baru juga disematkan oleh Ustad Hartono Ahmad Jaiz. Menurut dia, belakangan ini ada upaya mencampuradukkan semua agama. Setelah Baha’i berkembang di California, Iran, dan Israel, tahun 1960-an muncul New Age, sejenis aliran kebatinan dan spiritual yang merupakan agama baru juga.

Tapi menurut Peneliti INSIST Nirwan Safrin, menyematkan New Age sebagai agama harus dijelaskan dalam pengertian yang tepat. Jika mendefinisikan agama dalam konsepsi Barat, maka New Age bisa disebut sebagai agama. Karena dalam konsepsi Barat, agama adalah ciptaan manusia, bagian dari culture (budaya), termasuk dalam ranah ilmu sosial, dan New Age juga termasuk dalam katagori kultur karena diciptakan oleh manusia.

Tapi jika kita mendefinisikan agama dalam konsep Islam sebagai ad-Din, lanjut Nirwan, New Age bukan agama. Pasalnya, mereka hanya mencaplok sebagian dari berbagai nilai, ajaran, dan syariah agama. Yang jelas agama tidak mungkin dibuat oleh manusia.

”Konsepsi Islam jauh lebih komprehensif dari sekadar kultur. Apalagi, Barat tidak memiliki terminologi yang pas dan tepat tentang agama. Dalam Bahasa Inggris disebut religius yang menjadi bagian dari kultur. Makanya, buku agama dalam perpustakaan di Barat, masuk dalam katagori kultur yang menjadi bagian dari Ilmu Sosial,” jelasnya.

Jumlah Pengikut

George Barna dalam The Index of Leading Spiritual Indicators (1996) memperkirakan, sekitar 20% orang dewasa Amerika adalah pengikut New Agers. Majalah Newsweek edisi 28 November 1994 menulis jumlah pengikut New Age di Amerika sangat fantastis, yakni mencapai 58% dari jumlah responden dalam suatu survei.

Russel Chandler, mantan jurnalis agama pada Los Angeles Times dalam “Understanding the New Age” (1988) mengklaim, 40% orang Amerika percaya pada panteisme (kepercayaan yang berprinsip pada all is God and God is all). 36% percaya pada astrologi sebagai scientific, yakni percaya astrologi sebagai metode peramalan masa depan (a method of foretelling the future). Dan, 25% percaya pada reinkarnasi.

Itulah sebagian temuan angka statistik pengikut New Age di AS. Bagaimana di Indonesia? Wallahu’alam.

Sumber: Telaah Utama Majalah Sabili 01/XVIII

Wednesday, December 22, 2010

Kuasa-Mu


Oleh MASSHUTO

Di atas kuasa-Mu
Setiap pergantian bermuara
Panas dan dingin
Siang dan malam
Susah dan senang
Juga datang dan perginya ujian


Di atas kuasa-Mu
Setiap hamba menanti giliran
Ketika sang waktu memanggil
Sebagai transisi persinggahan
Dan awal pertanggungjawaban
Atas catatan perjalanan
Menuju singgasana



Surabaya, 23 Desember 2010

Tuesday, December 21, 2010

Untukmu, Ibu




Ibu ….
Orang bilang hari ini adalah Hari Ibu
Sejuta keinginan
Sejuta rasa
Sejuta ekspresi
Tumpah demi menghormat sang ibu
Namun, kuingin tidaklah mengingatmu
Kuingin tidaklah mendekap kasihmu
Kuingin tidaklah mencium punggung telapak tanganmu
hanya di hari yang orang bilang sakral ini
Kuingin mengingatmu
Kuingin mendekap kasihmu
Kuingin mencium punggung telapak tanganmu
Kuingin bersimpuh dalam pangkuan dan pelukmu
Kuingin mereguk belai kasih sayangmu
Setiap aku dan kau mau, selamanya

Masih terasa benar bau tanah sawah
di punggung telapak tanganmu
Ketika bersama kita menanam padi
Ketika bersama kita cabuti rumput yang mengganggunya
Ketika bersama kita menghalau burung dan belalang yang mengganggunya
Ketika bersama kita memburu tikus yang mencoba melahapnya

Tak pernah tergores kelelahan di wajahmu
Meski tak bisa kau sembunyikan keriput kulitmu
Karna sengatan matahari
Karna menumpuk beban di pundakmu
Kau ajari aku bagaimana mesti hidup
Kau ajari aku bagaimana mesti bertahan dari sengitnya sengatan matahari
Kau ajari aku bagaimana mesti menerima kenyataan hidup
Tentang pahit manisnya kehidupan
Tentang susah senangnya kehidupan
Dengan bahasa lumpur
Dengan bahasa angin
Dengan bahasa panas
Dengan bahasa hujan
Dengan senyum surgamu

Dan, kini aku rindu mengulang segala titahmu
Beriring nyanyi sunyi
Dalam pangkuan sajadah panjang
Untukmu


Gresik, 22 Desember 2010

Sunday, December 19, 2010

Sayembara Miyabi

Miyabi bikin sayembara nyari calon suami, dengan syarat:

1. Tidak suka melirik wanita lain;

2. Tidak pernah menampar istri;

3. Tidak lari dari tanggung jawab &... dengan berani dia bilang syarat ke empat;

4. Memuaskan di tempat tidur.

Esok hari rumahnya di ketok. Dhok...dhok...dhok... Si Miyabi kaget bukan main. Di depannya ada pria buta tanpa tangan & kaki.

"Apakah Anda Miyabi?" Tanya si pria.

"Benar, Anda siapa?" Jawab Miyabi.

"Saya mau melamar Anda" kata pria tersebut.

"Wah nekat bener orang ini." pikir si Miyabi.

Pria yang memakai kursi roda itu berkata, "Saya ini buta, jadi tidak mungkin melirik wanita lain. Saya juga tidak punya tangan, tidak mungkin bisa memukul Anda. Saya juga tidak punya kaki, jelas tak akan lari dari Anda."

"Tapi apakah Anda mampu memuaskan saya di ranjang?" ujar Miyabi.

"Jangan menyepelekan saya. Anda pikir saya tadi mengetok pintu pake apa?!"

Miyabi"#*@$?+"@*+..?!?!?" (Pingsan)


Pesan Moral: 1) JANGAN SUKA ANGGAP REMEH ORANG LAIN.

2) DI BALIK KEKURANGAN SELALU ADA KELEBIHAN.

Friday, December 17, 2010

Masih Ada Cinta


(Sajak untuk Istri Tersayang)

Oleh MASSHUTO

Hari ini, 17 tahun silam
Mencatat sejarah dalam ikatan rasa bersama
Ketika jalinan kasih berpadu
Ketika rajutan cinta membingkai perjalanan dua insan
Dan berharap sampai pintu ridlo-Nya

Hari ini, 17 tahun silam
Kita mimpikan berlayar dalam biduk bersama
Mengarungi samudra tak bertepi
Menembus gelombang kehidupan tak berkesudahan
Bersama tongkat pembimbing-Nya

Hari ini, 17 tahun silam
Buah cinta adalah hadirnya anak-anak yang lucu
Meski kadang bikin gaduh juga
Namun, tak henti hatimu tersenyum memeluk mereka
Lihatlah tingkah dan celoteh si bungsu yang selalu menggemaskan
Juga si tomboy yang selalu usil namun pintar mengaji
Dan para jagoan kita yang sering berebut di meja makan
Tak pernah membuatmu kesal
Tak pernah membuatmu marah
Kau payungi mereka dengan tulus dan penuh kasih sayang
Kau selimuti mereka dengan hangat cintamu

Hari ini, 17 tahun silam
Cinta itu masih kuat terpatri
Menembus celah dinding qolbu
Lewat hembus nafas dan aliran darah
Merasuki jiwa yang terus lapar akan cinta
Sedalam-dalamnya
Selama-lamanya
Dalam ridlo dan petunjuk-Nya


Gresik, 16 Desember 2010

Tuesday, December 14, 2010

Kembalikan Uang, Gelandangan Jadi Pahlawan


Bagi sebagian orang, menemukan uang dalam jumlah banyak milik orang lain, merupakan rezeki nomplok. Namun, tidak demikian dengan seorang tunawisma di Amerika Serikat (AS) ini.

Menemukan uang yang nilainya setara dengan puluhan juta rupiah, gelandangan bernama Dave Tally itu tidak gelap mata. Dia justru mengembalikan uang itu kepada pemiliknya. Kendati tanpa pamrih, niat baik Tally itu justru mendapat balasan lebih dua kali lipat dari nilai uang yang dia temukan.

Kantor berita Associated Press pada 10 Desember 2010 menuturkan, tunawisma asal Kota Tempe di negara bagian Arizona itu suatu ketika menemukan tas berisikan uang sebesar US$3.300 atau sekitar Rp 29,7 juta. Tally baru saja sembuh dari kecanduannya terhadap obat-obatan terlarang dan alkohol.

Dia menemukan kantong tas berisi uang tersebut sepulangnya dari membetulkan sepeda. Tanpa pikir panjang, Tally langsung memberikan tas beserta isinya ke sebuah komunitas pelayan tunawisma di Tempe. Lelaki berusia 49 tahun itu tidak mengambil sepeser pun dari uang tersebut. Padahal uang di kantongnya telah habis untuk membetulkan sepeda.

Setelah ditelusuri, ternyata gepokan uang di dalam tas tersebut milik Bryan Belanger, seorang mahasiswa di Universitas Negeri Arizona yang kehilangan tas ketika hendak membeli mobil bekas. Bersama dengan Stephen Spark, staf komunitas pelayan tunawisma, Tally mengembalikan uang tersebut kepada Belanger. Kisah Tally ini diberitakan oleh radio KTAR yang langsung menjadi pembicaraan seluruh kota.

Atas kejujurannya ini, Tally dipuji sebagai pahlawan para tunawisma karena telah mengubah citra mereka yang buruk. Dewan kota Tempe yang tersentuh dengan kejujurannya, membuat rekening untuk sumbangan seluruh kota. Banyak warga yang kagum juga memberikan cek kepadanya yang jumlahnya bahkan melebihi uang yang dia temukan, yaitu senilai US$8.000 (Rp72 juta). Tidak sedikit dari warga juga menawarkan pekerjaan kepadanya agar Tally dapat mandiri.

Seorang dokter gigi bahkan memberikan perawatan gigi dan memberikan gigi palsu secara gratis kepada Tally. Seorang pengacara menawarkan jasa pro-bono kepadanya untuk menangani kasus-kasus lama yang menimpanya. Sementara Walikota Tempe, Hugh Hallman, menjadikan hari ditemukannya uang tersebut sebagai hari Dave Tally.

“Saya tidak menyangka semua berakhir seperti ini. Saya hanya berpikir untuk mengembalikan tas tersebut dan semuanya selesai,” ujar Tally.

Dulunya, Tally adalah seorang pengawas di sebuah perusahaan kontraktor. Dia kehilangan pekerjaannya ketika pada tahun 1999 dia didakwa karena mengendara dalam keadaan mabuk. Karena itu juga dia kehilangan izin mengemudinya. Tally mengaku dia memang pernah kecanduan alkohol dan obat-obatan.

Tally mengatakan, akan menggunakan uang yang dia peroleh dari sumbangan untuk merencanakan hidupnya. Dia ingin membuka sebuah pusat pelatihan komputer. Dia juga mengatakan akan memilih pekerjaan yang ditawarkan kepadanya.

Sumber: VIVANews, 13 Desember 2010

Sunday, December 5, 2010

Dialog Sweet Seventeen

‎"Ma, nanti aku pas sweet seventeen
bikin pesta ya?" tanya seorang anak pada ibunya.


"YA", jawab sang ibu.

"Ma, aku undang temen juga ya?", tanya si anak lagi.

"YA" jawab si ibu lagi.

"Ma, Aku boleh pake maskara dan lipstik ya?", tanya si anak setengah mendesak.

"GAK BOLEH !!!", jawab si ibu.

"Ma...(anak merengek), Please donk, kan cuma waktu Sweet Seventeen ajah"

"GAK BOLEH, kamu boleh bikin pesta, boleh undang temen, tapi gak boleh pake yang begituan"

"Mama jahat ah"(si anak lari)

"GATOT!!!....jangan lari !!!"

Pamer Pacar

Oleh ZAENAL ARIFIN EMKA

Seorang cowok apel ke rumah ceweknya yang kebetulan sedang sepi dan nggak ada orang.
Cowo : Sayang, aku mau tunjukin sesuatu nih
Cewe : Apaan? (Penasaran)
Cowo : Tapi kita masuk kamar dulu yahh?
Cewe : Boleeh
Cowo : Boleh dikunci gak?
Cewe : boleh sayang
Cowo : Tutup jendelanya boleh?
Cewe : Iya sayang
Cowo : Lampunya boleh dimatiin?
Cewe : Boleh banget sayangku
Cowo : Trus kita masuk slimut yahh?
Cewe : Mau banget sayang
Cowo : Kamu mau tau apa yang bakalan aku tunjukin?
Cewe : Iya sayang, aku penasaran nih
Cowo : Sini deh, kamu pegang dulu tanganku
Cewe : Apa sih? Gak sabar nih Yang
Cowo : Liat deh, jam tanganku bisa NYALA looohhh.....
Cewe : ...???

Majapahit Kerajaan Islam?




Fakta-fakta Unik tentang Kerajaan Majapahit



Seorang sejarahwan pernah berujar,bahwa sejarah merupakan versi atau sudut pandang orang yang membuatnya. Versi ini sangat tergantung dengan niat atau motivasisi pembuatnya. Barangkali ini pula yang terjadi dengan Majapahit, sebuah kerajaan maha besar masa lampau yang pernah ada di negara yang kini disebut Indonesia. Kekuasaannya membentang luas hingga mencakup sebagian besar negara yang kini dikenal sebagai Asia Tenggara.

Namun demikian, ada sesuatu yang ‘terasa aneh’ menyangkut kerajaan yang puing-puing peninggalan kebesaran masa lalunya masih dapat ditemukan di kawasan Trowulan Mojokerto ini. Sejak memasuki Sekolah Dasar, kita sudah disuguhi pemahaman bahwa Majapahit adalah sebuah kerajaan Hindu terbesar yang pernah ada dalam sejarah masa lalu kepulauan Nusantra yang kini dkenal Indonesia. Inilah sesuatu yang terasa aneh tersebut.



Pemahaman sejarah tersebut seakan melupakan beragam bukti arkeologis, sosiologis dan antropologis yang berkaitan dengan Majapahit yang jika dicerna dan dipahami secara ‘jujur’ akan mengungkapkan fakta yang mengejutkan sekaligus juga mematahkan pemahaman yang sudah berkembang selama ini dalam khazanah sejarah masyarakat Nusantara.



‘Kegelisahan’ semacam inilah yang mungkin memotivasi Tim Kajian Kesultanan Majapahit dari Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah Yogyakarta untuk melakukan kajian ulang terhadap sejarah Majapahit. Setelah sekian lama berkutat dengan beragam fakta-data arkeologis, sosiologis dan antropolis, maka Tim kemudian menerbitkannya dalam sebuah buku awal berjudul ‘Kesultanan Majapahit, Fakta Sejarah Yang Tersembunyi’.

Buku ini hingga saat ini masih diterbitkan terbatas, terutama menyongsong Muktamar Satu Abad Muhammadiyah di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu. Sejarah Majapahit yang dikenal selama ini di kalangan masyarakat adalah sejarah yang disesuaikan untuk kepentingan penjajah (Belanda) yang ingin terus bercokol di kepulauan Nusantara.

Akibatnya, sejarah masa lampau yang berkaitan dengan kawasan ini dibuat untuk kepentingan tersebut. Hal ini dapat pula dianalogikan dengan sejarah mengenai PKI. Sejarah berkaitan dengan partai komunis ini yang dibuat dimasa Orde Baru tentu berbeda dengan sejarah PKI yang dibuat di era Orde Lama dan bahkan era reformasi saat ini. Hal ini karena berkaitan dengan kepentingan masing-masing dalam membuat sejarah tersebut.

Dalam konteks Majapahit, Belanda berkepentingan untuk menguasai Nusantara yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Untuk itu, diciptakanlah pemahaman bahwa Majapahit yang menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia adalah kerajaan Hindu dan Islam masuk ke Nusantara belakangan dengan mendobrak tatanan yang sudah berkembang dan ada dalam masyarakat.

Apa yang diungkapkan oleh buku ini tentu memiliki bukti berupa fakta dan data yang selama ini tersembunyi atau sengaja disembunyikan. Beberapa fakta dan data yang menguatkan keyakinan bahwa kerajaan Majpahit sesungguhnya adalah kerajaan Islam atau Kesultanan Majapahit adalah sebagai berikut:

1. Ditemukan atau adanya koin-koin emas Majapahit yang bertuliskan kata-kata ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’. Koin semacam ini dapat ditemukan dalam Museum Majapahit di kawasan Trowulan Mojokerto Jawa Timur. Koin adalah alat pembayaran resmi yang berlaku di sebuah wilayah kerajaan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sangat tidak mungkin sebuah kerajaan Hindu memiliki alat pembayaran resmi berupa koin emas bertuliskan kata-kata Tauhid.


2. Pada batu nisan Syeikh Maulana Malik Ibrahim yang selama ini dikenal sebagai Wali pertama dalam sistem Wali Songo yang menyebarkan Islam di Tanah Jawa terdapat tulisan yang menyatakan bahwa beliau adalah Qadhi atau hakim agama Islam kerajaan Majapahit. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Agama Islam adalah agama resmi yang dianut oleh Majapahit karena memiliki Qadhi yang dalam sebuah kerajaan berperan sebagai hakim agama dan penasehat bidang agama bagi sebuah kesultanan atau kerajaan Islam.

3. Pada lambang Majapahit yang berupa delapan sinar matahari terdapat beberapa tulisan Arab, yaitu shifat, asma, ma’rifat, Adam, Muhammad, Allah, tauhid dan dzat. Kata-kata yang beraksara Arab ini terdapat di antara sinar-sinar matahari yang ada pada lambang Majapahit ini.
Untuk lebih mendekatkan pemahaman mengenai lambang Majapahit ini, maka dapat dilihat pada logo Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, atau dapat pula dilihat pada logo yang digunakan Muhammadiyah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Majapahit sesungguhnya adalah Kerajaan Islam atau Kesultanan Islam karena menggunakan logo resmi yang memakai simbol-simbol Islam.

4. Pendiri Majapahit, Raden Wijaya, adalah seorang muslim. Hal ini karena Raden Wijaya merupakan cucu dari Raja Sunda, Prabu Guru Dharmasiksa yang sekaligus juga ulama Islam Pasundan yang mengajarkan hidup prihatin layaknya ajaran-ajaran sufi, sedangkan neneknya adalah seorang muslimah, keturunan dari penguasa Sriwijaya. Meskipun bergelar Kertarajasa Jayawardhana yang sangat bernuasa Hindu karena menggunakan bahasa Sanskerta, tetapi bukan lantas menjadi justifikasi bahwa beliau adalah seorang penganut Hindu.

Bahasa Sanskerta di masa lalu lazim digunakan untuk memberi penghormatan yang tinggi kepada seseorang, apalagi seorang raja. Gelar seperti inipun hingga saat ini masih digunakan oleh para raja muslim Jawa, seperti Hamengku Buwono dan Paku Alam Yogyakarta serta Paku Buwono di Solo.

Di samping itu, Gajah Mada yang menjadi Patih Majapahit yang sangat terkenal terutama karena Sumpah Palapanya ternyata adalah seorang muslim. Hal ini karena nama aslinya adalah Gaj Ahmada, seorang ulama Islam yang mengabdikan kemampuannya dengan menjadi Patih di Kerajaan Majapahit. Hanya saja, untuk lebih memudahkan penyebutan yang biasanya berlaku dalam masyarakat Jawa, maka digunakan Gajahmada saja. Dengan demikian, penulisanGajah Mada yang benar adalah Gajahmada dan bukan ‘Gajah Mada’.

Pada nisan makam Gajahmada di Mojokerto pun terdapat tulisan ‘LaIlaha Illallah Muhammad Rasulullah’ yang menunjukkan bahwa Patih yang biasa dikenal masyarakat sebagai Syeikh Mada setelah pengunduran dirinya sebagai Patih Majapatih ini adalah seorang muslim.

5. Jika fakta-fakta di atas masih berkaitan dengan internal Majapahit, maka fakta-fakta berikut berhubungan dengan sejarah dunia secara global. Sebagaimana diketahui bahwa 1253 M, tentara Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan menyerbu Baghdad. Akibatnya, Timur Tengah berada dalam situasi yang berkecamuk dan terjebak dalam kondisi konflik yang tidak menentu.

Dampak selanjutnya adalah terjadinya eksodus besar-besaran kaum muslim dari TimurTengah, terutama para keturunan Nabi yang biasa dikenal dengan‘Allawiyah. Kelompok ini sebagian besar menuju kawasan Nuswantara (Nusantara) yang memang dikenal memiliki tempat-tempat yang eksotis dan kaya dengan sumberdaya alam dan kemudian menetap dan beranak pinak di tempat ini. Dari keturunan pada pendatang inilah sebagian besar penguasa beragam kerajaanNusantara berasal, tanpa terkecuali Majapahit.

Inilah beberapa bukti dari fakta dan data yang mengungkapkan bahwa sesungguhnya Majapahit adalah Kesultanan Islam yang berkuasa di sebagian besar kawasan yang kini dikenal sebagai Asia Tenggara ini. Sekali lagi terbukti bahwa sejarah itu adalah versi, tergantung untuk apa sejarahitu dibuat dan tentunya terkandung di dalamnya beragam kepentingan.Wallahu A’lam Bishshawab. Hanya Tuhan Yang Maha Mengetahui.

source: http://danish56.blogspot.com/2010/11/fakta-fakta-tersembunyi-dari-kerajaan.html

http://www.duniaterselubung.info/2010/11/fakta-fakta-unik-tentang-kerajaan.html

Sunday, November 14, 2010

Gangguan Detak Jantung Saat Berduka


Kematian orang yang dicintai seperti pasangan, orangtua atau anak bisa mempengaruhi kehidupan dan kondisi kesehatan orang yang ditinggalkan. Salah satunya adalah peningkatan denyut dan gangguan irama jantung.

Sebuah studi menunjukkan kematian pasangan atau anak dapat memicu denyut jantung menjadi lebih cepat dan ketidakteraturan irama jantung pada orang yang ditinggalkannya. Selain itu diketahui pula seseorang membutuhkan waktu hingga 6 bulan untuk kembali normal.

"Secara alami fokus orang-orang biasanya akan tertuju pada orang yang meninggal. Tapi kesehatan dan kesejahteraan orang-orang yang ditinggalkan seperti keluarga dan teman juga harus menjadi perhatian para profesional medis," ujar Thomas Burckley, direktur pasca sarjana dari University of Sydney Nursing School di Sydney, Australia, seperti dikutip dari Reuters, Senin (15/11/2010).

Dalam studi terbaru dilakukan monitor jantung selama 24 jam dan melakukan tes lain yang memungkinkan peneliti untuk mendokumentasikan peningkatan denyut jantung dan variabilitas irama jantung. Hal ini untuk mengetahui keteraturan dari irama jantung.

Hasil studi menunjukkan orang yang berduka hampir dua kali lipat memiliki detak jantung yang cepat (tachycardia) dibandingkan dengan orang yang tidak berduka pada minggu-minggu awal setelah kematian anggota keluarganya.

Denyut jantung rata-rata orang berduka adalah 75,1 denyut per menit, tapi setelah enam bulan denyut jantungnya mulai kembali normal ke 70,7 denyut per menit.

"Peningkatan denyut jantung dan variabilitas irama jantung yang berkurang pada bulan-bulan awal seseorang kehilangan anggota keluarga memungkinkan terjadinya peningkatan risiko kardiovaskular. Di samping itu periode ini seringkali diikuti dengan tingkat stres yang tinggi," ujar Buckley.

Nilai depresi rata-rata dari orang yang berduka adalah 26,3 persen dan jika dibandingkan dengan orang yang tidak berduka hanya memiliki tingkat depresi sebesar 6,1 persen. Hal ini menunjukkan pada orang yang berduka juga meningkat tingkat depresi serta kecemasannya.

Hasil penelitian ini telah dipresentasikan oleh Buckley dalam pertemuan ilmiah tahunan American Heart Association di Chicago.

Sumber: Detik.com, Senin, 15/11/2010 10:15 WIB

Pria Juga Bisa Palsukan Orgasme


Urusan memalsukan orgasme, wanita sering menjadi pihak tertuduh. Modusnya macam-macam, mulai dengan cara pura-pura mengerang, mendesah, atau mengeluarkan suara erotis. Tapi sebuah penelitian membuktikan, pria juga ternyata sering memalsukan orgasme.

Penelitian tersebut dimuat dalam Journal of Sex Research edisi November 2010. Peneliti menemukan sebanyak 25% pria memalsukan orgasme. Sedangkan pada wanita jumlahnya mencapai 50%.

Orgasme adalah sensasi fisik dan emosional yang terjadi di puncak kenikmatan seksual. Orgasme berupa gerakan yang mendadak, kontraksi dan disertai dengan adanya gelombang gairah seksual.

Tujuan Memalsukan Orgasme

Studi yang dilakukan psikolog asal University of Kansas ini menemukan jawaban, pria memalsukan orgasme karena ingin cepat-cepat mengakhiri senggama tanpa terlihat janggal atau menyakiti pasangannya.

Alasan ini hampir serupa dengan wanita yang pura-pura orgasme yaitu agar acara persetubuhan segera selesai. Perempuan percaya desahan-desahan palsu ampuh merangsang para pria sehingga lebih cepat mencapai orgasme.

Peneliti awalnya kesulitan untuk meminta kejujuran pria soal orgasme palsu ini dan kebanyakan pria malu untuk mengakuinya. Peneliti akhirnya mengubah salah satu pertanyaan dari semula 'Apakah Anda (pria) pernah pura-pura mengalami orgasme?' menjadi 'Apakah Anda (pria) pernah melakukan sesuatu yang mirip untuk pura-pura orgasme?'.

Hubungan seksual dengan orgasme palsu lebih banyak terjadi pada pertemuan penis dan vagina bukan pada jenis hubungan oral seks.

Para pria ini mengaku perlu melakukan orgasme palsu karena tidak punya cara lain untuk mengakhiri hubungan seksual tanpa terlihat janggal atau tidak puas oleh pasangannya.

Alasan lainnya pura-pura orgasme karena pria ingin menghindari konsekuensi negatif seperti melukai perasaan pasangannya.

Perilaku pria atau wanita yang memilih pura-pura orgasme ini dinilai memprihatinkan. Carol Ellison, penulis buku seksualitas, 'Women's Sexualities: Generations of Women Share Intimate Secrets of Sexual Self-Acceptance', menyayangkan jika tujuan orang berhubungan seks adalah melulu mencapai orgasme.

"Ketika seks memiliki tujuan-tujuan tertentu seperti harus orgasme maka orang akan berperilaku seperti itu," kata Ellison seperti dilansir dari LivesScience, Minggu (14/11/2010).

Dia menilai keberhasilan hubungan seks harus didefinisi ulang agar semua yang melakukannya membuat dirinya dan pasangannya merasa lebih baik sehingga bisa menemukan cara yang berbeda untuk menciptakan kesenangan.

"Intinya jangan bicara target tapi respons seksual, jika dipahami seperti itu seks akan menjadi pengalaman yang berbeda dan menyenangkan," katanya. (ir/ir)

Sumber: detik.com, Minggu, 14/11/2010 15:44 WIB

Monday, November 8, 2010

Amuk Merapi Kapan Berhenti?


Mbah Petruk dan Petaka Sabtu Legi

Yogyakarta - Bagi sebagian besar masyarakat, gambar Mbah Petruk yang beredar dari ponsel ke ponsel, tidak lain dari sebuah bentukan gemulung awan tebal yang disemburkan oleh Gunung Merapi. Kebetulan saja gemulung awan itu bentuknya menyerupai Petruk, salah satu tokoh punakawan dalam pemayangan Jawa. Lain waktu bentuknya bisa beraneka ragam, berubah-ubah, yang bisa merangsang imajinasi macam-macam.

Tetapi tidak demikian halnya bagi sebagai penduduk yang tinggal di Merapi. Mbah Petruk adalah kekuatan gaib yang menjaga Merapi, sama halnya Semar yang disebut-sebut menjaga Gunung Semeru. Oleh karena itu, ketika gambar Mbah Petruk itu menyebar, maka gambar itu segera jadi bahan perbincangan di kalangan penduduk Merapi.

Sekali lagi, tidak semua warga di lereng Merapi mempercayai gambar itu. Namun bagi yang mempercayainya, munculnya Mbah Petruk adalah pertanda akan adanya malapetaka besar. Merapi sedang marah, dan arah kemarahan adalah kawasan Yogyakarta. Ini ditunjukkan oleh arah gambar Mbah Petruk yang menghadap Selatan.

Soal akan datangnya bencana ke Selatan itu, sebetulnya sudah jadi bahan bergunjingan ketika status Merapi naik dari waspada ke siaga, dan semakin kencang ketika naik dari siaga ke awas. Seorang sesepuh di lereng Merapi kepada detikcom, menceritakan, mereka sedang tirakat. "Nyeyuwun kepada Gusti Allah, agar jika Merapi meletus, jangan sampai terjadi pada Sabtu Legi."

Menurut ilmu titen, jika Merepi meletus pada Sabtu Legi, dampaknya akan dahsyat. Tidak hanya letusan kecilnya beruntun yang diselingi letusan-letusan besar, tetapi letusan-letusan itu juga akan berlangsung lama. Akibatnya tentu sudah bisa diperkirakan: korban jiwa dan harta.

Namun upaya yang dilakukan oleh para sesepuh Merapi itu, termasuk Mbah Maridjan, tidak mendapatkan hasil. Setelah letusan pertama pada Selasa (26/11/2010), letusan besar terjadi pada Sabtu (30/11/2010). Jatuhnya, persis Sabtu Legi.

Ki Poleng Sudomolo, penganut ilmu Kejawen di Yogyakarta, membenarkan, perhitungan Mbah Maridjan dan para sesepuh Merapi, karena hal itu sesuai dengan hitung-hitungan penanggalan Jawa Kuno. Dalam penanggalan Jawa Kuno, Sabtu itu disebut hari ke 9 atau dalam bahasa Jawa disebut Songo. Sedangkan Legi berarti Kolo. Jadi jika digabungkan, Sabtu Legi dalam penanggalan Jawa disebut Songo Kolo. Songo Kolo ini dalam penanggalan Jawa diartikan sangkala, yakni sebuah pertanda buruk.

Dengan kata lain, jika melihat penanggalan Jawa maka jika Sabtu Legi juga terjadi letusan akan berakibat tidak baik. Sebab bencana Merapi akan berkepanjangan dan menelan korban banyak orang. "Pandangan itulah yang diyakini Mbah Maridjan. Dia sudah mengetahui kalau pada Sabtu Legi akan terjadi letusan. Itu sebabnya dia tidak mau turun gunung dan memilih tetap di rumahnya," jelas Ki Poleng.

Dr Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMB), Kementerian ESDM, tidak menyangkal adanya pengetahun atau kepercayaan-kepercayaan masyarakat pegungungan, termasuk Gunung Merapi. Mereka yang bertahun-tahun tinggal di situ, tentu mempelajari bagaimana perilaku alam, perilaku gunung. Biasanya pengetahuan atau kepercayaan-kepercayaan itu sejalan dengan temuan teknologi.

Hanya saja Surono mengingatkan, hasil analisis ilmiah terhadap kegiatan Merapi yang sudah teruji, mestinya tidak perlu diragukan lagi. PVMB sudah bekerja bertahun-tahun sehingga mempunyai banyak data yang bisa digunakan sebagai melihat dan menilai keaktifan Merapi. "Saya merasa gagal masih ada penduduk yang tidak mau turun, padahal sudah kita sampaikan peringatan." (ddg/diks)

Sumber: detik.com, Senin, 8 November 2010, 14:02 WIB

Amuk Merapi Kapan Berhenti?

Mbah Petruk dan Petaka Sabtu Legi

Yogyakarta - Bagi sebagian besar masyarakat, gambar Mbah Petruk yang beredar dari ponsel ke ponsel, tidak lain dari sebuah bentukan gemulung awan tebal yang disemburkan oleh Gunung Merapi. Kebetulan saja gemulung awan itu bentuknya menyerupai Petruk, salah satu tokoh punakawan dalam pemayangan Jawa. Lain waktu bentuknya bisa beraneka ragam, berubah-ubah, yang bisa merangsang imajinasi macam-macam.

Tetapi tidak demikian halnya bagi sebagai penduduk yang tinggal di Merapi. Mbah Petruk adalah kekuatan gaib yang menjaga Merapi, sama halnya Semar yang disebut-sebut menjaga Gunung Semeru. Oleh karena itu, ketika gambar Mbah Petruk itu menyebar, maka gambar itu segera jadi bahan perbincangan di kalangan penduduk Merapi.

Sekali lagi, tidak semua warga di lereng Merapi mempercayai gambar itu. Namun bagi yang mempercayainya, munculnya Mbah Petruk adalah pertanda akan adanya malapetaka besar. Merapi sedang marah, dan arah kemarahan adalah kawasan Yogyakarta. Ini ditunjukkan oleh arah gambar Mbah Petruk yang menghadap Selatan.

Soal akan datangnya bencana ke Selatan itu, sebetulnya sudah jadi bahan bergunjingan ketika status Merapi naik dari waspada ke siaga, dan semakin kencang ketika naik dari siaga ke awas. Seorang sesepuh di lereng Merapi kepada detikcom, menceritakan, mereka sedang tirakat. "Nyeyuwun kepada Gusti Allah, agar jika Merapi meletus, jangan sampai terjadi pada Sabtu Legi."

Menurut ilmu titen, jika Merepi meletus pada Sabtu Legi, dampaknya akan dahsyat. Tidak hanya letusan kecilnya beruntun yang diselingi letusan-letusan besar, tetapi letusan-letusan itu juga akan berlangsung lama. Akibatnya tentu sudah bisa diperkirakan: korban jiwa dan harta.

Namun upaya yang dilakukan oleh para sesepuh Merapi itu, termasuk Mbah Maridjan, tidak mendapatkan hasil. Setelah letusan pertama pada Selasa (26/11/2010), letusan besar terjadi pada Sabtu (30/11/2010). Jatuhnya, persis Sabtu Legi.

Ki Poleng Sudomolo, penganut ilmu Kejawen di Yogyakarta, membenarkan, perhitungan Mbah Maridjan dan para sesepuh Merapi, karena hal itu sesuai dengan hitung-hitungan penanggalan Jawa Kuno. Dalam penanggalan Jawa Kuno, Sabtu itu disebut hari ke 9 atau dalam bahasa Jawa disebut Songo. Sedangkan Legi berarti Kolo. Jadi jika digabungkan, Sabtu Legi dalam penanggalan Jawa disebut Songo Kolo. Songo Kolo ini dalam penanggalan Jawa diartikan sangkala, yakni sebuah pertanda buruk.

Dengan kata lain, jika melihat penanggalan Jawa maka jika Sabtu Legi juga terjadi letusan akan berakibat tidak baik. Sebab bencana Merapi akan berkepanjangan dan menelan korban banyak orang. "Pandangan itulah yang diyakini Mbah Maridjan. Dia sudah mengetahui kalau pada Sabtu Legi akan terjadi letusan. Itu sebabnya dia tidak mau turun gunung dan memilih tetap di rumahnya," jelas Ki Poleng.

Dr Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMB), Kementerian ESDM, tidak menyangkal adanya pengetahun atau kepercayaan-kepercayaan masyarakat pegungungan, termasuk Gunung Merapi. Mereka yang bertahun-tahun tinggal di situ, tentu mempelajari bagaimana perilaku alam, perilaku gunung. Biasanya pengetahuan atau kepercayaan-kepercayaan itu sejalan dengan temuan teknologi.

Hanya saja Surono mengingatkan, hasil analisis ilmiah terhadap kegiatan Merapi yang sudah teruji, mestinya tidak perlu diragukan lagi. PVMB sudah bekerja bertahun-tahun sehingga mempunyai banyak data yang bisa digunakan sebagai melihat dan menilai keaktifan Merapi. "Saya merasa gagal masih ada penduduk yang tidak mau turun, padahal sudah kita sampaikan peringatan." (ddg/diks)

Sumber: detik.com, Senin, 8 November 2010, 14:02 WIB

Sunday, November 7, 2010

Guru Bambu


Oleh ZAENAL ARIFIN EMKA

Ada seorang pria yang putus asa, mau meninggalkan segalanya. Ia ingin meninggalkan pekerjaan, juga hubungan berhenti hidup.

Lalu ia pergi ke hutan untuk bicara yang terakhir kalinya degan Tuhan, “Apakah Tuhan bisa memberi saya satu alasan yang baik untuk jangan berhenti hidup menyerah?”

Jawaban Tuhan sangat mengejutkan.
“Coba lihat ke sekitarmu....
Apakah kamu melihat pakis dan bambu?”

“Ya”, jawab pria itu.

“Ketika menanam benih pakis dan bambu, Aku merawat keduanya secara sangat baik.
Aku memberi keduanya cahaya,
memberikan air.
Pakis tumbuh cepat di bumi,
daunnya yg hijau segar menutupi permukaan tanah hutan. Sementara itu benih bambu tidak menghasilkan apa pun,
tapi Aku tidak menyerah.

Pada tahun kedua,
pakis tumbuh makin subur dan banyak,
tapi belum ada juga yang muncul dari benih bambu.
Tapi Aku tidak menyerah.

Di tahun ketiga,
benih bambu belum juga memunculkan sesuatu,
tapi Aku tidak menyerah.

Di tahun keempat,
masih juga belum ada apa pun dari benih bambu.
Aku tidak menyerah,” kata TUHAN.

“Di tahun kelima, muncul sebuah tunas kecil.
Dibanding dengan pohon pakis, tunas itu tampak kecil dan tidak bermakna.

Tapi, 6 bulan kemudian, bambu itu menjulang sampai 100 kaki.
Untuk menumbuhkan akar itu perlu waktu 5 tahun.
Akar ini membuat bambu kuat memberi apa yang diperlukan bambu untuk bertahan hidup.

Aku tak akan memberi cobaan yang tak sangup diatasi ciptaan-Ku,“ kata TUHAN kepada pria itu.

“Tahukah kamu,...
Di saat menghadapi semua kesulitan perjuangan berat ini, kamu sebenarnya menumbuhkan akar-akar?”

“Aku tidak meninggalkan bambu itu,
Aku juga tak akan meninggalkanmu”

“Jangan membandingkan diri sendiri dengan orang lain,” kata Tuhan.

“Bambu mempunyai tujuan yang beda dengan pakis.
Tapi keduanya membuat hutan menjadi indah”
Hidup bukan mengenai "menunggu badai berlalu", tetapi bagaimana belajar
"Mengucap syukur dalam badai...."

Cinta Suci


Oleh ADRIANNUGRAHA

Eko Pratomo Suyatno, siapa yang tidak kenal lelaki bersahaja ini? Namanya sering muncul di koran, televisi, di buku-buku investasi dan keuangan. Dialah salah seorang dibalik kemajuan industri reksadana di Indonesia dan juga seorang pemimpin dari sebuah perusahaan investasi reksadana besar di negeri ini.

Dalam posisinya seperti sekarang ini, boleh jadi kita beranggapan bahwa pria ini pasti super sibuk dengan segudang jadwal padat. Tapi dalam note ini saya tidak akan menyoroti kesuksesan beliau sebagai eksekutif. Karena ada sisi kesehariannya yang luar biasa!!!!

Usianya sudah tidak terbilang muda lagi, 60 tahun. Orang bilang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, tapi Pak Suyatno masih bersemangat merawat istrinya yang sedang sakit. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Dikaruniai 4 orang anak.

Dari isinilah awal cobaan itu menerpa, saat istrinya melahirkan anak yang ke empat. tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Hal itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari sebelum berangkat kerja Pak Suyatno sendirian memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat istrinya ke tempat tidur. Dia letakkan istrinya di depan TV agar istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya sudah tidak dapat bicara tapi selalu terlihat senyum. Untunglah tempat berkantor Pak Suyatno tidak terlalu jauh dari kediamannya, sehingga siang hari dapat pulang untuk menyuapi istrinya makan siang.

Sorenya adalah jadwal memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa menanggapi lewat tatapan matanya, namun begitu bagi Pak Suyatno sudah cukup menyenangkan. Bahkan terkadang diselingi dengan menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan penuh kesabaran dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka. Sekarang anak- anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari…saat seluruh anaknya berkumpul di rumah menjenguk ibunya– karena setelah anak-anak mereka menikah dan tinggal bersama keluarga masing-masing– Pak Suyatno memutuskan dirinyalah yang merawat ibu mereka karena yang dia inginkan hanya satu ‘agar semua anaknya dapat berhasil’.

Dengan kalimat yang cukup hati-hati, anak yang sulung berkata:

“Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak……bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu.” Sambil air mata si sulung berlinang.

“Sudah keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini, kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”. Si Sulung melanjutkan permohonannya.

”Anak-anakku…Jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi, tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian di sampingku itu sudah lebih dari cukup,dia telah melahirkan kalian….*sejenak kerongkongannya tersekat*… kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat dihargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini ?? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya seperti sekarang, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit.” Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya

Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno, merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata Ibu Suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu……

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa-apa….disaat itulah meledak tangisnya dengan tamu yang hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru.

Disitulah Pak Suyatno bercerita : “Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 anak yang lucu-lucu..Sekarang saat dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama… dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit…” Sambil menangis

”Setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya hanya dapat bercerita kepada Allah di atas sajadah..dan saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya…”BAHWA CINTA SAYA KEPADA ISTRI, SAYA SERAHKAN SEPENUHNYA KEPADA ALLAH”.

Dear my friends, that’s a true story from someone who taugh me about the important of investment three years ago. I wish i could be someone like him…to give all attention to family..i believe family is our precious thing..more than money or gold.

Sunday, October 10, 2010

Ku Ingin

Aku hanyalah sebutir debu

ketika hamparan sahara panas mengganas

Menengadah, mencari pandu firman-Mu
Pengembaraan dan kerinduan hampir tak berjejak
Tersapu ganasnya badai, lalu menghilang

Dan, aku hanya bisa berharap
dalam alunan nyanyi sunyi
Seperti Adam ketika turun ke bumi
Adakah setetes saja ilmu itu Kau beri
dalam mangkok batinku?
tentang keagungan
tentang keperkasaan
tentang kasih sayang
juga tentang lautan ilmu yang tak bertepi

Sungguh,
yang aku tahu tidaklah berarti dalam kemahabesaran-Mu
Namun, seperti pesan Nabiku
terus dan terus dalam gontai ku melangkah
menjemput tumpahan kasih
Dalam setiap ayun kaki kecilku
Dalam setiap gerak pikir dan rindu hati

Sudah kutanya
pada apa saja yang aku jumpa

pada siapa saja yang lalu lalang
Untuk mencari tahu

di mana Kau sembunyikan setetes saja ilmu-Mu

Lewat tangan-tangan lembut penyebar risalah
Kuselami samudera
dan kedalaman rahman-rahim-Mu.


Gresik, 11 Oktober 2010

By: Masshuto


Thursday, September 23, 2010

Didit H.P., Sang Pendekar Pendidikan Anak Jalanan


Oleh MARIA SERENADE SINURAT


"Belajar bukan hanya teori, melainkan soal implementasi. Ini yang dibutuhkan anak jalanan agar tidak kembali ke jalan."
-- Didit Hari Purnomo



Di mata Didit Hari Purnomo(52), pendidikan harus bisa diakses oleh siapa pun, bahkan oleh anak-anak usia belasan tahun yang tak pernah mengenal arti ”rumah” dan kasih sayang. Kesadaran ini memantiknya untuk membentuk Sanggar Alang-Alang, tempat ratusan anak jalanan di Kota Surabaya belajar tentang kehidupan.

Sejak berdiri 16 April 1999, Sanggar Alang-Alang (SAA) tetap setia pada tujuan awal, yakni menyediakan pendidikan gratis untuk anak-anak jalanan. Di SAA, anak jalanan disebut dengan anak negeri.

SAA menjadi rumah tempat makanan, seragam, ruang belajar, dan ruang bermain cuma-cuma bagi mereka. Didit menyebut SAA sebagai pendidikan berbasis keluarga.
Di sanggar, Didit menjadi bapak. Istrinya, Budha Ersa, sebagai mama. Sebanyak 187 anak usia 6-17 tahun di SAA adalah bagian dari keluarga besar. Untuk menggantikan biaya sumbangan pembinaan pendidikan (SPP), Didit hanya menuntut satu hal dari anak-anaknya, yakni bersikap sopan.

Setiap masuk sanggar, anak-anak selalu dalam kondisi bersih. Mereka menyalami dan memeluk satu sama lain dan menghindari kata-kata kasar dan jorok. Bagi Didit, ini bagian dari pendidikan perilaku.

”Jika setiap hari selama sebelas tahun, seorang anak jalanan bisa diajar berperilaku sopan, tentu perilakunya akan berubah,” ujar pensiunan pegawai TVRI ini.

Pendidikan perilaku hanya satu dari pelajaran yang diajarkan di SAA. Meskipun Matematika diajarkan, SAA menitikberatkan pada ilmu-ilmu praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan anak jalanan.

”Belajar bukan hanya teori, melainkan soal implementasi. Ini yang dibutuhkan anak jalanan agar tidak kembali ke jalan,” katanya.

Hingga kini, setidaknya empat program sudah dijalankan, yakni bimbingan belajar anak sekolah dan putus sekolah, bimbingan anak berbakat, bimbingan anak perempuan rawan, dan bimbingan ibu dan anak negeri.

Pendidikan praktis
Keempat program ini difokuskan pada pengetahuan praktis. Misalnya saja, bimbingan anak perempuan rawan yang ditujukan untuk anak jalanan perempuan dan pekerja rumah tangga.

Setiap tiga hari dalam seminggu, tim SAA menyambangi anak jalanan untuk mengajari mereka tentang kesehatan reproduksi, cara membela diri, dan cara melaporkan kepada polisi jika dilecehkan secara seksual.

Lain lagi dengan program Bimbingan Ibu dan Anak Negeri (BIAN). Program ini lahir setelah Didit melihat realitas di lapangan yang keras dan suram. Kemiskinan dan kebodohan telah merenggangkan hubungan orangtua dan anak. Imbasnya, keluarga terpecah, anak-anak pun lari ke jalanan.

Banyak anak yang dieksploitasi oleh orang tuanya untuk bekerja di jalanan. Dalam kaitan ini, BIAN ditujukan untuk anak usia taman kanak-kanak dan ibunya.
Sebagai pengganti kursi, anak-anak duduk di pangkuan ibundanya. Dengan demikian, bukan hanya anak yang belajar, ibu juga belajar meluangkan waktu untuk anaknya.

”Kami berharap, dengan demikian tak ada lagi ibu yang menyuruh anaknya mencari uang di jalan,” kata Didit.

Di luar kelas, anak-anak bisa berlatih alat musik, tari, dan juga tinju. Mereka yang berbakat akan diikutkan kejuaraan tingkat daerah, bahkan nasional. Jika sudah berusia 18 tahun, mereka harus meninggalkan sanggar dan memulai kehidupannya sendiri.

”Jika mereka kembali ke jalan, artinya mereka tidak lulus. Kalau tidak, berarti lulus,” kata Didit.

Pemerintah Kota Surabaya juga mengapresiasi langkah Didit. Apalagi, program rumah singgah Dinas Sosial lebih banyak gagalnya. Program yang dibuat lembaga swadaya masyarakat pun hanya berjalan ketika ada dana.

”Selama ini anak jalanan hanya jadi objek proyek LSM, sementara miliaran rupiah untuk rumah singgah terbuang percuma,” kata Didit.

SAA juga menjadi rujukan bagi mahasiswa dan dosen yang meneliti metode pendidikan anak jalanan.

Kasih sayang
Bertahan 11 tahun, Didit menyebut satu kunci keberhasilannya. ”Kasih sayang,” kata kakek satu cucu ini.

Kasih sayang adalah pendidikan hidup yang terenggut dari kehidupan anak jalanan. Mereka dialpakan dan dianggap sebagai sampah masyarakat. Penilaian ini bagi Didit salah besar. Dia membuktikannya 11 tahun lalu ketika menyambangi Terminal Joyoboyo, tempat berkumpul anak jalanan.

Di balik penampilan anak-anak yang kumuh dan kotor, tersimpan jiwa anak-anak yang mendamba rumah dan perhatian. Jika didekati baik-baik, mereka akan membuka diri.
Hati Didit tergugah melihat anak-anak yang menggelandang sejak kecil. Ada juga anak-anak dari tukang cuci, tukang becak, pencopet, dan kernet bus yang tak pernah diperhatikan.

Di balik toilet Terminal Joyoboyo itulah perjumpaan pertamanya dengan dunia anak jalanan. Pelan tapi pasti, pertemanan mereka terajut, dan setiap malam Didit mulai mengajari banyak hal. Banyak orang menamai mereka ”komunitas sekolah malam”.

Setahun lebih kegiatan itu berjalan hanya bermodalkan niat baik dan sebagian gaji Didit. Barulah tahun 1999, berkat derma dari orangtua murid Surabaya International School, Didit mendapat sumbangan Rp 5 juta. Uang itu dia gunakan untuk mengontrak rumah dua tahun di belakang Terminal Joyoboyo.

Untuk menyokong kehidupan anak-anak, SAA bergantung pada donasi pengusaha. Namun, kini SAA memiliki pendapatan dengan mengisi acara musik dan tari di sekolah.
Yang paling membanggakan bagi Didit, beberapa alumni SAA berhasil berdikari. Adi Hartono, misalnya, diterima di Universitas Negeri Surabaya lewat jalur prestasi. Adi yang enam tahun tinggal di SAA hanya mengikuti kejar paket A dan B, kemudian mendaftar ke sekolah menengah kejuruan.

”Adi yang sebelumnya anak jalanan bisa diterima di pendidikan formal. Saya senang luar biasa,” kata Didit.

Ada lagi, Mu’ad (18). Dua tahun lalu, Kompas bertemu Mu’ad yang mengaku tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Dia buta huruf hingga usia 16 tahun. Namun, kini Mu’ad menjelma menjadi pemuda percaya diri yang terampil menggunakan komputer.

Didit selalu mengibaratkan anak jalanan seperti alang-alang. Dia kian optimistis, alang-alang binaannya memiliki tempat sendiri di masyarakat. (*)

Sumber: kompas.com, Rabu, 9 Juni 2010

Thursday, August 26, 2010

Rasanya Baru Kemarin Versi VI


Oleh A. MUSTOFA BISRI

rasanya
baru kemarin bung karno dan bung hatta
atas nama kita menyiarkan dengan seksama
kemerdekaan kita di hadapan dunia
rasanya
gaung pekik merdeka kita
masih memantul-mantul
tidak hanya dari mulut-mulut jurkam pdi saja
rasanya
baru kemarin
padahal sudah lima puluh tiga tahun lamanya

pelaku-pelaku sejarah yang nista dan yang mulia
sudah banyak yang tiada
penerus-penerusnya sudah banyak yang berkuasa
atau berusaha
tokoh-tokoh pujaan maupun cercaan bangsa
taruna-taruna sudah banyak yang jadi
petinggi negeri
mahasiswa-mahasiswa yang dulu suka berdemonstrasi
sudah banyak yang jadi menteri

rasanya
baru kemarin
padahal sudah lebih setengah abad lamanya
negara sudah semakin kuat
rakyat sudah semakin terdaulat

pembangunan ekonomi kita sudah sedemikian laju
semakin jauh meninggalkan pembangunan akhlak
yang tak kunjung maju
anak-anak kita sudah semakin mekar tubuhnya
bapak-bapak kita sudah semakin besar perutnya

rasanya baru kemarin
padahal sudah lima puluh tiga tahun kita merdeka
kemajuan sudah menyeret dan mengurai
pelukan kasih banyak ibu-bapa
dari anak-anak kandung mereka
kemakmuran duniawi sudah menutup mata
banyak saudara terhadap saudaranya

daging sudah lebih tinggi harganya
dibanding ruh dan jiwa
tanda gambar sudah lebih besar pengaruhnya
dari bendera merah putih dan lambang garuda
pejuang marsinah sudah berkali-kali
kuburnya digali tanpa perkaranya terbongkar
preman-preman sejati sudah berkali-kali
diselidiki dan berkas-berkasnya selalu terbakar

rasanya
baru kemarin
padahal sudah lebih setengah abad kita merdeka
pahlawan-pahlawan idola bangsa
seperti diponegoro
imam bonjol dan sisingamangaraja
sudah dikalahkan oleh ksatria baja hitam
dan kura-kura ninja

banyak orang pandai sudah semakin linglung
banyak orang bodoh sudah semakin bingung
banyak orang kaya sudah semakin kekurangan
banyak orang miskin sudah semakin kecurangan

rasanya
baru kemarin

banyak ulama sudah semakin dekat kepada pejabat
banyak pejabat sudah semakin erat dengan konglomerat
banyak wakil rakyat sudah semakin jauh dari umat
banyak nurani dan akal budi sudah semakin sekarat

( hari ini ingin rasanya
aku bertanya kepada mereka semua
sudahkah kalian
benar-benar merdeka ? )

rasanya
baru kemarin

tokoh-tokoh angkatan 45 sudah banyak yang koma
tokoh-tokoh angkatan 66 sudah banyak yang terbenam

rasanya
baru kemarin

negeri zamrud katulistiwaku yang manis
sudah terbakar habis
dilalap krisis demi krisis
mereka yang kemarin menikmati pembangunan
sudah banyak yang bersembunyi meninggalkan beban
mereka yang kemarin mencuri kekayaan negeri
sudah meninggalkan utang dan lari mencari selamat sendiri

rasanya baru kemarin
padahal sudah lebih setengah abad kita merdeka

mahasiswa-mahasiswa penjaga nurani
sudah kembali mendobrak tirani
para oportunis pun mulai bertampilan
berebut menjadi pahlawan
politisi-politisi pensiunan
sudah bangkit kembali
partai-partai politik sudah bermunculan
dalam reinkarnasi

rasanya
baru kemarin

tokoh-tokoh orde lama sudah banyak yang mulai menjelma
tokoh-tokoh orde baru sudah banyak yang mulai menyaru

rasanya
baru kemarin

pak harto sudah tidak menjadi tuhan lagi
bayang-bayangnya sudah berani persi sendiri
mester habibie sudah memberanikan diri
menjadi presiden transisi
bung harmoko sudah tak lagi
mengikuti petunjuk dan mendominasi televisi
gus dur muali siap madeg pandita
ustadz amin rais sudah siap jadi sang nata
mbak mega sudah mulai agak lega
mas surjadi sudah mulai jaga-jaga

( hari ini rasanya
aku bertanya kepada mereka semua
bagaimana rasanya merdeka )

rasanya baru kemarin
padahal sudah lima puluh tiga tahun kita merdeka

para jendral dan pejabat sudah saling mengadili
para reformis dan masyarakat sudah nyaris tak terkendali

mereka kemarin yang dijarah
sudah mulai pandai meniru menjarah
mereka yang perlu direformasi
sudah mulai fasih meneriakkan reformasi
mereka yang kemarin dipaksa-paksa
sudah mulai berani mencoba memaksa
mereka yang kemarin dipojokkan
sudah mulai belajar memojokkan

rasanya baru kemarin
orangtuaku sudah lama pergi bertapa
anak-anakku sudah pergi berkelana
kakakku sudah menjadi politikus
aku sendiri sudah menjadi tikus

( hari ini
setelah lima puluh tiga tahun kita merdeka
ingin rasanya aku mengajak kembali
mereka semua yang kucinta
untuk mensyukuri lebih dalam lagi
rahmat kemerdekaan ini
dengan mereformasi dan meretas belenggu tirani
diri sendiri
bagi merahmati sesama )

rasanya baru kemarin
ternyata sudah lima puluh tiga tahun kita merdeka

(ingin rasanya
aku sekali lagi menguak angkasa
dengan pekik yang lebih perkasa :
merdeka !)

KH A. Mustofa Bisri adalah alumni Universitas Al-Azhar, Kairo. Kini selain mengurus pesantren Roidlatuth Tholibien, Rembang, Jawa Tengah, juga menjadi penyair dan pelukis yang andal.

Sunday, August 22, 2010

Memanggil-Mu


Jauh kaki-kaki kerdil melangkah
menuju ladang savana
Menari bersama kuda jinak yang merumput
Sampai lelah terasa
Sampai tak berjejak

Jauh tangan-tangan kecil merengkuh
menggapai bayang-bayang-Mu
yang terus mengejar
ketika banyak abdi terlelap merebah
Sampai gemetar terasa
Sampai lunglai

Dan, kupanggil nama-Mu,
terus dan terus
dalam nyanyi sunyi
dalam hamparan panjang sajadah-Mu

Friday, August 20, 2010

Kuingin


Kuingin mendekap-Mu
Dalam hening
ketika hamparan mahakarya
berebut menggodaku
dan mengajak meninggalkan-Mu
Maka, sebelum mereka mengunyah lembut tubuhku
mendekat dan gamgamlah aku
dalam keagungan dan keperkasaan-Mu
dalam belailembut rahman-rahim-Mu

Thursday, August 19, 2010

Sajak Orang Lapar


Oleh W. S. RENDRA

kelaparan adalah burung gagak
yang licik dan hitam
jutaan burung-burung gagak
bagai awan yang hitam

o Allah !
burung gagak menakutkan
dan kelaparan adalah burung gagak
selalu menakutkan
kelaparan adalah pemberontakan
adalah penggerak gaib
dari pisau-pisau pembunuhan
yang diayunkan oleh tangan-tangan orang miskin

kelaparan adalah batu-batu karang
di bawah wajah laut yang tidur
adalah mata air penipuan
adalah pengkhianatan kehormatan

seorang pemuda yang gagah akan menangis tersedu
melihat bagaimana tangannya sendiri
meletakkan kehormatannya di tanah
karena kelaparan
kelaparan adalah iblis
kelaparan adalah iblis yang menawarkan kediktatoran

o Allah !
kelaparan adalah tangan-tangan hitam
yang memasukkan segenggam tawas
ke dalam perut para miskin

o Allah !
kami berlutut
mata kami adalah mata Mu
ini juga mulut Mu
ini juga hati Mu
dan ini juga perut Mu
perut Mu lapar, ya Allah
perut Mu menggenggam tawas
dan pecahan-pecahan gelas kaca


o Allah !
betapa indahnya sepiring nasi panas
semangkuk sop dan segelas kopi hitam


o Allah !
kelaparan adalah burung gagak
jutaan burung gagak
bagai awan yang hitam
menghalang pandangku
ke sorga Mu

Monday, August 16, 2010

Sulitnya Berbuat Baik


oleh JAYA SUPRANA


Dahlan Iskan, bos Jawa Pos yang kini dibebani tugas sebagai Direktur
Utama PT PLN, menyatakan hasrat menggratiskan biaya listrik bagi rumah
tangga miskin di Indonesia. Alih-alih dipuji, apalagi didukung, hasrat
kemanusiaan Dirut PT PLN itu malah dicemooh oleh berbagai pihak, mulai
dari wartawan sampai anggota DPR. Bentuk cemooh juga beraneka ragam,
mulai dari muluk-muluk, mustahil, rekayasa politik, cari popularitas,
udang di balik batu, sampai tidak mendidik, bahkan merusak mental
kemandirian rakyat.

Lantaran kekuasaan Dahlan Iskan di PLN tidak semutlak seperti di Jawa
Pos, ia pun tak kuasa memaksakan kehendaknya yang sebenarnya cukup
selaras dengan harapan orang banyak, dengan kemanusiaan dan Pancasila.

Di bagian dunia yang lain, Nelson Mandela dikritik, bahkan diancam
akan kehilangan dukungan politik masyarakat kulit hitam, ketika ingin
mengajak masyarakat kulit putih ikut terlibat secara langsung dalam
pembangunan negara dan bangsa Afrika Selatan. Namun, Nelson Mandela
mampu memaksakan kehendaknya karena saat itu ia kepala negara Afrika
Selatan.

Demikian pula Ibu Theresa karena independensinya mampu memaksakan
kehendaknya untuk menolong kaum miskin dan papa di Kolkata, India,
meski ditentang oleh mereka yang mencurigai pengabdian kemanusiaan Ibu
Theresa. Ada yang mengatakan, apa yang dilakukan wanita itu hanyalah
kedok penyebaran agama Katolik. Ada pula sebaliknya, kritik yang
menyayangkan kenapa Ibu Theresa tidak mengatolikkan kaum miskin dan
papa yang sudah susah payah ditolongnya.

Kebaikan yang Dilawan

Lain halnya dengan nasib Bupati Banyuwangi periode 2005-2010 Ratna Ani
Lestari yang ingin memaksakan kehendaknya menggratiskan biaya
pendidikan. Sebuah niat baik mengikuti keberhasilan yang sama dari
Bupati Jembrana Prof Dr I Gde Winasa yang kebetulan suaminya. Namun,
ternyata hasrat atau niat baik itu justru menjadi bahan serangan
oposisi lawan-lawan politik Ratna.

Begitu pun sang suami, Bupati Jembrana Prof I Gde Winasa, gagal
memenangi pemilu menjadi Gubernur Bali. Tidak lain karena program
penggratisan pelayanan kesehatan dan pendidikan di Kabupaten Jembrana
yang tentu disambut baik oleh rakyat banyak, tetapi ternyata
habis-habisan ditentang oleh mereka yang kehilangan sumber nafkah.

Tampaknya memang sebuah keniscayaan, selalu ada kreativitas untuk
menolak tindakan mulia yang berangkat dari sebuah niat baik. Dalam
soal niat menggratiskan biaya pendidikan di atas, muncul argumen
penentang bahwa usaha tersebut tidaklah mendidik rakyat untuk memiliki
mental mandiri. Jika demikian, semestinya kita mengasihani anak-anak
Jerman yang tidak perlu membayar biaya sekolah atau dipaksa membeli
pakaian seragam. Anak-anak Jerman semestinya sangat dependen atau
selalu tergantung.

Tidak Mudah

Dalam skala lebih kecil, saya pun memiliki pengalaman serupa di bidang
pelayanan kesehatan. Ketika masih menjadi ketua umum sebuah yayasan
rumah sakit swasta di Jawa Tengah pada 1980-an, saya berniat dan
mengusulkan program untuk menggratiskan pelayanan kesehatan bagi kaum
miskin di rumah sakit yang saya pimpin itu. Namun, alih-alih didukung,
saya malah dituduh tidak realistis, tidak mendidik, tidak profesional,
cari popularitas, bahkan korup.

Karena kebetulan memiliki kekuasaan dan kebetulan juga didukung oleh
keluarga, teman, para dokter, perawat, dan pabrik obat yang masih
memiliki nurani kemanusiaan, saya berhasil. Kelas Bakti di rumah sakit
tersebut akhirnya didirikan untuk memberikan pelayanan dan perawatan
rumah sakit gratis bagi para pasien yang lemah ekonomi. Sayang, ketika
masa jabatan tersebut selesai, Kelas Bakti langsung dibubarkan oleh
pengurus yayasan berikutnya. Katanya, kelas itu tidak mendidik, tidak
sesuai dengan profesionalisme manajemen rumah sakit yang baik dan
benar.

Terus terang saya merasa iri dan malu kepada Muhammadiyah yang kini di
Jakarta terbukti berhasil mendirikan bukan hanya kelas di dalam sebuah
rumah sakit, tetapi justru sebuah rumah sakit yang memberikan
pelayanan kesehatan gratis kepada kaum miskin dan papa.

Tentunya tidak mudah mendapatkan penjelasan sosio-kultural untuk
situasi mental publik yang menyulitkan terlaksananya niat baik,
sebaliknya memudahkan terselenggaranya niat jahat. Boleh jadi karena
semakin masifnya perbuatan jahat atau tidak baik kita lakukan, membuat
kita kemudian menjadi lebih mudah menerimanya sebagai kelumrahan.
Jangan-jangan juga sebagai bagian dari kebaikan.

Mental itu berkembang, kemudian menjadi semacam defends mechanism
untuk melindungi ketidakbaikan dan kejahatan kita sendiri. Karena itu,
dibutuhkan sebuah sikap mental baru yang terarah dan terpimpin untuk
membalik kecenderungan di atas. Karena peradaban yang memelihara
manusia, dan mengembangkannya, sesungguhnya adalah peradaban yang
digerakkan oleh niat baik. Sudahkah kita?


Penulis adalah Komponis, Pendiri Muri, dan Pemerhati
Masalah Kemasyarakatan

Sumber: Kompas 7 Agustus 2010

Blog Archive